Nama penulis : Arifin bob
Assalamualaikum
Hidupku penuh dengan lalu lalang di luaran sana, hanya beberapa bulan menginjak tanah kelahiran semenjak lulus sma, aku selalu sendiri kemanapun pergi dengan bekal mental dan mental, aku sudah muak dengan cinta! beberapa kali dan terulang kembali ,hanya menjadikannya benci dan terus benci.
Di suatu hari tinggallah di dataran tinggi dan bertemu dengan seorang perempuan,tatapan dan senyumnya Meluluhkan hati yang beku, dia adalah dina seorang perempuan desa yang masih sekolah. Ku bertemu dengannya sore menuju malam di depan warkop, dia berdua dengan temannya ntah siapa aku pun lupa. Sayangnya di situ aku lupa membawa hp tadinya pengen minta nomor wa nya namun pada akhirnya aku minta sama yang jual warkop, hanya sekedar minta tau siapa namanya? Ternyata Ia adalah dina seorang yang pertama aku suka di dataran tinggi ini. Seiring jalannya waktu aku merasakan suasana yang tidak sesuai ,akhirnya aku memutuskan untuk menjadi temannya saja.
Selang beberapa bulan hatiku yang beku ini sedikit mencair sudah ada rongga rongga untuk di masuki,akibat perempuan yang selama 1 minggu ku teliti,dia pemalu,kecil,putih dan suka makan permen. Setiap hari aku terus terus dan terus menatapnya ,1detik pun itu sangatlah berarti aku terus mencari cara agar ku bisa mendapatkannya eh maksudnya mendapatkan namanya:v dan di saat aku tau namanya 20 hari di mulai.
"Eh mas aza temen ku ada yang mau nomernya si ipa"
"Oh okeh ,nanti aku kirim lewat wa mas,bener ngga ini?" Kata mas aza dengan ragu ragunya.
"Beneran mas, ntar saya nghubungi masnya di wa" kata ku sambil menutupi bawasanya aku lah yang pengen nomernya bukannya temenku yang pengen.
"Oh siap siap, tak tunggu mas" kata mas aza sambil cabut dari tempat makan.
Selang beberapa jam akhirnya aku ngchat mas aza minta nomor wa nya si perempuan yang selama 1minggu aku teliti, soalnya perempuan yang aku teliti itu temennya pacarnya mas aza jadi kemungkinan besar dapet nomernya. Perempuan yang aku teliti adalah Amalia,dia satu satunya perempuan yang bisa membuka lagi perasaanku.
"Mas minta nomer Wa nya amalia" kata ku
"Lah tadi di sana bilang pengen nomernya si ipa sekarang amalia jadi yang bener yang mana?"kata mas aza sambil makin bingung
"Amalia mas, tadi aku malu mau bilang jadi pura pura aja lah temenku yang pengen nomor wa:vwkwk "kata ku sambil nahan malu
"Yaudah bentar, aku minta nomernya sama pacar ku" kata mas aza sambil nyemangatin.
Setelah nomernya udah ku dapat,makin hari makin akrablah sama si amalia cuma ada ciri khas dari dia adalah serba malu, dia orang yang paling paling paling malu sama diri ku. Selama 1 minggu kita belum ada cerita dan belum pernah ngobrol, besoknya awal cerita di mulai ia menceritakan semuanya tentang tertekannya di rumah dan ingin cepet cepet lulus sekolah. Di sini aku tidak bisa menuliskan apa tertekannya karena itu sangat sensitif. Dan dia adalah seorang yang terbawa arus lingkungan dengan pergaulan bebas untuk menghilangkan beban pikirannya.
Aku punya impian yang pengen ku capai adalah melindunginya dan mencintainya namun kondisi diriku sekarang tidaklah memungkinkan apalagi dia masih sekolah. Kenal amalia 10hari, lalu dia terserang sakit dan di sini pertama kali aku main di rumahnya namun karena aku tidak tau jalan jadi aku nyasar nyasar ntah kemana aku lupa sampai beli makanan untuk bakal kerumahnya juga lupa. Sesampainya di rumah dia aku sedikit malu karena main cuma mbawa bayangan tok,di sambutlah sama dia di suruh masuklah aku di dalam rumahnya tapi aku segen, kok baru main serasa udah pernah main lama, mmm jadi aku pura pura beli rokoklah di situ, dengan pd nya aku beli roko sendirian namun karena aku gak tau warung di situ jadi balik lagi lah kerumahnya, dia sudah menunggu di depan teras rumahnya sambil menahan tawa.
"Makanya amalia aja yang beli, ngeyel kamu mah:v"
"ehheh iyo yo,aku nggak tau warung di sini "kata ku sambil malu
