PROLOGUE

47 1 0
                                        

KISAH INI dimulai dengan diiringi musik berjudul 'Cold' karya Jorge Méndez.

Hujan salju turun perlahan-lahan di sekeliling kota. Seseorang lelaki berjalan di bawah langit terbuka dengan mengenakan syal dan jaket bulu musim dingin. Kota itu sepi, kosong tak ada siapa pun, hanya dia sendirian yang berada di sana, seketika lelaki itu terdiam mematung di tengah jalanan kota antara gedung-gedung tinggi pencakar langit. Pikirannya bingung, tidak tahu apa yang harus dia lakukan, bahkan dia tak mengingat apa pun sama sekali, tentang siapa dirinya, masa lalu, bagaimana kehidupannya dan apa yang telah dia perbuat?

Dari atas langit muncul sesuatu yang bercahaya−berkilau-kilau terang, terlihat sebuah portal dimensi lain terbuka. Seorang anak laki-laki keluar dari gerbang ajaib itu, dia bertopeng memakai jubah mewah dan bermahkota megah, pada topeng putihnya terlukis sepasang mata sipit dan senyuman sinis yang lebar−mirip seperti topeng Kagetane Hiruko dalam Anime Black Bullet. Anak laki-laki itu duduk bertopang dagu pada kursi takhta−singgasana.

Lelaki yang kehilangan ingatan itu terkejut, tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang, dia membisu−diam tak bersuara, dalam kepalanya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi? Tetapi dia membulatkan tekadnya, dia memutuskan akan melontarkan pertanyaan kepada anak laki-laki aneh itu. "Siapa ...?" Namun, belum sempat selesai dia berkata, anak laki-laki bermahkota itu memotong ucapannya.

"Cukup! Aku sudah tahu apa yang ingin kau tanyakan. Tak perlu membuang-buang waktu akan kusampaikan semuanya kepadamu. Aku adalah seorang Dewa dan alasan kau berada di sini adalah atas kehendakku. Ingatanmu memang sengaja kuhapuskan karena kau tidak memerlukan itu. Mulai dari sekarang, kau akan mendapatkan kehidupan yang baru," ucap anak laki-laki yang duduk di singgasana itu, menjelaskan. Dia melompat turun dari kursi takhta, menepuk tangannya sekali dan mendarat. Mereka berdua pun pindah ke tempat lain, terlihat ruang putih yang kosong-melompong tetapi perlahan-lahan hadir bangunan, gedung-gedung dan orang-orang yang ramai−seperti proses memuat data dalam game open world.

"Dimanakah kita berada?" tanya lelaki berjaket bulu itu.

"Kota New York. Baiklah akan kujelaskan padamu. Kau adalah kandidat pilihanku. Saat ini, sedang ada pertaruhan, kami para Dewa bertaruh tentang siapakah yang pantas menjadi pemenang dalam suatu permainan. Permainan itu bernama 'Permainan Kehidupan' kau harus bertahan hidup untuk bisa jadi sang juara. Aturan mutlak dari game ini adalah menangkanlah game ini dengan cara apa pun. Selamat tinggal, permainan sudah dimulai kuharap kau bisa menikmatinya." Dewa dengan wujud anak laki-laki itu membuka portal dimensi, dia berjalan masuk ke dalam portal itu dan membalikkan badan menatap kandidat yang telah dia pilih, Dewa itu melepas topeng dan tersenyum. "Semoga kau berhasil," ucap Dewa itu lalu lenyap−menghilang.

"Tunggu! Tidak!" Lelaki kandidat itu merasa kacau. Akhirnya, dia pun berjalan di antara keramaian penduduk Kota New York.

Aku tak tahu nasib apa yang menimpa diriku. Satu hal yang harus kulakukan adalah berkomunikasi, itulah satu-satunya cara untuk bertahan hidup saat ini.

"Permisi," ucapku yang basah kuyup, mencoba berbicara dengan orang lain di bawah rintik hujan yang mulai turun deras. Aku menyapa siapa saja secara acak, karena tak ada seorang pun yang kukenal. Sekarang, apa yang paling kubutuhkan adalah informasi. Namun, tak seorang pun mengacuhkanku.

Aku tetap berusaha dan tidak patah semangat, mataku tiba-tiba melihat seorang gadis yang berbeda, dia membawa payung berwarna pelangi, tidak seperti orang-orang di sekitar yang membawa payung hitam, dia sungguh berbeda dibandingkan mereka yang sedang berlalu-lalang, rata-rata di antara mereka yang berada di jalan ini berpakaian dengan setelan jas hitam, kemeja putih dan celana hitam. Sungguh pemandangan yang monoton. Aku berjalan mendekati dan menatap gadis itu lama, terpaku dengan kehadirannya, aku merasakan pancaran aura yang bercahaya dari dirinya, bagaikan malaikat. Dalam benakku bertanya-tanya. Mungkinkah ini takdir atau kebetulan? Sebab, dari antara banyaknya orang, mengapa penglihatanku harus tertuju kepadanya? Jika memang ini adalah sesuatu yang telah direncanakan, rencana siapakah ini? Tuhan? Terlalu banyak Tuhan di dunia ini, Tuhan yang manakah itu? Aku ingin berterima kasih kepadaNya.

LIFE GAME: GOD, THE HUNTER AND HOPEStories to obsess over. Discover now