Apa benar jika aku ini seorang pecundang?
Kehidupan, satu kata dengan pemaknaan beragam. Pemaknaan berbeda berdasarkan pencapaian atau dari kadar keimanan. Entahlah, aku tak pernah serius memikirkan maknanya. Sebab bagiku kehidupan hanyalah kesusahan yang menjelma lewat topeng-topeng nasib, mendatangi siapa saja yang dikehendakinya, lalu dengan seenaknya memutuskan untuk memberikan nasib buruk pada orang-orang tak berdaya hingga ajalnya tiba. Apakah itu ujian? Hanya orang-orang dengan keberuntungan nasib yang menyatakan bahwa ada ujian dalam kehidupan, karena mereka tak pernah merasakan berjuang hanya demi bertahan agar kematian tak segera datang.
Aku memang seorang pengecut, penggerutu yang suka berkeluh kesah karena merasa tercurangi oleh kehidupan fana yang membuat pikiran menggila. Aku memang membenci kehidupan, tapi aku bukan orang bodoh yang berharap dijemput oleh kematian. Sebab bagiku, kematian lebih mengerikan daripada harus tetap bernapas dalam dunia yang sudah porak-poranda ini.
"Berhenti!" ucap lembut seorang gadis berkacamata di hadapanku.
"Aku tak bisa, semua itu muncul begitu saja. Mengalir seperti air, berembus seperti angin. Aku tak bisa mengontrolnya," jawabku menimpali ucapannya.
Kulihat ia mengembuskan napas kasar. Tatapannya tajam seolah-olah ingin mengulitiku hidup-hidup, menelanjangi setiap senti tubuhku yang kini sedang berhadap-hadapan. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi, tak mengerti dengan tingkahnya. Gadis itu lagi-lagi mengembuskan napas, kini ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
"Apakah tak ada cara untuk menghentikan pikiran-pikiran konyol itu?" tanyanya masih dengan menundukkan kepala.
Kuelus puncak kepalanya lembut, "Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Toh, hidupku masih baik-baik saja."
"Tapi pemikiran Kakak itu terlalu negatif, terlalu gelap. Kegelapan hanya akan membawa keburukan."
Aku terkekeh, dia memandangiku dengan tatapan tak suka. Ah, andai aku bisa berhenti berpikiran buruk tentang kehidupan. Nyatanya, kehidupan dan kata buruk selalu berkorelasi dengan badan yang ringkih ini, lalu bagaimana bisa aku melepaskan jika kedua kata itu selalu melekat bahkan tanpa adanya permintaan.
***
"Apa Kakak bahagia?"
Aku terdiam, pembicaraan kami malam ini sudah begitu panjang. Lagi pula mengapa ia harus bertanya jika sudah tahu jawaban apa yang akan aku lontarkan.
"Apa Kakak pernah sedikit saja berusaha untuk bahagia?" tanyanya lagi-lagi menyudutkanku. Ia menarik napas panjang sebelum kembali berbicara, "Bukankah Kakak selama ini hanya hidup dengan menyalahkan keadaan. Tanpa usaha, tanpa kemauan untuk berbenah. Kakak punya kendali penuh atas kehidupan Kakak sendiri, tapi memilih mengikuti arus deras tanpa persiapan dan tenggelam."
"Sejak awal kehidupan memang sudah tak adil," jawabku membela diri.
"Kita mungkin anak-anak yang dibuang, Kak. Sejak kecil hidup di panti asuhan dan harus berbagi dengan anak-anak lainnya. Bicara tentang ketidakadilan, memang semua tidak adil sejak awal. Namun, kita bisa menciptakannya. Berusaha menciptakan kebahagiaan kita sendiri," sergah gadis mungil itu tak mau kalah.
"Dek...."
"Aku hanya ingin membantu, setiap hari Kakak selalu terlihat sakit. Bukankah berat, pikiran-pikiran berisik itu?"
Aku tertegun melihat kegigihannya yang selalu mendorongku untuk berjalan ke arah cahaya. Pertanyaannya apa aku bisa? Pemikiran-pemikiran berisik yang terus mengusikku selalu hadir tanpa bisa kukendalikan. Aku tak ubahnya seonggok daging yang dapat berjalan tanpa kendali atas gerak dan laju badan.
Berusaha? Aku sudah berusaha sejak lama, tapi selalu gagal karena semesta yang tak benar-benar berpihak atas apa-apa yang aku upayakan. Aku juga ingin bahagia, sesederhana itu. Apa aku bisa? Apakah cahaya akan menghampiri hidupku jika aku berusaha berjalan ke arahnya?
Dua puluh lima tahun aku hidup. Mungkinkah aku bisa keluar dari penjara gelap pikiran yang mengurungku sejak lama? Apakah aku bisa menciptakan bahagia? Apakah nantinya aku bisa terbebas dari jeratan beribu-ribu pertanyaan yang selalu memenuhi kepala, menyakitinya karena ingin berpikir berbeda?
Ah lagi-lagi, aku hanya bisa berharap kehidupanku akan berubah dengan sendirinya. Aku hanya ingin bebas, terlepas dari berisiknya metafora yang terus berteriak dalam pikiran. Hei kehidupan, sekali ini saja, bisakah kau beri aku kesempatan? Kesempatan untuk berjalan ke arah cahaya itu, aku ingin sekali memilikinya.
***
Jumlah kata : 583 Kata
YOU ARE READING
A VIDA
Short StoryIni adalah kumpulan cerita pendek tentang kehidupan. Bagaimana belajar mengenai nilai-nilai kebaikan yang selalu didambakan. Cerita tentang sepercik titik yang mungkin kau abaikan. Cerita ini bukan segalanya, tetapi kau akan tahu saat membacanya. Ba...
