Gadis kecil bermata sipit itu mengusap manik yang mengalir dari mata mungilnya. Kepalanya menengadah ke atas, melihat sosok anak laki-laki hitam manis yang sudah mengulurkan tangannya. Gadis kecil itu meraih uluran tangan itu, lalu menghempaskan debu-debu yang bertengger di lututnya. Dia bangun dari jatuhnya.
"Gapapa jatoh. Gak usah nangis ya. Kan ada aku, yuk bangun lagi." kata anak laki-laki itu membantu teman kecilnya membersihkan sisa-sisa debu dari tanah yang mengotori pakaian si gadis kecil itu. Tanpa pikir panjang, gadis kecil itu kembali tersenyum. Ia merasa lega dan aman.
"Bagas, kejar aku! Wleeeee!!" tidak butuh proses yang panjang untuk gadis itu kembali ke suasana hati yang gembira. Dia sudah kembali berlarian Bersama teman kecilnya, bahkan ketika pakaiannya belum benar-benar bersih dari debu dan tanah yang menempel.
Anak laki-laki itu berlari mengejar teman bermainnya. Tak ada pemandangan yang special disana. Hanya dua anak kecil yang lugu, yang masih belajar tentang emosi-emosi sederhana. Dua anak kecil yang belum mengerti tentang perihal kompleks dalam dunia. Yang mereka pahami tak jauh dari bermain, terjatuh, bangun, dan main lagi. Mereka menikmati semua hal dengan cara yang sederhana.
"Ma, Bagas kok hari ini gak main kesini ya?" gadis kecil berkulit putih langsat itu melongo di jendela rumahnya, menunggu satu-satunya teman bermainnya yang bernama Bagas itu. Ia gelisah.
"Lho, Bagas sudah pindah dek. Bagas udah gak tinggal di ujung jalan sana lagi." Sang ibu meraih pundak anak bungsunya, mencoba memberitahu kabar yang mungkin akan mengejutkan baginya. Benar saja, wajah gadis mungil itu menegang kaget mendengar kata-kata ibunya. Ia seketika menangis.
"Kalo Bagas pindah, aku mainnya sama siapa, Ma?" Dia belum terlalu paham apa yang dia rasakan. Satu hal yang dia tau, saat ini rasa sedih sedang mampir di hatinya.
***
Aku melamun di meja kerjaku, menunggu sesi mengajarku. Sudah hampir satu jam aku duduk dengan posisi yang sama, tak berpindah sedikitpun.
"Apa kabar dia sekarang? Dimana dia berada?" Aku mendadak penasaran tentang kabarnya. Aku bertanya-tanya pada semesta, mengapa tiba-tiba diingatkan padanya. Sudah belasan tahun lalu aku tak melihatnya, dan kini aku ingin tahu kabarnya. Ah, melamun di siang hari memang tak pernah baik untukku.
"Hai Rika, apa kabar?" pesan singkat itu bertengger di telepon genggamku, memancing kerutan di dahiku. Aku bertanya-tanya, siapa itu?
"Masih ingat aku?" pesan singkat itu tiba lagi, tepat setelah aku menyatakan bahwa aku baik-baik saja. Aku masih mencerna kejadian tiba-tiba ini. Aku memang mengenalnya, tapi kedatangannya ini sangat tiba-tiba.
"Masih dong." hanya itu balasan yang mampu aku kirimkan. Masih sulit bagiku untuk mencerna kejadian ini. Berkali-kali aku memastikan wajah di foto profil akun itu memang benar orang yang kumaksud. Aku memang tak salah orang. Mengapa sekarang? Tepat disaat aku mulai mengingatnya lagi.
Percakapan melalui aplikasi pesan singkat itu berlanjut, yang tanpa kusadari memberikan warna lain dari keseharianku yang itu-itu saja. Aku akan berkali-kali memeriksa telepon genggamku jika balasan darinya tak kunjung tiba. Aku berkali-kali membuka akun social medianya untuk mencari tau apa saja yang dilakukannya hari ini, walaupun seringnya aku tak mendapatkan jawaban apapun disana. Aku bahkan gelisah di malam hari membayangkan jika esok ketika aku bangun, dia akan menghilang begitu saja. Seperti waktu itu.
Pertukaran pesan singkat itu mengalami kenaikan tingkatan. Kini dia sering meneleponku, menanyakan keseharianku, bertukar cerita tentang berbagai rasa kehidupan. Bibirku yang tadinya selalu datar tanpa ekspresi, kini lebih sering menyunggingkan senyuman, karenanya. Aku tak pernah menyangka bahwa kehadirannya bisa memberikan perubahan yang begitu besar dari diriku.
Selama ini aku abu-abu, dan kedatangannya memberikan warna baru di sana.
Tanpa kusadari, aku–si takut jatuh cinta, sudah terjatuh begitu dalam pada pesonanya. Dia tak melakukan banyak hal berarti. Dia hanya menjadi dirinya, yang sederhana penuh dengan kehangatan. Dia berhasil mencairkan bongkahan es besar yang menyelimuti hatiku.
"Ada cerita apa hari ini?" Kalimat sederhana yang dilontarkannya mampu membuat hatiku melemah dan perasaanku melunak. Kalimat yang bahkan tak memiliki subyek itu selalu membuat pertahananku runtuh. Aku menyukainya.
"Dia berbeda." jawabku ketika salah satu temanku bertanya tentang lelaki itu.
"Bersama dia, aku bisa kembali merasakan berbagai perasaan, disaat sebelumnya aku mati rasa." tambahku. Aku memutar kembali ingatan-ingatanku tentangnya. Tak banyak yang bisa kuingat. Ada satu hal tentangnya yang kupunya. Aku beranjak dari tempat dudukku, menuju ke laci meja tempat aku menyimpan benda-benda lama yang sudah hampir terbengkalai. Aku membongkar seluruh isinya, dan menemukan satu fotoku bersama lelaki itu.
"Ini dia, fotoku Bersama Bagas." Senyuman hangat mengembang di wajahku. Aku sudah merindukannya, bahkan sebelum aku bertemu lagi dengannya. Aku terkekeh geli melihat foto itu. Aku tak bisa mengingat kejadian yang terjadi di foto itu, tapi wajah kami berdua sungguh menggemaskan. Siapa yang menyangka bahwa kami yang bersandingan di foto itu akan bertemu di usia dewasa dan saling mengisi hari-hari seperti saat ini.
"Rika, aku merindukanmu." Pesan singkat itu tiba, ketika aku sedang berdebar mengenang peristiwa indah masa laluku bersamanya. Semesta memang pintar membolak-balikkan perasaan penghuninya. Aku salah tingkah dibuatnya. Senyumanku mengembang, hampir menghubungkan kedua telingaku.
"Aku juga merindukanmu, sungguh." aku hanya mengucapkan jawabanku di bibirku, tanpa kuketikkan di telepon genggamku. Bagiku, belum saatnya untuk dia mengetahui apa yang kurasakan.
Aku hanya membalas pesannya dengan candaan-candaan sederhana, berusaha mengubah topik. Lagi-lagi aku menghindar. Terkadang aku merutuki diriku yang selalu melarikan diri dari laki-laki yang kuinginkan. Trauma kejadian masa lalu membuatku sulit menaruh percaya pada lelaki manapun.
"Tak perlu tertekan karena rasa rinduku. Aku tak memaksamu untuk merindukanku juga. Aku hanya bicara fakta." Jawabannya membuatku sadar, tak ada tuntutan apapun darinya. Dia tulus.
"Dia orangnya." Hatiku yakin.
Malam selanjutnya, percakapan telepon kami terasa berbeda. Ya, berbeda. Karena mulai malam ini, kami bukan lagi teman lama. Kami kini sepasang kekasih. Perutku dipenuhi kupu-kupu, cemas apakah ini terlalu terburu-buru, tapi bagian lain dari diriku merasa ini saat yang tepat. Satu hal pasti yang kutahu, aku lega bisa mengungkapkan juga perasaanku padanya.
Entah ini hadiah atau pelajaran dari Semesta, aku tak peduli. Aku akan menerima dan memeluknya dengan tangan terbuka. Aku siap.
YOU ARE READING
Dear Mr. Surprises
Short StorySebuah kisah tentang kasih yang tiba-tiba menyapa tanpa aba-aba. Menggapai jiwa kesepian gadis biasa dengan segala kurangnya. Sebuah jawab tentang tanya, bagaimana ia mencinta lelaki ini. Lelaki yang penuh dengan kejutannya. Sebuah cerita, yang d...
