(1)

15 1 0
                                        

Sore hari, ditepi jalan terdapat seorang gadis yang tengah duduk sembari menahan sakit dilututnya. Panggil saja Chika, gadis itu sedang menunggu taksi untuk segera pulang kerumah.

"Ish mana juga nih taksi dari tadi gak lewat-lewat". Gumam nya kesal

Tiba-tiba tepat didepan nya ada sebuah mobil berhenti. Ia menatap bingung kepada pria dihadapan nya ini.

"Lo ngapain masih disini?". Tanya pria itu sedikit melihat lutut chika yang terluka.

"Alan?!".

"Ikut gue". Sembari menarik tangan chika untuk ikut bersama nya.

"Eh mau kemana". Tolak chika mentah-mentah.

"Ck, ikut aja". Lalu membawa gadis itu duduk ditaman terdekat.

"Duduk, gue obatin luka lo".

"Lo ngapain sih, tiba-tiba dateng terus pake segala mau ngobatin lutut gue lagi, mau modus lo ya".

"Buruan". Mau tak mau Chika duduk dikursi taman setelah mendapat tatapan tajam dari pria ini.

Dan Alanio pun membuka tas nya mengambil obat P3k untuk mengobati lutut Chika.

"Tahan sebentar". Ucapnya lalu mengolesi lutut chika dengan alkohol dan menekan nya pelan selepasnya meniup tipis-tipis agar mengurangi rasa sakitnya.

"Awshh, sakit".

"Udah selesai, rumah lo dimana biar gue anterin". Tanya Alanio

"Gue nunggu taksi aja, makasih udah ngobatin lutut gue".

"Ini udah sore, mau sampai kapan lo nunggu taksi. Gue anterin aja". Tawar Alanio

"Iya sih, yaudah gue ikut lo". Terpaksa Chika menyetujui ajakan Alanio.

Mereka pun berjalan menuju mobil Alanio. Dan sepanjang perjalanan pun tidak ada yang membuka suara, sama-sama diam.

"Rumah lo dimana?". Tanya Alanio memecah keheningan diantara mereka.

"Perumahan Melati Putih no 255". Jawab Chika

"Oke".

Keheningan pun terjadi kembali dan setelah menempuh beberapa saat mereka pun tiba dirumah Chika.

"Thanks udah ngobatin dan anter gue pulang".

"Hm sama-sama, gue pamit". Mobil Alanio pun beranjak pergi dari perumahan Chika.

Chika pun masuk rumah dan mendapati tatapan tajam dari mama nya. Ia meringis pelan sudah pasti ia akan dimarahi.

"Dari mana aja kamu, udah sore baru pulang hah?". Tanya Indri (mama Chika) dengan galak.

"Maaf mah, aku tadi habis jatoh keserempet motor dijalan".

"Ya ampun sayang kok bisa sih, tapi kamu gak apa-apa kan. Gak parah kan sayang? trs itu siapa yang ngobatin?". Tanya Indri khawatir.

"Cuma kegores aspal sedikit kok mah, temen mah tadi kebetulan dia lewat".

"Yaudah, kamu langsung kekamar aja ya sayang. Istirahat dulu, nanti mama anterin makanan buat kamu".

"Iya mayang (mama sayang), Chika kekamar dulu ya".

"Iya sayang".

                                               ***

Setelah selesai berganti baju, Chika pun merebahkan tubuhnya dikasur ternyaman itu. Ia masih kepikirian seorang Alanio tadi, merasa tidak asing dengan panggilan Nio. Tpi ia lupa dimana...

Ceklekk

"Sayang makan dulu ya, abis itu istirahat". Ujar Indri sambil membawa nampan berisikan makanan dan susu untuk Chika.

"Iya mayang.

"Yaudah mama kebawah dulu ya, papa kamu udah pulang sepertinya".

Chika pun mengambil makanan itu lalu memakan nya dan ya habis tak tersisa, sepertinya ia kelaparan.

"Uhh kenyang nyaa perut gue". Ucap Chika terkikik

                                               ***

Disisi lain Alanio berdiri diam di balkon kamarnya dan memikirkan kejadian tadi. Dimana dia terlihat peduli dengan Chika, gadis cantik yang satu sekolah dengan nya.

Ia pun tersenyum tipis mengingat wajah Chika yang marah saat dia hendak menyentuh lututnya yang akan Alan obati".

"Lucu". Guman Alan tanpa sadar.

Lalu berjalan masuk kedalam kamar dan menyalakan ps nya lalu memainkan game kesayangan nya itu.

Ia tidak begitu suka belajar, walaupun begitu dia merupakan siswa berprestasi dikelasnya. Dia Alanio Lean Sanjaya anak dari Yuli Dian Handani dan Mahendra Sanjaya. Mempunyai seorang kakak perempuan bernama Rosalina Dian Sanjaya yang kini tengah berada di negeri orang untuk melanjutkan study nya.

Tepat pukul jam 08.00 malam, Alanio keluar menuju meja makan karena sedari tadi perutnya sudah lapar.

"Malam bun, yah".

"Malam son".

"Malam juga nak".

"Duduk dulu sayang, bunda siapin dulu makanan nya".

"Nio besok kamu jemput kakak mu dibandara ya". Suruh sang ayah

"Kenapa gak minta sopir aja sih yah, Nio malas jemput Rosa".

"Kakak mu minta kamu yang jemput dia, sudahlah turuti saja. Lagian kakakmu cuman minta jemput. Dan satu lagi panggil dia dengan sebutan kakak Nio, dia kakak mu bukan teman mu". Ujar Mahendra menjelaskan.

"Hmm".

"Turuti aja ya sayang kemauan kakakmu, lagi pula dia gak minta aneh-aneh kok".

"Iyaa bunda, besok Nio jemput".

"Oh iya bagaimana, apa kamu sudah menemukan teman kecil mu?".

"Belum yah, Nio gak tau dia ada dimana". Jawab Alanio dengan sendu

"Nanti ada saatnya son, yang terpenting kamu selalu berusaha mencarinya dan berdoa kepada Tuhan semoga dipertemukan dengan teman kecil mu itu".

                                                ***
Jangan lupa vote and komen:)
Dan ikuti terus kisah CHIKANIO ya
Trimakasih🙂

CHIKANIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang