01 - Senja Sore Hari

85 8 2
                                        

Walau senja indah, ia pernah menorehkan luka dalam. Walau senja dinanti, kedatangannya tidak pernah membawa pasti. Karena senja pernah menjadi saksi, bagaimana sebuah kepercayaan dipatahkan begitu saja tanpa kesengajaan.

°∆°∆°∆






Senja kala itu menjadi saksi bagaimana gadis itu tersenyum lebar. Memandang air laut yang terlihat tenang berlomba-lomba menuju ke tepian. Menyaksikan bagaimana gelak tawa tercipta karena layangan yang dimainkan berhasil terbang oleh jerih payah yang tak kunjung usai. Menjadi saksi bagaimana orang-orang berlarian hanya untuk mengejar ombak.

Ternyata bahagia sesederhana itu. Sebuah senyuman terulas di wajah ayu nya, menimbulkan lesung pipi dalam, yang saat dipandang selalu membuat candu. Kakinya ia silangkan, memejamkan mata sembari menikmati sentuhan halus angin yang berhembus dari arah selatan.

Katanya, bahagia itu selalu tentang materi. Tapi baginya, bahagia tidak lebih dari uang lima puluh ribu atau bahkan sepuluh ribu. Bahagia itu sederhana. Hanya menyaksikan anak-anak yang berlarian kesana kemari mengejar layangan mereka yang tertiup sudah lebih dari cukup. Melihat bagaimana seorang ibu yang sedang memotret putri kecilnya bersama dengan deruan ombak sebagai latar sudah mampu membuat senyuman kecil itu terbit.

Ah, dia rindu kedua orang tuanya.

Sejenak ia berdiam diri sebelum berdiri untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Sudah puas menikmati angin pantai yang selalu membuat tenang, gadis itu segera beranjak, meninggalkan sisa-sisa beban yang ada pada pikirannya.

Langkahnya pelan, atensinya masih menatap air laut yang semakin lama semakin meninggi. Ia tersenyum kembali sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.

Saat ia hendak berjalan menuju parkiran, ekor matanya menangkap sebuah pemandangan. Dilihatnya, kekasihnya sedang berdiri di dekat pohon kelapa sendirian. Gadis itu memejamkan matanya, memastikan bahwa yang ia lihat adalah sebuah kebenaran.

Kemudian ia tersenyum, berjalan mendekat ke arah lelaki yang sedang membelakanginya. Hatinya menghangat kala melihat orang yang ia rindukan kini berada dalam satu tempat yang sama.

"Arzeno!" serunya memanggil nama kekasihnya.

Lelaki itu menoleh, terkejut atas apa yang ia lihat. Nampak seorang gadis berlari kecil ke arahnya dengan membawa sandal jepit di jemari tangannya. Gadis itu tersenyum lebar, menghamburkan diri ke pelukan Arzeno, kekasihnya.

Arzeno membalas pelukan tersebut, "Sejak kapan?"

"Udah dari tadi. Kamu kesini kok nggak kabarin aku?"

Arzeno hendak menjawab, sebelum suara selembut sutra mengusik perbincangan mereka. Suara gadis yang hampir mirip dengan suara gadis yang sedang dipeluk Arzeno.

"Arze— Loh ini siapa?"

Atensi gadis itu berpindah, memandang seseorang yang berdiri di belakangnya dengan tatapan heran. Gadis itu semakin menautkan kedua alisnya, meminta penjelasan ke kekasihnya.

"Anu.. ini.."

"Gue pacarnya. Kenapa?"

Raut seseorang yang sedang mematung sendirian itu berubah, menampilkan ekspresi tidak suka. Gadis yang berada di pelukan Arzeno pun sama, memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Apa? Pacar?" Gadis itu menganga tidak percaya. Yang sedang dipeluk mengangguk mantap.

"Zen, jelasin semuanya."

Jiara, gadis yang masih setia memeluk Arzeno menatap Arzeno heran. Terlihat ekspresi lelaki itu kaku, seperti ingin menyampaikan sesuatu. Perasaannya mulai tak enak, mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi.

Hujan & NathanWhere stories live. Discover now