Halo semua kenalin aku Rafi Aditya, cowok tampan yang sedang merantau di ibukota Indonesia. Aku pergi ke Jakarta lalu bekerja di sebuah perusahaan percetakan yang memiliki cabang di Jakarta, Bandung, dan juga Jambi.
Hari ini aku mendapat jadwal mengecek tempat percetakan di Bandung. Sambil mengikat tali sepatu aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul enam pagi. Artinya bisa saja aku tertinggal bus. Aku bergegas menggendong tas ransel berwarna hitam dan mengunci pintu rumahku.
Sesampai di Terminal, suasana pagi itu terlihat ramai bahkan sampai ada yang berdesakkan. Ku lihat di papan pengumuman ada nama bus menuju daerah tujuanku, yaitu Bandung. Namun ternyata bus itu telah berangkat lima menit yang lalu. Aku menghela napas, lalu tiba-tiba saja muncul sebuah ide agar aku berlari menuju Bandung. Aku pun segera berdiri, menggunakan masker dan kacamata agar terhindar dari debu kemudian mulai berlari.
Aku berlari secepat mungkin, saat berlari tubuhku terasa ringan serta tidak ada keringat bercucuran di tubuhku. Beberapa pengemudi mobil melihat aku dengan rasa heran, ada yang sampai melamun, bahkan merekamku dengan kamera ponsel mereka.
Akhirnya aku tiba di tempat tujuanku, sebuah desa yang tenang. Lokasi percetakannya dekat dengan sebuah Markas Militer. Aku berjalan santai menuju Gedung percetakan. Kira-kira aku melakukan pengecekan selama dua jam, lalu aku diajak makan siang di salah satu Warung Kopi sederhana bersama Pak Jhon, salah satu staff penanggung jawab percetakan cabang Bandung.
Warung Kopi itu berukuran tidak terlalu besar, cat dindingnya putih dilengkapi dengan ornamen-ornamen kayu yang menarik. Aku memesan secangkir kopi dan sepiring nasi goreng. Aku berbincang ringan dengan Pak Jhon, tak lama beberapa teman dekatku datang. Ada Arya, Vita, dan Irma. Kami bersenda gurau kurang lebih selama satu setengah jam.
"Eh kita cabut dulu ya, karna bakal ada kejadian besar dan buruk banget, soalnya disini tuh puncaknya bencana," ucap Vita. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan aku dan Pak Jhon yang juga akan Kembali ke Gedung percetakan.
'Halah si Vita ngarang itu mah, mana mungkin suasana adem begini ada bencana' batinku. Pak Jhon baru saja pamit ke toilet, aku pergi ke Kassa untuk membayar makananku sendiri.
Tiba-tiba saja lampu gantung di dalam Warung Kopi bergoyang, sang kasir langsung berteriak panik dan keluar dari Warung, begitu juga dengan semua orang yang ada di Warung Kopi. Aku pun ikut berlari walau uang kembalianku belum dikembalikan, semua orang panik karena guncangannya yang amat keras.
Aku berlari ke arah Gedung percetakan, namun lantai empat dan tiga dari Gedung tersebut sudah runtuh. Untunglah seluruh karyawan percetakan tidak ada yang masih di dalam Gedung.
Setelah guncangan gempa bumi sudah reda, aku bergegas berlari ke Markas militer yang ada di dekat situ. Terdapat tanjakan tinggi di depan Gedung Markas militer, aku segera memanjatnya dengan susah payah.
Aku pun akhirnya sampai di atas tanjakan itu. Aku berdiri lalu menepuk celanaku yang penuh debu sehabis memanjat. Aku melihat ke depan, aku terkejut dengan apa yang kulihat. Banyak orang yang sedang berkelahi, sebagiannya ada yang memegang Bazoka. Seperti yang aku perkirakan, sepertinya mereka sedang berperang dan saling membunuh. Beberapa orang yang terkena tembakan Bazoka tubuhnya hancur dan berlumuran darah.
YOU ARE READING
TEMERE SOMNIUM
RandomTemere Somnium berisi sekumpulan cerita acak, aneh, dan tidak masuk akal yang pernah datang ketika saya dan orang lain tertidur. Tidak ada yang saya harapkan dari tulisan-tulisan ini, jika tertarik silakan membaca dan memberi vote, jika tidak tingga...
