Dibawah pohon kersen yang lebat berbuah, gadis itu terduduk sendirian. Kelihatannya memang sedang menunggu seseorang. Menggenggam erat gawai dengan senyum manis yang menghias.
Semilir angin mengalun merdu, melambaikan untaian anak rambut yang memang tak terikat. Hingga sebuah tangan datang menjamahnya.
"Kebiasaan deh. Nanti lagi bawa iket rambut. Biar ga ganggu." Katanya. Nada yang keluar terdengar sedikit kesal, dumalannya hanya terbalas kekehan ringan dari si gadis.
"Gue kan cantik kalo diurai rambutnya." Memang. Gadis ini cantiknya bukan main, apalagi saat anak rambutnya terkena terpaan halus dari angin. Rasanya bagai melihat bidadari surga. Yang artinya Mika tidak sanggup untuk melihatnya.
Biarlah kecantikan Rin ini cuman gue yang pandang, begitulah kira-kira kata yang di ucapkan Mika saat pertama kali gadis ini menampakan diri dengan rambut yang diurai.
Aslinya Mika hanya takut mimisan. Hehe.
Maka kini entah datang dari mana kebiasannya itu, Mika selalu memakai beberapa karet ditangan kirinya. Tak apa jika disebut seperti ibu-ibu jaman dahulu. Karena karet yang dipakai Mika untuk dijadikan gelang ini didapat saat ia makan nasi uduk bersama anak-anak lainnya. Untuk situasi darurat katanya.
Situasi darurat semacam ini. Mengikat rambut gadis itu dengan karet bekas bungkusan nasi uduk. Dua karet ia ikatkan pada rambut Arin. Mengapa dua? Iya, tadi Mika pesen nasi uduknya pake sambal, jadi dikasih tanda karetnya dua.
Arin tak protes, toh Mika memang sudah handal saat mengikat rambutnya. Tidak seperti saat pertama kali mencoba. Yang mana sampai membuat rambut Arin harus dipotong beberapa helai.
"Udah selesai kan kelasnya? Atau ada kumpul band dulu?" Tanya Arin lembut, mata teduhnya menatap dalam pada netra hitam Mika. Mika, lagi-lagi dibuat jatuh hati.
"Engga ada, kan mau pacaran. Jadi semua urusan ditunda dulu." Arin terkekeh geli sambil menggelengkan kepala kala melihat senyuman manis Mika diakhir perkataannya.
Arin, juga dibuat kembali jatuh.
...
"Ahahaha ... iya, apalagi kalo Rin liat langsung, dijamin pasti bakal ketawa sampe kejengkang, deh." Mika masih dengan kekehen khasnya. Pundaknya asik naik turun, sepanjang jalan Mika terus mengoceh, tentang Ardhi; adiknya. Bahkan Mika sesekali mengelap sudut matanya yang berair karena terlalu lepas tertawa.
Kata Mika, kemarin Ardhi pergi main bola bersama teman-temannya. Pergi dengan memakai baju jersey merah kebanggaannya karena dibeli dengan uang hasil celengan selama berbulan-bulan. Tapi baru juga empat puluh lima menit pergi, Ardhi balik lagi. Kembali pulang dengan pakaian yang sudah basah total. Padahal diluar tak ada hujan dan langit nampak baik-baik saja.
"Napa lu tong?" Tanya Mika khawatir, walau perasaan itu datang sesekali saja. Dengan cepat Mika menghampiri Ardhi yang berdiri setia didepan rumah. Kalo masuk lantai pasti basah, pikir Ardhi. Ardhi tentu gak mau cape-cape pel lantai. Jadi dia diam diluar, berjemur supaya bajunya kering sambil menikmati semilir angin.
"Hehe ... jatoh, bang." Yaampun Ardhi, rasanya tak ada satu haripun yang akan berjalan normal jika sudah bersangkutan dengan Ardhi. Setiap hari, bahkan jam. Pasti saja ada hal yang tak pernah habis dipikir akan dilakukan oleh Ardhi.
"Dimana anjir? Ampe baret gini." Mika raih lengan kanan Ardhi. Luka baret yang masih baru tentu saja, belum dibersihkan dan diobati. Dilukanya bahkan terdapat beberpaa serpihan batu kecil, melihatnya membuat Mika meringis.
"Si Shaka, tuh. Ngebut banget naek sepeda. Jadinya jatoh dah ke comberan."
Haduh, Mika hanya bisa menghaduh dengar cerita Ardhi. Ardhi dan teman-temannya itu memang bukan main ulahnya. Mikabukan lagi ingin angkat tangan tapi sudah angkat badan kalau kejadian hal seperti itu, toh dinasehati pun tidak akan berdampak apa-apa. Hanya didengar lalu setelah itu, sudah, tidak ada yang akan terjadi.
STAI LEGGENDO
Deception
FanfictionMikael Faqhi dan Sagara Ardhinal Faqhi. . . Selama 20 tahun Mika hidup didunia. Dan satu tahun ke belakang yang begitu membahagiakan ini, terhitung hanya satu gadis saja yang ia kencani. Gadis dengan paras cantik sekaligus Model majalah lokal. Arina...
