HAPPY READING
Dor!! Dor!!
suara tembakan terdengar memekakkan telinga diikuti dengan manusia yang berjatuhan satu demi satu, darah segar nampak kontras terlihat di antara putihnya salju yang terus turun dan semakin melebat. Di tengah kekacauan itu sesosok anak kecil tengah berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangan mungilnya dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya, gadis mungil itu terus meraung dan meronta ronta meminta untuk di lepaskan tetapi tak membuat sosok pria bertubuh besar di hadapannya itu iba.
"di mana obat itu?" tanya pria lain sembari menodongkan senjatanya kearah perempuan paruh baya di hadapannya
"aku tidak akan mengatakan apapun tentang obat itu padamu" pekik sesosok perempuan yang berlutut dan sudah di penuhi darah di sekujur tubuhnya, perempuan itu bahkan meludah dan menatap lelaki di hadapannya dengan tatapan tajam. Namun tak membuat sang lelaki lengah bahkan lelaki itu menendang tubuh sang wanita lalu tanpa kata langsung menarik pelatuk pistolnya.
Dor!!
Setelah itu, Sesosok perempuan terbangun dengan keringat yang mengucur deras dari pelipisnya. Perempuan itu masih menetralkan degup jantungnya yang berdetak sangat cepat. mimpi yang sama seperti malam malam sebelumnya, sudah biasa ia mendapatkan mimpi yang sama sejak delapan tahun terakhir, mimpi yang terus menghantuinya. Perempuan itu meremas rambutnya kuat, berusaha menghilangkan rasa sesak di dadanya bersamaan dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya.
"FEZA!" teriakan seseorang terdengar bersamaan dengan pintu cokelat itu terbuka menampilkan sesosok lelaki dengan ekspresi wajah panik. tanpa kata lelaki itu langsung datang menghampiri feza dengan sedikit berlari
"kenapa?" tanya sagara, ia menghampiri feza diatas tempat tidurnya. tidak lupa lelaki itu mengusap air mata yang sudah tak bisa sosok perempuan itu tahan. Sagara memeluk feza sayang, berusaha membuat adiknya itu tenang.
feza tak menjawab pertanyaan sang kakak, ia memeluk tubuh tegap sagara dengan sangat erat, seakan tak ingin sagara menjauh darinya.
"cape bang" ucap feza sendu, sambil sesekali ia meremas punggung kakaknya yang sudah di pastikan sagara akan memerah keesokan paginya.
"shh, udah tenang abang disini" sagara mengelus punggung adiknya sayang, berusaha membuat feza tenang.
Sagara Abimayu Davies. Lelaki dengan paras yang tampan dengan rambut belah tengah serta manik mata yang berwarna cokelat gelap.
"mimpi lagi?" tanya sagara sambil mengelus pucuk kepala adiknya sayang "mau sampe kapan kamu begini terus? coba lupain pelan pelan" jelas sagara sambil terus mengusap kepala feza sayang, lelah? tentu saja sagara lelah dengan adiknya yang terus terusan terbangun setiap malam seperti ini, tapi di sisi lain ia tentu saja kasihan
"susah bang..." keluh feza
sagara menatapnya iba "ade bisa, pasti bisa lupain itu. kakak ada disini selalu buat bantu lo" kata sagara lalu mengecup jidat adiknya sayang "tidur lagi, besok ada tes kan? harus tidur biar ga cape" tambah sagara
Feza mengangguk lalu kembali menyamankan posisinya, ia tidur di samping abangnya, kedua kakak beradik itu tidur sambil memeluk satu sama lain. sudah menjadi hal yang biasa untuk keduanya seperti itu karena setiap kali feza bermimpi pasti selalu ada sagara yang setia menemaninya.
YOU ARE READING
AGHARNA
Teen FictionTrauma masa lalu memang tidak jauh dari penderitaan. Tapi, bagaimana jika trauma itu bisa membuatmu menemukan 'jawaban' yang selama ini kerap muncul dalam benakmu?
