Di pagi yang cerah telah tiba saatnya untuk memulai pembelajaran tatap muka di sekolah secara langsung. Cahaya matahari yang muncul di balik jendela kamar membuatku bersemangat dan segera bangun untuk mandi dan bersiap untuk turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarga dan bergegas menuju ke sekolah.
Sebelumnya perkenalkan namaku Tiffani Ana Azizah, biasa dipanggil Ana oleh teman dan juga keluargaku. Aku saat ini duduk di bangku kelas 11 di SMA Harapan Bangsa. Aku sangat senang sekali karena bisa bersekolah di SMA Harapan Bangsa karena hal itu juga keinginan terbesarku untuk bersekolah disana.
Aku sangat antusias sekali untuk menyambut sekolah tatap muka ini karena setelah sekian lama sekolah secara online dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan karena penyebaran virus Covid-19.
Setelah sampai depan gerbang sekolah, aku segera turun dari mobil dan berjalan menuju papan denah lokasi untuk mencari letak kelasku. Setelah beberapa saat akhirnya aku menemukan lokasi kelasku dan bergegas untuk mencari nya. Ku lewati lorong – lorong dan sesekali bertanya kepada orang – orang disekitarku juga.
Hingga akhirnya aku menemukannya dan segera masuk untuk memilih tempat duduk yang akan aku tempati. Aku duduk di bangku nomor dua dari depan dan memutuskan untuk bermain handphone sambil menunggu teman – teman yang lainnya datang. Aku menunggu salah satu temanku yang bernama Mita untuk duduk sebangku denganku karena sejak kelas 10 kami sudah dekat dan sering bermain bersama. Lalu tak lama Mita datang dan duduk disebelahku. Kami berdua sangat senang karena bertemu kembali dan langsung bercerita banyak hal hingga bel pelajaran pertama sudah berbunyi.
Tak lama wali kelas kami datang tidak sendirian, beliau bersama seorang siswi menuju ke kelas. Dan setibanya dikelas, “Okey anak – anak selamat pagi semuanya, maaf ibu telat masuk ke kelas kalian dikarenakan ada suatu kepentingan dan oh ya disini kalian memiliki teman baru yang datang dari kota lain, silahkan perkenalkan diri kepada teman – teman yang lain” ucap bu Ani kepada anak – anak dikelas. Aku merasa bahwa sebelumnya aku telah mengenal anak tersebut, meskipun sedikit ada keraguan karena wajahnya yang menggunakan masker. “Baik teman – teman perkenalkan namaku Anandita Safa Amanda, sebelumnya aku bersekolah di SMA Negeri 5 Surabaya dan alasanku bersekolah disini adalah karena mengikuti pekerjaan orang tuaku, semoga kita bisa berteman baik untuk kedepannya dan terimakasih semua” ucap anak itu sambil menundukkan kepalanya.
Seketika aku langsung terkejut karena mendengar nama dan juga suaranya. Aku jelas – jelas mengenal suara itu dengan baik dan jelas. Yah benar saja ia adalah Dita sahabatku ketika kami masih kecil dan berpisah karena ayahnya adalah seorang tentara yang sering dipindahkan ke daerah apapun untuk pelaksanaan tugas. Aku sangat yakin sekali ia adalah sahabat masa kecilku.
Setelah itu ibu Ani pun mempersilahkan Dita untuk duduk di bangku yang masih tersisa dan tepat di belakangku bangku kosong yang tersisa. Ia segera menuju bangku tersebut dan duduk dibelakangku. Pelajaran sudah dimulai dengan normal hanya saja terdapat pengurangan jam yang diberikan dibandingkan dengan jam sebelum masa pandemi ini.
Waktu istirahat pun tiba dan Mita mengajakku untuk pergi ke kantin dan kami berdua berjalan menuju kantin. Di kantin, aku memesan nasi ayam geprek dan es milo sedangkan Mita memesan nasi goreng dan es jeruk. Kami duduk di bangku yang ada sudah disediakan dan makan bersama. Ketika ditengah perjalanan kami melahap makanan, aku terkejut bahwa Dita sedang duduk di sebelahku karena kebetulan bangku sebelahku masih kosong. Mita yang menyadari hal itu langsung saja menyapa dan berkenalan dengan Dita. Dita lalu menoleh ke Mita dan juga ke arahku dan seketika ia langsung tersenyum. Aku yang hanya diam karena canggung, memutuskan untuk melanjutkan menghabiskan makananku dan langsung bergegas ke kelas tanpa menunggu Mita selesai makan.
Setelah sampai dikelas, tak lama kemudian Mita datang bersama Dita. Mita yang langsung duduk dan berbisik sembari bertanya kepadaku mengapa sikapku begitu dingin dan acuh kepada Dita padahal kami barusaja bertemu. Disana aku berniat akan menjelaskannya kepada Mita tetapi bel pelajaran sudah berbunyi dan saatnya pelajaran Bahasa Indonesia yang kebetulan dilaksanakan di perpustakaan sekolah. Ditengah – tengah pembelajaran Mita tetap saja menanyakan alasan kejadian di kantin tadi pagi. Aku yang meng-iyakannya memutuskan untuk menceritakan hal yang sebenarnya.
Disitu aku menjelaskan alasanku yakni karena saat kecil aku dan Dita sangat dekat, kami bahkan bersahabat dan sering menghabiskan waktu bersama. Kami sering pergi bersama, bermain bersama, bahkan menginap secara bergantian pun juga sering kami lakukan. Hingga suatu ketika dimana saat aku memiliki sebuah boneka yang bagus hadiah dari papa dan mama atas kemenanganku dalam lomba bernyanyi. Boneka tersebut sangat cantik, indah, dan memiliki sebuah arti yang begitu besar bagiku. Hingga pada suatu hari saat Dita bermain ke rumahku, kami bermain di kamarku dan ia melihat boneka tersebut dan pandangannya seakan ingin memiliki boneka cantik tersebut.
Ia bercerita bahwa ia juga ingin memiliki boneka seperti itu dan akupun menjelaskannya bahwa boneka itu hanyalah milikku dan hadiah dari papa dan mama. Aku merasa kasian kepada Dita pada saat itu dan memiliki pikiran untuk meminjamkannya selama sehari kepada Dita. Dan akhirnya boneka tersebut dipinjam dan dibawa pulang oleh Dita selama satu hari saja.
Dan pada hari berikutnya ketika aku meminta boneka itu kembali, Dita malah membuat alasan bahwa boneka tersebut telah hilang dan tak tahu dimana. Aku pun merasa sangat marah dan juga kesal atas apa yang dilakukan oleh Dita diwaktu itu. Aku kembali ke rumah dan menangis sejadi – jadinya karena boneka kesayanganku telah dihilangkan oleh sahabatku.
Sejak saat itu aku mulai menjauhi dan membenci Dita atas perilakunya kepadaku yang membuatku begitu sangat kecewa dan marah. Dan pada beberapa bulan kemudian Dita dan keluarganya pindah keluar kota untuk urusan pekerjaan sang ayah yang memang pada saat itu dipindah tugaskan di Surabaya dan kami pun tidak bertemu hingga baru saja tadi pagi kami dipertemukan kembali.
Aku menjelaskan dengan panjang dan lebar kepada Mita, tetapi Mita malah tertawa terbahak – bahak dan tersenyum atas apa yang aku ceritakan. Ia menyabutku sangat konyol pada saat itu. Ia menyebutku konyol karena hanya masalah boneka saja aku sampai – sampai menjauhi Dita dan merasa canggung hingga saat ini.
Memang kejadian itu sudah sangat lama terjadinya, tetapi untuk ingatan semua itu sangatlah tetap membekas di hatiku sampai saat ini. Mita bertanya kepadaku apakah saat ini aku masih tetap memiliki rasa benci dan ingin menjauhi Dita karena masalah masa kecil yang seharusnya bisa diselesaikan dengan baik. Aku pun menjawabnya bahwa sebenarnya perasaan itu sudah hilang karena jarak yang sudah begitu lama dan berlalu, tetapi hanya saja jika saat ini masih muncul perasaan canggung yang begitu besar jika ingin berbicara lagi dengan Dita.
Mita pun memiliki ide bahwa sepulang sekolah mereka akan berbicara bersama mengenai permasalahan tersebut. Dan ketika bel pulang sekolah sudah berbunyi maka Mita langsung saja menarik Dita dan mendudukkannya disebelahku.
Aku dan Dita pun pada saat itu hanya bisa diam dan saling menatap. Tak disangka Dita pun langsung memelukku dan berbisik bahwa ia meminta maaf atas perlakuannya beberapa tahun yang lalu kepadaku yang membuatku kecewa. Hingga hubungan kami saat itu mulai rusak dan kacau. Aku pun seketika ikut menangis dan terharu atas apa yang dilakukan Dita pada saat itu aku memaafkannya dan kami pun tetap dalam kondisi saling berpelukan.
Mita yang melihat kami berdua berpelukan sangat senang sekali karena akhirnya aku dan Dita bisa membaik dan bersahabat kembali. Aku yang berterimakasih kepada Mita atas sarannya untuk memberikan ruang bicara dengan Dita berpikiran untuk mengajak Mita sekalian ikut bersahabat bersama kami. Mita dan Dita yang mendengar hal itu sontak saja terkejut dan langsung meng-iyakannnya.
Dan akhirnya aku, Dita, dan Mita pun bersahabat dan menghabiskan waktu bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
3 Serangkai
Short StoryMengisahkan tentang dua sahabat masa kecil yang dipertemukan kembali tetapi dengan keadaan dan situasi yang berbeda lalu disatukan oleh satu orang yang mengembalikan semuanya dengan begitu baik dan akhirnya mereka bertiga bersahabat bersama...
