PROLOG

14 1 0
                                        

"Madrasah Aliyah??!!??"

Hampir saja Nadhira membuat toples berisi keripik singkong di tangannya jatuh ke lantai. Belum ia buka tutupnya untung saja. Mendengar penuturan Bunda nya membuat otak Nadhira memerintahkan mulutnya menolak tak terima.

"Jangan teriak teriak dong Nadhira." Ucap Bundanya santai sambil terus mengganti siaran televisi.

Sementara Nadhira, anak itu sudah tidak bisa berkata apa apa melihat bundanya bisa sesantai itu. Setelah membuat deklarasi yang sangat menakjubkan, sampai membuat otak cerdas Nadhira serasa terbalik. Nadhira kira Bundanya tidak memiliki riwayat penyakit pikun atau Alzheimer. Tapi kenapa sekarang jadi memintanya mendaftar di Madrasah Aliyah.

Ralat. Bukan memintanya mendaftar, tapi sudah didaftarkan. Hilang sudah kewarasan Nadhira. Bundanya memang memakai hijab. Tapi Bundanya juga yang telah menyekolahkannya di sekolah swasta sejak TK. Tidak ada Islam Islam nya sedikitpun. Tapi sekarang? Wahh Nadhira tidak bisa mencerna ini semua.

"Ibunnnnn!!!!!" Protes Nadhira lagi.

Samitha terperanjat kaget saat putri overaktifnya itu berteriak kencang sambil menghentakkan kakinya keras. Seperti hendak merobohkan bangunan rumahnya saja.

"Aduh Ibun budek ini lama lama."

"Lagian Ibun kenapa aneh sih? Dhira kan bilang, abis lulus SMP Dhira mau lanjut ke Artajaya! Kenapa jadi Madrasah Aliyah??!"

Nadhira mendekat ke arah Bundanya. Ia duduk bersila di sofa yang sama dengan Samitha. Nadhira yang mengenakan celana pendek diatas lutut dengan atasan crop hoodie itu tengah meminta penjelasan Bundanya. Berharap ini hanya jokes bapak bapak buatan Samitha.

Bundanya tahu dari setelah Nadhira lulus SMP pun, anak itu selalu menyebut Artajaya. Ya, SMA Artajaya. Sekolah swasta incarannya sejak kelas 7 SMP. Sebagian teman teman SMP nya lanjut di sana. Bagaimana tidak? Citra sekolah itu sudah bagus sapai mancanegara. Event internasional yang tidak bisa diragukan juga banyak dimenangkan siswa sana. Nadhira ingin meningkatkan skill matematika nya di sana. Walaupun ia sudah cukup jago di pelajaran itu saat SMP, dan bahkan mengikuti banyak lomba nasional. Tetap saja, jadi tim olimpiade internasional utusan SMA Artajaya selalu menjadi impiannya. Tapi kini, setelah seminggu lagi tahun ajaran baru untuk masa putih abunya dimulai, saat Nadhira sudah berekspektasi tinggi pada Artajaya, Bundanya malah memberi kabar buruk ini?

"Itukan kamu yang pengen. Kalo Ibun mah ikut pengennya Ayah." Samitha berkata santai.

Mulut Nadhira membulat mendengar itu. Oh begitu? Tuan dan Nyonya keluarga ini bersekongkol membuatnya kacau atau bagaimana? Nadhira ingin menangis juga tidak kuasa. Ini lebih kearah speechless dan tidak bisa berpikir jernih. Ia menyibak rambut lembutnya kebelakang. Harga dirinya tak terima.

"Ini kenapa ribut ribut, hm?"

Wijaya. Sang Tuan pembuat ide konyol ini menuruni tangga. Ia melepas kacamatanya lalu menyelipkannya di saku kemejanya. Sepertinya baru selesai mengurus urusan pekerjaan di ruang kebesarannya. Ya, ruang kerjanya di lantai atas. Apalagi?

Nadhira tidak menyia-nyiakan pemandangan itu. Ia berlari menghampiri ayahnya. Merangkul lengan kanan Wijaya yang bebas dan dengan manja menariknya. Puppy eyes mode on untuk merayu insinyur teknik ini.

"Ayah, Dhira nggak mau masuk Madrasah! Dhira mau ke Artajaya, ya?" Suara Dhira ia sengaja lembut lembutkan. Berharap ada setitik kasihan di mata ayahnya sendiri.

"Kenapa nggak mau?"

Ah benar juga. Nadhira punya seribu alasan untuk masuk SMA Artajaya, tapi tidak memiliki satupun alasan untuk menolak Madrasah Aliyah yang tadi Bundanya singgung. Aneh. Tapi ia harus punya alasan yang kuat. Bagaimanapun caranya, Nadhira tidak mau bersekolah di Madrasah. Tapi kenapa?

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 19, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ALIMWhere stories live. Discover now