"Kalo mau mati mending jangan disini," lontar siswa di belakang ku.
"Kamu jangan ganggu aku, udah bel. Masuk a-"
"Kalo kamu jatuh dari sini, yang ada cuman patah tulang. Mati enggak, sakit seumur hidup."
Aku terdiam sesaat. Betul juga, aku berdiri diatas bangunan yang hanya berlantai dua. Aku pun berbalik, melihat dia sedang menatap langit.
"Yang nama nya hidup, pasti ga ada yang lurus. Semua punya masalah. Jangan mengira hanya cuman kamu yang memiliki masalah," ujar Dia.
"Kamu bukan aku! Kamu ga tau rasa nya jadi aku! Ayah udah ga sayang sama aku dan milih perempuan sialan itu! Aku takut ibu ku akan sedih, aku takut mereka berpisah. Aku takut, ibu aku depresi. Kamu pasti tidak mengerti apa yang aku ucapkan."
Tubuh ku jatuh dan tangan ku menutup muka ku. Air mata yang tertahan sudah tidak bisa membendung isi nya. Aku melihat bayangan dirinya berdiri tepat depan ku. Dia menunduk, melihat diriku yang begitu menyedihkan dan mengusap rambut ku.
"Bunuh diri, bukan cara yang tepat. Pikirkan, apa yang akan terjadi jika kamu sudah tidak ada. Yang ada, masalah semakin lebih ruwet. Coba kamu tenang, tunggu pikiran mu jernih. Banyak di luaran sana yang berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup."
Pesan itu selalu ku ingat. Berkat Dia, aku masih hidup. Menurut aku, rencana masa itu adalah hal bodoh yang pernah aku rencanakan. Ternyata, aku bisa melewati segala rintangan yang terjadi.
Setelah kejadian tersebut, aku mencari dia di seluruh sekolah. Aku masih mengingat wajah, suara, bayangan, lekuk tubuh nya dan usapan tangan. Tapi ternyata, nihil. Sama sekali tidak menemukan Dia.
Dia, aku memanggil nya dengan nama Dia.
YOU ARE READING
EQUES
Short StorySemasa aku sekolah, aku mempunyai rencana yang sangat bodoh. Lalu, dia datang kepada ku.
