Scarlet Yang Berubah Warna

91 31 35
                                        


“Kau tahu impian terbesarku, kan, Rey?”

Di lorong panjang dengan nuansa putih yang sendu, ditemani aroma antiseptic yang beterbangan. Sepasang anak muda duduk di atas kursi tunggu yang berdampingan.

Saling menggenggam tangan, tapi tak bertatapan. Malahan menatap dinding putih yang jaraknya dua meter di depan mereka. Padahal tak ada apa-apa di sana. Hanya ada bayang dari pikiran mereka masing-masing.

“Impian kita sama, Aeelin. Bagaimana aku bisa lupa,” sahut si lelaki dengan gerak bibir yang pelan.

Obrolan mereka telah berlangsung tidak kurang dari lima belas menit, tapi hanya dua kalimat itu saja yang terdengar sedari tadi.

Ditambah satu lagi yang menjadi penutup dari gadis yang tadi disebut sebagai Aeelin oleh si laki-laki. Sebelum akhirnya seorang perawat yang ramah datang dan meminta mereka memasuki ruangan.

“Aku harap impian kita tercapai.”

Sayang seribu kali sayang, kalimat itu hanya andai yang tak diiyakan oleh Tuhan. Takdir bicara lain, semesta merencanakan hal tak terduga. Terlalu mempermainkan anak manusia yang penuh dengan harap sepanjang hidupnya.

Di depan mereka, dokter muda dengan jas kebanggaan yang baru bisa didapatkan setelah bertahun lamanya memakan buku tebal, menunjukkan selembar kertas yang mampu meruntuhkan dunia.

Bukan dunia untuk seluruh umat manusia, hanya dunia milik Aeelin dan Rey saja.

“Semuanya baik-baik saja, kecuali fakta bahwa ada kanker yang tumbuh di rahim Ibu Aeelin dan itu membuatnya memiliki kemungkinan kecil untuk bisa mengandung dan melahirkan.”

Apa lagi yang bisa diharapkan? Impian terbesar dalam hidupnya bahkan tak bisa dicapai. Atau mungkin, memang tak pernah ada impiannya yang tercapai.

Sejak masa sekolah, atau jauh sebelum itu, saat diri masih kecil dan bisa ditimang oleh sang ibu, semua yang ia impikan tak pernah menjadi kenyataan.

Ia bermimpi untuk bisa bertemu dan bermain dengan ayahnya, tapi ternyata badai besar di tengah laut malah membuat genangan air besar itu menjadi makam ayahnya.

Lalu, impiannya berubah. Dia ingin menjadi dokter handal dan menyembuhkan penyakit ibunya. Namun, hal itu juga tidak tercapai. Dia tidak menjadi dokter, bahkan ibunya pergi sebelum dirinya bisa mengenyam pendidikan dokter.

Hal terakhir yang bisa ia impikan adalah menikah dan memiliki anak. Dia ingin menjadi sebaik ibunya, mengenang sosok itu dalam dirinya di masa yang akan datang.

Lalu apa sekarang? Itu adalah harapan terakhir yang bisa ia panjatkan dan semesta kembali menertawai kegagalannya.

Dia tak bisa menikah dengan lelaki yang dia cinta dan tak juga bisa mendapatkan seorang anak.

Orang tua Rey hanya akan merestui anak semata wayang mereka menikahi gadis yang mampu memberikan keturunan untuk keluarga mereka. Jelas itu bukan dirinya setelah fakta terkuak tentang kanker di rahimnya.

Apakah dia dilahirkan hanya untuk menjadi seorang yang selalu gagal?

Sekarang kegagalannya yang lain adalah melihat bagaimana Rey berjalan di altar yang suci dengan seorang gadis di sampingnya. Dulunya itu adalah tempat yang ia bayangkan, tapi teryata takdir itu bukan untuknya.

“Semua orang menikmati hidup dengan cara mencapai impian. Hanya aku saja yang tidak diberikan kesempatan,” gumamnya sepulang dari pernikahan kekasih yang sekarang sudah menjadi mantan.

Sambil menunggu bis melintasi halte tempatnya duduk, lebih baik menikmati senja yang menguning di pojok langit. Membiaskan cahaya yang memantulkan kerlap-kerlip indah pada kaca jendela atau genangan air di tengah jalan.

The Queen Of AccismusMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon