Albar menatap Auris tanpa ekspresi, mengapa dirinya harus ditarik ke dalam masalah yang dibuat oleh wanita gila dihadapannya. Albar tak akan pernah memberi celah sedikitpun untuk Auris. Albar tak ingin tersiksa di hubungan ini.
Auris meruntuki kebodohannya, ia tak bisa menatap Albar. Tatapan Albar penuh intimidasi. Ia tak kuat, merasa lemah tak berdaya.
Suara lembut Belina membuat kepalanya mendongak, mau tak mau Auris tersenyum, "Tante sama Mama kamu sudah ngerencanain semua ini. Bahkan sebelum kita menikah, bener kan, Maryam?"
Maryam mengangguk kepala, ia terkekeh mengingat masa remaja dengan Ibu dari Albar, "Tante Lina antuasias banget, sayang. Dia bilang gini, 'Eh, Yayam nanti kalau kita punya anak harus banget ini kita jodohin, anak kita harus satu sekolahan juga, pokoknya kita harus sama-sama terus.' Eh, bener aja, Tante Lina ngelahirin Albar, beberapa bulan dari itu, baru kamu borojol. Mama sama Tante Lina nggak bisa diposahin."
"Kadang kita dipisahin loh, Ya, karena pekerjaan kita."
Maryam tertawa membenarkan.
"Kita masih SMA." Tukas Albar.
Anthony menggeleng kepalanya, "Itu dia. Biarin kalian mengenal satu sama lain dulu. Ada baiknya Papa setuju perjodohan ini. Kamu harus ada yang merhatiin disini."
"Albar nggak butuh perhatian, Om. Albar bisa sendiri, Aul juga bisa sendiri disini. Kita nggak boleh dijodohin kayak gini." sambung Auris tak terima, "Kita masih laku."
"Nggak gitu, Sayang. Kamu tetep harus sama Albar. Begitupun Albar."
Auris langsung menatap Vincent meminta pertolongan. Vincent hanya tersenyum, ia mengusap kepala Auris dengan lembut.
"Papa nggak ada kehendak buat larang Mama soal ini, Aul." ucap Maryam tersenyum sombong, "Mama nggak mau kamu salah pilih pasangan. Selama Mama di Rumah juga, Nggak ada cowok yang anterin kamu pulang selain Xaverio atau Tulip."
Auris meremas dress dibawah meja, ia tak bisa membantah Mamanya. Auris slalu kalah jika berdebat dengan Maryam.
Mereka juga nggak tau gimana Albar yang sebenarnya. Penjahat kelamin yang paling gila. Entah berapa banyak lubang yang Albar sodok setiap harinya. Membayangkan saja ia merinding. Auris tidak ingin mendapatkan bekasan untuk dirinya yang masih perawan.
Auris langsung menatap Albar marah. Albar juga membalas tatapan Auris. Jika percikan api kebencian terlihat dengan mata telanjang. Bisa-bisa Mansion kediaman Auris terbakar. Mereka tak akan pernah bisa bersama.
Makan Malam yang direncakan Maryam berjalan sesuai keinginan Mamanya. Auris tidak memperdulikan pembicaraan malam ini yang diisi dengan kerja sama, saham, dan masa depan mereka.
Auris bisa mendapatkan masa depan yang cemerlang tanpa dibantu kedua orang tuanya. Auris tak butuh perjodohan sialan ini. Ia akan langsung meminta menikah jika pasangannya seorang Harry Styles. Jika bentukan seperti Albar Jaxton, ia mana mau.
Kalau bukan karena Valerie ngajak clubbing, lalu memilih mendengarkan Tulip untuk stay di rumah bersama series-series. Ia tak akan ada di posisi seperti ini. Emang benar, Hidupnya sial.
"Mabuk lagi mabuk lagi!" bentak Maryam menyeret Auris kasar menuju kamarnya.
"Siapa yang ngajarin mabuk kayak gini, Auristella?!"
"Mama." jawab Auris terkekeh sambil terhempas ke atas kasur.
Vincent datang, membantu Maryam untuk membenarkan tubuh Auris, "Mama gantiin bajunya." Vincent jalan ke arah wardrobe mengambil pajama berwarna hitam.
KAMU SEDANG MEMBACA
[Quille 2: Two Ghosts] (ON GOING)
Romansa[Warning] Young-adult Kisah mainstream yang akan menggelitik perut para pembaca. Albar yang slalu tidak percaya akan suatu hubungan. Harus dihadapkan dengan perintah Tuan Orallus untuk memulai hubungan dengan Auris. Albar si tukang keluar masuk lub...
![[Quille 2: Two Ghosts] (ON GOING)](https://img.wattpad.com/cover/275808931-64-k175313.jpg)