BAB 1

645 18 0
                                        

Banyak orang mengatakan padaku bahwa aku sangat pandai menyembunyikan perasaan dari orang lain. Aku tahu kok mereka tidak mengutarakan itu sebagai pujian, tapi sindiran. Mungkin itu karena aku selalu nampak terlihat baik-baik saja meskipun banyak masalah yang kuhadapi. Bagiku, itu benar. Hampir selalu benar. Aku memang lebih suka menyimpan semua isi hatiku untuk diriku sendiri. Bukan karena tak ingin membuat orang lain khawatir, hanya saja aku tidak terlalu suka jika banyak orang yang ikut campur dalam hidupku.

Aku menghembuskan napas pelan beberapa kali untuk menenangkan rasa khawatir yang sedari tadi menggelayutiku. Rasa khawatir itu berkenaan dengan hasil operasi dan keadaan Papa selepas operasi. Bagaimana tidak khawatir, kalau sebagai anak tertua aku tidak bisa menemani Papa dan justru terjebak dalam penerbangan dari Surabaya kembali ke Jakarta? Ini semua karena pekerjaan. Aku harus menemui klien Blossom Wedding Planner, tempatku bekerja, di Surabaya. Kalau saja aku menyampaikan keadaan Papa kepada dua wedding planner lainnya, aku yakin mereka akan bersedia menggantikan aku.

Hanya saja, aku tidak bisa. Aku memilih tetap berangkat dan tidak menemani Papa. Aku menyerahkan tugas itu kepada Karina, adikku. Rasa khawatir kemudian bercampur dengan gelisah saat akhirnya handphone-ku berdering dan menampilkan nama Karina disana. Aku segera mengangkatnya.

"Operasi Papa sudah berhasil, Kak."

Thanks God.

Aku bisa bernapas lega dan seolah lilitan yang membelenggu paru-paruku terbebas.

"Nanti kakak langsung ke rumah sakit, Kar," kataku.

"Ya. Apa perlu Teddy jemput kamu di bandara?"

Karina menawarkan jasa Teddy, suaminya.

"Nggak usah. Aku langsung aja," tolakku.

Tepat setelah telepon tertutup, aku boarding ke pesawat.

***

Beberapa minggu lalu, Karina, adikku, memberiku kabar yang mengejutkan dan membuatku sedih bersamaan. Papa sakit jantung, ada masalah dengan klep jantungnya dan dia harus dioperasi segera. Penyakit ini sama seperti yang diderita Papa Gita, jadi aku menyuruh Karina membawa Papa kepada Pangeran yang kuyakin juga berbakat menangani penyakit seperti ini. Kebetulan, Pangeran adalah dokter bedah jantung sekaligus suami dari sahabat dan rekan kerjaku, Brigita. Aku sengaja tak memberitahu Pangeran atau siapapun tentang hal ini, aku tidak ingin merepotkan dan sebaiknya kuberitahu saat semua sudah selesai saja.

Meskipun lega karena operasi itu sudah usai, aku masih punya rasa bersalah tak bersamanya saat Papa menjalankan operasi karena pekerjaan. Aku tahu hari ini jadwal operasi Papa, tapi apa daya aku tidak bisa disampingnya karena harus menggantikan tugas Gita di Surabaya. Kami menerima job mengurus pernikahan anak seorang artis lawas. Karena usia kandungan Gita yang sudah tua, akhirnya aku yang berangkat untuk meeting disini semenjak kemarin. Kalaupun Gita dan Bella (sahabat serta rekanku yang lainnya) tahu apa yang terjadi dengan Papa, aku yakin tugas ini tidak akan dilimpahkan padaku. Bahkan mereka akan menyuruhku cuti dan tinggal di samping Papa.

Udara dingin mengiring perjalananku dari bandara menuju rumah sakit untuk menemui Papa. Ketika tiba disana, Karina, Teddy, serta Mama menyambutku. Kami hanya perlu menunggu Papa siuman maka itu sudah baik sekali.

"Kayla?" suara seseorang menghenyakkanku yang sedang bercengkrama dengan keluargaku.

Pangeran kaget melihatku disana, tentu saja dia tak menduga bahwa orang yang baru dioperasinya adalah Papaku.

"Kenapa nggak cerita?" tanyanya ketika kami tiba di kafetaria. Dia menawarkan untuk ngopi dengannya, tentu saja itu hanya alasan untuk ngobrol denganku.

SERPIHAN RASA [PINDAH PLATFORM]Stories to obsess over. Discover now