1. Mountana Del Café

3 1 0
                                        

Latte yang kupesan sudah hampir habis. Sedangkan proyek kerjaanku, belum juga selesai-selesai. Konsentrasiku dialihkan ke beberapa rombongan ABG ingusan yang sedang merayakan hari bahagianya. Salah seorang dari mereka baru saja menyatakan cinta kepada kekasih pujaannya. Mereka datang lengkap dengan sejumlah kamera, lalu merekam kegiatannya melalui YouTube. Ada yang live streaming di Instagram dan live di beberapa media sosial lainnya. Mereka semua terlihat sibuk dengan masing-masing ponselnya. Banyak juga yang selfie-selfie, mamerkan kebahagiaannya di sore ini.

Aku yakin, anak-anak itu adalah para budak sosmed. Memang seperti itulah gaya hidup anak-anak jaman sekarang. Mereka disebut sebagai generasi milenial. Most of them berlomba-lomba ingin menjadi seorang public figure, minimal menjadi seorang YouTuber atau Selebgram.

Aku tidak mengatakan yang mereka lakukan itu adalah hal yang sia-sia. Aku justeru bangga melihat tekad mereka sangat kuat, bisa mandiri di usia yang masih terbilang muda. Seharusnya mereka fokus belajar saja, dan belum pantas terjun ke dunia kerjaan.

Salah!

Dunia mereka itu tidak sepenuhnya dunia kerjaan. Melainkan, dunia hiburan. I am sure, they were born from rich family.

***

Aku meneguk kopiku yang sudah mulai habis. Di sana, tinggal tersisa butiran-butiran ampasnya saja. Kulihat jam yang melingkar di tanganku, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 06 sore. Segera kulipat laptopku dan kupakai kembali jaketku. Aku harus kembali ke Villa, tempat aku nginap.

Saat aku ingin beranjak dari kursi, tiba-tiba dua gadis bocah datang menghampiriku.

“Bang, bisa minta tolong, gak?” ucap kedua gadis itu yang kira-kira berumur 20 tahunan.

“Minta tolong apa?” tanyaku sambil meletakkan kembali tas ransel yang berisi laptop ke atas meja.

“Tolong fotoin kami berdua, dong, Bang. Soalnya, temen-temen kami pada sibuk semua. Gak ada yang mau motoin,” pinta gadis berlesung pipi itu sambil memasang mimik muka setengah monyong.

Aku tersenyum melihat tingkahnya. Aku jadi teringat gadis kecilku di rumah. Ketika ia menginginkan sesuatu, ia pasti pasang mimik muka seperti Si Gadis Lesung Pipi ini. Aku pikir, memang seperti itulah senjata para wanita untuk menaklukkan 'penolakan' dari para lelaki.

“Please, Bang ...,” pintanya sekali lagi.

“Oh, sure ....” Aku tersentak, seolah baru tersadar dari lamunan.

Setelah itu, aku mengulurkan tanganku, mencoba meraih ponsel yang diberikan oleh  gadis itu. Aku mengangkat dan mengarahkan kamera ponsel itu ke hadapan mereka berdua. Belum juga kusentuh layarnya, mereka langsung berlari kecil keluar dari kafe itu.

Oh, shit!

Aku baru sadar, tidak mungkin mereka minta difoto, kalo bukan ingin berfoto di outdoor. Mengingat pemandangan cafe ini sungguh sangat indah. Aku tidak punya pilihan lain, kecuali menyusul kedua gadis itu.

Mountana Del Café, tempat di mana saat ini aku berada, menghabiskan waktu liburku sendirian.

Mountana Del Café adalah salah satu kafe terpopuler di pulau Dewata, Pulau Bali. Area outdoor-nya sangat pas sebagai tempat berfoto dengan latar belakang Gunung Batur. Di kafe ini, kita juga dapat menikmati indahnya pemandangan bukit dan danau. Apalagi di waktu-waktu sore begini. Bagian balkonnya dihiasi rerumputan yang estetik, semakin menambah keindahan kafe ini. Desainnya yang modern, dengan bagian dinding dari kaca yang besar, membuat cahaya alami bisa masuk dengan mudah, menembus area indoor kafe. Membuat area indoor ataupun outdoor kafe ini menjadi sangat cantik.

Di bagian luar juga terdapat meja bar dengan payung-payung besar yang Instagramable. Menunya beragam, tentu saja ada aneka kopi manual brew, latte, dan menu spesial lainnya. Sementara untuk makanannya, kebanyakan yang ditawarkan adalah menu sarapan. Seperti avocado on toast, eggs benedict, baked eggs, croissant, dan masih banyak lagi.

Satu cekrekan, dua cekrekan, tiga cekrekan, sampai aku tidak bisa menghitung, berapa jumlah gambar yang sudah kuabadikan di dalam ponsel itu.

Laki-laki dan perempuan sangatlah berbeda. Laki-laki hanya butuh dua atau tiga kali cekrekan, itu sudah cukup. Sedangkan perempuan tidak. Mereka membutuhkan sekitar 20 sampai 50 cekrekan, bahkan lebih. Aku sangat berpengalaman mengambil foto-foto mereka. Sebab, mantan istriku juga sama cerewetnya ketika minta difotoin.

“Makasih banyak ya, Bang,” ucap mereka sambil menggeser gambar-gambarnya yang baru saja kuabadikan itu. Sesekali mereka menengok ke arahku, memperlihatkan senyum bahagianya.

“Kalo begitu, saya duluan ya, Dek.”

“Iya, Bang. Sekali lagi, makasih banyak ya, Bang,” jawab mereka serentak.

Judul = My Girlfriend Is A Selebgram

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 20, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Pacar Selebgram (On Going)Where stories live. Discover now