"Selamat pagi." Aku menyapa seorang pria tua pagi ini. Hari ini hari Minggu, jadi aku tidak pergi ke sekolah. Pria tua itu terlihat bahagia setelah dia keluar dari sebuah gedung melewati pintu kaca besar bergagang besi putih mengkilap yang dingin. Kantong plastik putih tergantung di jemari tangan kirinya. Langkahnya begitu mantap dan tubuh tuanya sedikit dia tegapkan. Kemudian aku menyadari mengapa aura wajahnya terlihat begitu ceria dan bahagia di usianya yang tak lagi sepertiku. Pasti seorang dokter baru saja mengatakan bahwa dia telah sembuh dari penyakitnya, atau dia akan sembuh total kalau meminum obat yang ada di dalam kantong plastik itu.
Pria tua yang takut mati...
Tidak. Semua orang takut mati.
...
"Maaf, permisi. Kamar Kim Jongin dimana ya?" Aku mampir di bagian resepsionis begitu aku masuk ke sebuah gedung melewati pintu yang sama seperti yang dilewati pria tua barusan. Aku menanyakan letak kamar sahabatku, Kim Jongin. Sudah 3 hari dia dirawat karena penyakit jantungnya kambuh lagi, tapi baru sekarang aku bisa menjenguknya.
"Kamar nomor 301 di bagian penyakit organ dalam di lantai dua." Jawab resepsionis cantik itu.
"Terimakasih." Aku melemparkan sebuah senyum manisku padanya, lalu melanjutkan langkahku menuju kamar nomor 301.
"Ck." Aku berdecak. Aku harus melewati banyak pasien menangis untuk sampai ke kamar sahabatku di lantai dua?
...
"Ayah, ayah. Kumohon... Aku tidak mau dioperasi! Aku mohon."
"Tapi kau harus, Nak. Hanya itu jalan satu-satunya agar kau tetap hidup."
"Tapi, Ayah. Aku tidak mauu!!"
"Tak apa! Tak apa! Percayalah pada dokter. Kau pasti akan sembuh setelah dioperasi!"
Ratap seorang gadis kecil yang menderita radang usus buntu. Dia menangis sambil menahan sakit luar biasa di perutnya. Aku tak habis pikir, bagaimana dia bisa tahan?
"Kakak. Aku ingin melihat pelangi."
"tsk..tsk.."
"Kenapa kakak menangis lagi? Aku pasti akan sembuh dan bisa melihat pelangi langsung dari mata kepalaku sendiri, Kak."
"I..iya. K..kakak yakin kau pasti sembuh. Besok kita lihat pelangi sama-sama ya?"
"Horeee!!"
Seorang bocah laki-laki gundul tengah berbincang dengan kakaknya. Dia berkata lugu, berencana untuk melihat pelangi dan matahari terbenam setelah dia sembuh nanti. Tapi kakak perempuannya tak pernah berhenti menangis mendengar ucapan polos adiknya karena dia tahu jarum infus itu tak kan pernah terlepas dari tangannya dan adiknya itu tak mungkin keluar dari rumah sakit. Aku berani jamin pasti anak itu terkena kanker.
Aku menatap bocah itu sekilas sambil berlalu. Ternyata dia juga tengah melihatku. Dia tersenyum dengan bibirnya yang kering dan tatapan sayu matanya yang tinggal menghitung hari. Aku membalas senyumnya.
Tangga sudah di depanku, aku menaikinya. Sedikit bersyukur karena di sini tidak mungkin ada orang meratap atau menangis minta pulang. Kecuali kalau memang ada yang nekat menggulingkan tubuhnya di sini untuk mengakhiri hidup. Aku menaikinya dengan tenang.
"309... 308... 307..." Aku berjalan melewati pintu sambil membaca nomor di atasnya. "306... 305... 304... 303..." Aku mempercepat langkahku. "302... 301!" Aku berhenti tepat di depan sebuah pintu nomor 301. Kupegang gagang pintunya, lalu kuputar.
Cklek...
Pintu terbuka, mataku menyapu seluruh isi ruangan itu. Bagus. Paling tidak ini nyaman untuk tempat istirahat sahabatku. Beberapa detik aku hanya melongokkan kepalaku untuk mengecek kalau aku tidak salah kamar. Sampai mataku mendapati sesosok laki-laki tampan yang sangat kukenal tengah duduk di ranjangnya melihat langit di luar jendela.
YOU ARE READING
Gwenchanha
Short StoryMenceritakan sepenggal kisah Kang Woo dan Jeongin. Sahabat sejati yang tetap memilih bersama dalam keadaan sulit. Penyakit jantung Jongin yang semakin lama semakin parah, kemudian kekerasan dalam keluarga Kang Woo, tidak memadamkan api kepedulian me...
