1. Marcel

51 45 169
                                        


"Hidup memang bajingan ya? Kita bahkan dibuat babak belur setiap hari."

.

.

.

Suara pecahan beling dan teriakan yang berasal dari ruang tengah sudah menjadi latar musik setiap hari, terdengar di setiap sudut rumah, membuat pekak telinga yang mendengar nya.

Februari, gadis kelahiran bulan kedua dengan kacamata bundarnya yang berwarna cokelat, hidung mancung, serta rambut hitamnya yang digerai menghela nafas, kembali menyumpal kedua telinganya dengan earphone.

Alunan musik klasik masuk ke dalam indera pendengaran nya, ia menatap keluar jendela. Menunggu hingga hujan sedikit reda.

Pintu kamarnya dibuka, tanpa perlu menoleh Februari sudah tahu jika itu adiknya yang dengan lancang suka masuk tanpa perlu mengetuk.

"Belum berangkat?."

Pertanyaan retoris, Februari hanya menggeleng, masih betah menatap keluar jendela.

Helaan nafas yang lebih berat terdengar, menerpa sisi wajahnya saat sang adik mengambil tempat disebelah.

"Kakak, berisik."

Februari melepas earphone nya, tanpa menoleh memasangkan satu benda itu ke telinga sang adik.

November namanya, lucu jika dipikir-pikir lagi mereka dinamai sesuai dengan bulan kelahiran masing-masing.

"Sudah tidak lagi?."

"Masih."

Suara teriakan yang lebih kencang terdengar, November memejamkan mata dan menutup kedua telinganya, merapatkan diri pada Februari. Yang lebih tua memeluk adiknya erat.

"Ayo keluar ya?."

Dengan malas November mengangguk, kemudian mengekor dibelakang Februari yang mulai berjalan keluar dari kamar sebelum meraih tas dan jaket Levis nya.

November meremas ujung kemeja sang kakak, sedangkan Februari tanpa memasang ekspresi berarti berjalan menuruni anak tangga. Kedua orangtuanya masih bertengkar hebat.

Dan Februari tidak mau tau alasan apa lagi untuk kali ini,

Namun sebelum mencapai pintu keluar tangannya ditarik oleh sang mama, Februari terkesiap dan refleks menjerit kaget.

"Kamu mau ikut mama atau papa? Ayo jawab sekarang, mama sudah nggak tahan lagi tinggal sama bajingan satu ini."

Februari melirik sang papa lewat ekor mata, kerutan lelah samar-samar terlihat, sudah berapa lama ia tidak melihat papanya lantaran laki-laki itu jarang pulang?.

Pertanyaan yang paling ia takutkan, pertanyaan yang ia harap tidak pernah ia dapatkan kini dilontarkan. November menangis, namun tampaknya saat ini tak ada yang peduli.

Februari menatap ke segala arah, "Kenapa mama menanyakan pertanyaan yang bodoh?."

Rahang sang mama mengeras, mengguncang kedua pundaknya dan kembali bertanya dengan suara yang lebih mirip berteriak.

Februari menatap obsidian mama yang memerah,

"Kalian ingin bercerai?."

November dengan suara bergetar bertanya,

"Ya, kalau kalian ingin ikut papa kita pergi ke luar negeri, tapi jika kalian ingin ikut dengan mama silahkan tetap disini."

Februari memejamkan mata, kemudian melepas tangan mama yang bertengger di pundak.

Februari and December boyStories to obsess over. Discover now