Cinta Monyet Aika

13 1 0
                                        

Berkejaran dengan waktu, aku duduk dibelakang dibonceng ayahku menaiki motor Yamaha RX 100 yang sangat dibanggakannya. Dengan motor itu ayah sudah membawaku dan anak-anaknya berkeliling Bandung. Sayangnya ibu lebih suka memilih becak Mang Nandang yang kini sudah almarhum untuk pergi ke pasar daripada naik motor ayah. Ibu takut dibawa ngebut sama ayah hahaha. Mereka juga bukan pasangan yang romantis by the way.

Sudah pukul delapan lewat lima menit ketika ayah dan aku melewati terminal kebun kelapa yang penuh sesak dengan angkot berwarna hijau orange jurusan Kelapa-Dago, hijau biru jurusan Kelapa-Ledeng, hijau kuning jurusan Kelapa-Caheum, dan angkot-angkot lainnya yang berwana-warni berkumpul disana. Suara berisik para kondektur memanggil-manggil para calon penumpangnya dengan berteriak menyebutkan masing-masing jurusan secara bersamaan. Ada yang memaksa dengan menarik tangan calon penumpang, ada yang terus mengikuti calon penumpang dan berteriak di telinga mereka sampai bikin emosi, ada juga yang hanya duduk di depan pintu angkot sambil mengayunkan tangannya memanggil calon penumpang.

Selain itu para pedagang asongan dan kaki lima yang memadati setiap tempat kosong di depan ruko ataupun dipinggiran terminal yang walapun hanya sepetak, cukup untuk mereka menyimpan roda dagangan dan satu bangku saja. Di tahun 1997 saat itu, angkutan kota adalah alat transportasi paling laris manis, belum ada ojek online seperti sekarang. Tinggal buka aplikasi atur alamat tujuan, order lalu tinggal tunggu supir pribadi dateng menjemput hehe. Dulu, kita harus sangat bersabar menunggu sampai angkot sudah penuh baru bisa jalan. Mana mau supir angkot pergi kalau penumpang hanya satu atau dua orang saja. Kalau sedang musim ujian, aku harus berangkat sekolah lebih pagi lagi. Jika tidak, waktuku akan habis untuk jatah angkot yang ngetem, kesiangan deh!

Dari Terminal Kebun Kelapa, lurus ke arah alun-alun lalu kurang dari 200 meter ayah mengarahkan motornya berbelok ke kanan sampai ujung Jalan Kautamaan Istri disanalah sekolah baruku berada. Kami berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang hampir saja tertutup rapat. Turun dari motor lalu mengangkat tangan ayah dan mencium punggung tangannya, aku berpamitan kepada ayah dan segera berlari menuju gerbang. Telat sepersekian detik lagi gerbang sudah ditutup oleh Mang Ujang penjaga sekolah menengah pertama yang hampir aku banggakan ini. Well untuk bisa masuk kesana aku harus bersaing dengan ratusan teman-teman seangkatanku yang memiliki NEM di atas rata-rata. SMP negeri yang bisa disandingkan dengan dua SMP favorit lainnya di daerah Terminal Kebon Kelapa Bandung itu.

Yup! aku terlambat. Untung saja kelasku ada di jajaran paling depan, hanya belasan langkah dari pintu gerbang. Kulihat papan nama kelas di bagian atas pintu yang masih terbuka. Terlihat jelas di papan itu tulisan Kelas I-A. Dengan malu-malu aku mengetuk pintu kelas dan seorang kakak kelas perempuan dengan senyumnya yang menyejukkan mempersilahkanku masuk. Aku pikir aku akan di terima dengan tatapan sinis atau mata yang melotot dan dihukum karena telat, ternyata tidak.

"Kamu duduk disitu ya." kata kakak kelas tadi sambil menunjuk kursi kosong yang ada di tengah-tengah barisan pertama dekat pintu.

"Iya teh." jawabku tanpa basa-basi aku langsung menuju bangku itu.

Sambil menghela nafas panjang aku berusaha beradaptasi dengan keadaan yang begitu sangat asing dikepalaku. Tempat baru, orang-orang baru dan kesibukan baru. Masa orientasi siswa hari pertama sudah dimulai dan dipandu oleh para kakak kelas yang tergabung dalam OSIS. Keterlambatanku sepuluh menit tidak membuatku tertinggal informasi, mereka baru saja akan memulai acara sesaat sebelum aku mengetuk pintu. Aku yang malu-malu begitu takut bertanya kepada orang lain yang baru saja aku lihat dan kutemui di kelas ini.

Hari pertama tidak begitu serius dan hanya perkenalan saja. Beberapa siswa baru di panggil ke depan kelas untuk saling memperkenalkan diri. Aku bahkan belum berkenalan dengan teman sebangku disebelahku yang sedikit kulirik tadi saat duduk. Nampak begitu sangat berbeda dari teman-temanku yang lainnya. Saat acara perkenalan itu dimulai barulah aku dan dia berkenalan dan saling menyebutkan nama masing-masing.

BOLAK-BALIK PATAH HATIStories to obsess over. Discover now