Bab 1

8 1 0
                                        

Jam dinding berdetak terdengar kencang dikelas yang sunyi, ulangan matematika sedang berlangsung semua hanya fokus akan kertas yang berada di meja masing masing.

Guru pengawas kelas. Melirik jam dinding di atas papan tulis, sambil berkeliling dari satu murid ke murid lainnya.

"2 menit lagi." Kata Bu Indah, guru matematika.

Suara tersebut seakan menjadi alarm bagi siswa siswi yang berada di kelas, ada yang mengerjakan terburu buru ada pula yang heboh meminta contekan. Sangat berbanding terbalik dengan keadaan kelas yang hening.

"DIAM! jika kalian terus ribut akan saya hitung mundur." Sambung Bu Indah.

3

"Tinggal 1 gak keburu ini, tulis rumus aja lah." Batin salah satu siswi barisan paling depan.

2

"BU CEPAT BANGET NGITUNG NYA," Pekik siswa siswi dikelas mulai panik.

1

Setelah hitungan selesai Bu Indah kembali duduk "Silahkan dikumpulkan, selesai tidak selesai dan nilai asli kalian akan saya masukan rapot tanpa ada nilai tambahan."

Tak ingin kejadian yang pernah menimpa mereka terulang kembali, kejadian itu adalah kertas mereka tidak diterima jika Bu Indah telah keluar kelas. Baik siswa maupun siswi langsung mengumpulkan hasil kerja mereka kepada Bu Indah.

"Gimana Can lancar?" Tanya Rachel kepada teman yang berada disebelah kiri.

"Lancar cuman kurang 1 gak keburu." Jawab Cantika sambil membereskan alat tulis dimeja.

"Baik lah sekian dari saya selamat siang." Ucap Bu Indah, dan berlalu pergi dari kelas XI3.

Setelah melihat Bu Indah pergi, Hilal salah satu siswa dikelas menutup pintu dengan kencang.

Brak!!

"Gila tuh guru katanya masih 2 menit, tiba tiba menghitung dari 3," Gerutu Hilal.

Mendengar itu kami semua menganggukkan kepala, kelas XI3 terisi oleh 18 siswa dan siswi.

"Udah berlalu juga mau diapain lagi?" Ucap Bella salah satu siswi yang meratapi nasib nilai ulangan matematika.

"Bentar lagi jam olahraga, cepat keluar dan bawa pakaian ganti kalian." Perintah Cantika sebagai ketua kelas XI3.

.•°°•.

"Kaku amat nih muka dari tadi." Sindir Rachel.

Bukannya semakin bagus mood Cantika bertambah buruk oleh pertanyaan itu.

"Pak Daniel." Kata Cantika, sambil memperhatikan Rachel yang sibuk menyisir rambut.

Rachel yang mendengar itu hanya menatap pantulan wajah Cantika melalui cermin di depannya dengan jengah "Kenapa lagi? Kangen? Atau ngeliat dia lagi sama Bu Luna?"

"Kalo kangen nanti ketemu, kalo jalan sama Bu Luna mungkin lagi ngebahas sesuatu secara Bu Luna kan operator." Jelas Rachel berusaha membuat Cantika ber positif thinking, sambil memakai sunscreen di wajah.

Cantika ikut mengunakan sunscreen yang digunakan Rachel,
"Sampai kapan gw gini terus, Pak Daniel kayanya tertarik sama Bu Luna."

"Jadi lo mau nyerah gitu?" Tanya Rachel sambil bersekap dada menatap Cantika.

Cantika hanya diam tak ada niat untuk menjawab, hatinya bingung akan pilih menyerah atau berjuang.

"Kalo sudah ayo, kumpul di lapangan." Salah satu teman mereka Aivi, baru saja keluar dari bilnk ganti.

"Aivi duluan aja, nanti gw sama Cantika nyusul." Sahut Rachel.

Setelah melihat Aivi pergi, Rachel menepuk bahu Cantika. "Gw gak bisa maksa lo buat bertahan atau berhenti. Tapi kalo lo butuh teman cerita ada gw disini." Ucap Rachel dengan tersenyum manis.

Melihat senyum Rachel, Cantika pun ikut tersenyum "Gw geli liat Lo yang sok puitis."

Wajah yang tadi tersenyum manis seketika menjadi datar mendengar ucapan Cantika.

"Udahlah ayo kelapangan, jangan ngambek gitu dong." Ucap Cantika menggoda Rachel karena wajahnya yang tertekuk.

______________________________________


Melodi Cantika

Melodi Cantika

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Cegil?Where stories live. Discover now