19 Maret 2012
"Terus kamu nggak jadi datang ke Jakarta, Bee? Kamu sendiri kan yang janji untuk rayain ulang tahun aku di sini?"tanya Lyla.
"Iya, Bee. Sorry. Tiba-tiba aku harus ketemu sama salah satu narasumber untuk tugas akhir aku, dan jadwal beliau padat banget. Kita rayain tanggal 30 Maret aja gimana, Bee?"tanya Wilson dengan suara memelas.
"Halo? Bee? Kamu masih di situ, kan?"
Kemudian telepon dimatikan oleh Lyla.
Karena sudah tidak bisa menahan amarah, Lyla menutup teleponnya. Dia khawatir tangisnya akan jatuh apabila melanjutkan perdebatan melalui telepon dengan Wilson, pacarnya.
Lyla mengambil ipodnya, dan memasangkan headset di kedua telinganya. Dia memejamkan matanya sambil ditemani lantunan lagu-lagu dari Yiruma sebagai pengantar tidurnya. Kebiasaan paling manjur untuk membuatnya tidur, namun ternyata tidak cukup manjur untuk malam ini.
Pikirannya melayang ke empat tahun lalu, dimana Wilson mengutarakan mimpinya untuk melanjutkan kuliah di kota Bandung. "Apa nggak ada universitas yang cukup bagus di Jakarta untuk mewujudkan mimpi kamu?"tanya Lyla. Namun, setelah mendengar penjelasan, dan melihat bola mata Wilson yang terlihat begitu hidup ketika menceritakan mimpinya, Lyla sadar bahwa mimpi memang tidak pernah terlihat masuk akal bagi mereka yang tidak memilikinya.
Empat tahun lalu, saat Lyla membiarkan Wilson mengejar mimpinya ke kota Bandung, dia paham akan konsekuensi hubungan jarak jauh. Namun, Lyla percaya bahwa rasa cintanya jauh lebih besar daripada kekhawatirannya, serta akan selalu ada cara untuk mempertahankan hubungan mereka.
Air mata Lyla mengalir mulai membasahi bantal, dia dan Wilson sudah berusaha dan bertahan sejauh ini, apakah hubungan ini akan kalah begitu saja dengan egonya? Ego yang selalu berhasil dia kalahkan pada empat tahun terakhir.
*****
20 Maret 2012
Terbangun dari tidurnya, Lyla meringis karena kepalanya terasa sakit sekali akibat menangis semalaman. Dia mencari-cari ponselnya dalam gelap dan menyalakannya, tidak menyangka begitu banyak panggilan tak terjawab dan pesan WhatsApp masuk dari Wilson dan Raymond, kakak kandung Wilson.
Lyla langsung menelepon Raymond.
"Hai, Kak. Sorry, semalam aku sudah tidur."
"Oh my God, La... Aku kemarin malam hampir datang ke kos kamu tau nggak? Si Wilson semalaman nggak bisa tidur tuh karena khawatir, kalian lagi berantem?"tanya Raymond dengan nada khawatir.
"Iya, tapi bukan masalah serius kok, Kak,"jawab Lyla dengan suara sendu.
"Gini deh, mending sekarang kamu mandi, terus kita makan siang bareng. Kamu mau makan apa?"
Setelah dibujuk dan diiming-imingi akan ditraktir, akhirnya Lyla mengiyakan ajakan makan siang Raymond
"Yaudah, kalau gitu kita ketemu langsung di rumah makan Kedai Ibu yang biasa kita makan ya. Tapi sebelum itu, kamu mending hubungi Wilson dulu, deh."
Usai telepon dimatikan, Lyla mengetik pesan WhatsApp untuk Wilson.
"Bee, maaf semalam aku langsung matiin telepon, dan ninggalin kamu tidur. I'm feeling better now, don't worry ya. Nanti siang aku janjian makan sama Kak Raymond."
Tidak menunggu lama, Lyla menerima pesan balasan dari Wilson.
"Beeeeeee, semalaman aku nggak bisa tidur karena khawatir sama kamu. Yaudah, kamu makan yang banyak, ya, jangan ngambek lagi. I just want to let you know that I love you. Maaf ya, aku pasti bakal segera ke Jakarta."
YOU ARE READING
Dear You
RomanceDear You Sebuah perjalanan seorang Lyla Adriana dalam menyembuhkan luka hati yang mendalam setelah kepergian sang kekasih. Belum selesai dengan proses untuk menerima kehilangan, dia harus dihadapkan dengan kenyataan tentang surat-surat yang dia teri...
