0,5 (Half)

21 7 0
                                        

"Tunggu bentar ma!"

"Apalagi sayang? Mama buru-buru."

"Hehe cuma mau salim aja." Ia mengecup punggung tangan wanita yang dipanggil mama.

•••♡•••

"Udah setahun pacaran, lo ga ada rasa kan sama gue?"

"Kenapa?"

"Kita putus ya?"

•••♡•••

"Cape ngejomblo terus."

"Gue juga jomblo."

"Senasib ya kita."

"Lo sih. Siapa suruh putusin gue dulu?!"

"Iya juga ya. Tapi kan cinta gak bisa dipaksa, Za."

•••♡•••

"Gapapa, itukan cuma masa lalu kamu. Mulai sekarang kita sama-sama bangun masa depan yang cerah."

••♡•••

Gadis itu berwajah sendu. Menatap kelabunya awan yang meneteskan air langit, sebagian tetesannya menempel indah di kaca dinding restoran. Lihatlah, di luar sana, berbagai pejalan kaki melintasi jalan setapak, mencari perlindungan.

Di lobi restoran. Seorang wanita paruh baya duduk dalam pangkuan kursi roda, baru saja singgah dengan bantuan suaminya mendorong kursi roda.

Di restoran sebelah sana, lurus dengan tempat gadis itu duduk. Pasangan muda bercengkrama ria. Sesekali melempar tawa bahagia.

Dan di meja sebelahnya duduk. Keluarga kecil hendak menyantap pesanan yang baru saja tiba. Tapi si bayi dalam gendongan ayah menangis. Mungkin karena kedinginan. Berpindah ke gendongan ibu, bermanja dengan selimut kecil. Ayahnya menyodorkan botol susu agar si bayi bisa tertidur.

Gadis berwajah sendu mengaduk minuman. Kopi adalah kesukaannya. Sayang, ia tidak bisa mengonsumsi kopi. Kebahagiaan tak pernah utuh. Tidak hidup sebatang kara, ia punya keluarga yang seharusnya bahagia. Hanya saja mereka tak pernah peduli. Laki-laki pujaannya juga berada dekat, harusnya ia senang, cintanya benar-benar tulus. Hanya saja laki-laki itu tidak memiliki perasaan yang sama.

Cinta bertepuk sebelah tangan? Keluarga yang tidak pernah peduli?

Itulah yang dialami gadis berwajah sendu bernama Adiza Kayla. Ah, tapi mungkin ia kurang bersyukur.

Satu. Adalah 0,5 setengahnya.
Full. Adalah half setengahnya.

•••♡•••

0,5 (Half)Où les histoires vivent. Découvrez maintenant