W A R N I N G !

52 3 0
                                        

Halo, saya dafila...
Saya ingin memberitahukan bahwa cerita ini merupakan cerita fiksi. Seluruh nama tokoh, tempat, organisasi, dan lainnya merupakan khayalan. Apabila terdapat kesamaan dengan kenyataan, hal itu merupakan sebuah ketidaksengajaan, mohon untuk dimaafkan.
Cerita ini semata-mata bertujuan hanya untuk menghibur, tidak ada maksud untuk menipu atau sebagainya. Apabila terdapat kata-kata yang tidak pantas atau perbuatan yang buruk, mohon jangan ditiru. Bijaklah dalam membaca, okay? See you...

With love,
Dafila28

©2021

Happy reading!

•••🌷•••

Seorang remaja berusia 21 tahun yang baru mengetahui alasan dibalik kematian orang tuanya itu sedang menangis sendirian di atas gedung pencakar langit. Mengapa selama ini ia bisa tertipu? Tidak! Mengapa mereka begitu tega? Apakah selama ini dirinya kurang layak?

Dada remaja lelaki itu bertambah sesak seiring pertanyaan-pertanyaan yang ia miliki hanya dapat ia pikirkan. Percuma juga jika ia mengungkapkan hal itu. Pada akhirnya toh ia tidak akan mendapat jawaban yang ingin ia dengar.

"Axis!!" Teriak seorang remaja laki-laki lain yang baru saja datang dengan terengah engah.

Remaja laki-laki yang tadi menangis sendirianpun kini mengusap air matanya kasar dan menoleh kepada sosok yang memanggilnya tadi. "Mark? Dari mana kau tahu bahwa aku ada di sini?" Tanyanya kemudian.

"Bagaimana mungkin aku tidak mengetahui sahabatku ada di mana? Heh?" Remaja bernama Mark itu kemudian bergabung bersama Axis, duduk di tepian gedung pencakar langit.

"Oh ya, mengapa kau ke sini sendirian dan tidak mengajakku? Oh ayolah bung, hal itu tidak menyenangkan. Kau tidak asik, X."

Axis menghela napasnya berat. "Aku hanya ingin menyendiri," ujarnya.

"Ada apa? Apa kau mendapat masalah?" Tanya Mark khawatir.

Axis kembali menatap mata Mark dengan tatapan sendu. "Tidak. Kau tidak akan mengerti sekalipun aku menjelaskannya padamu." Katanya langsung mengalihkan pandangan ke arah matahari terbenam.

"Hey! Kau bisa menceritakan segalanya padaku, X. Aku sahabatmu, apa kau meragukanku?"

"Ini tidak semudah yang kau pikirkan, Mark."

Kini giliran Mark yang memandang Axis dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia berujar, "Kau menjadi sahabatku karena itu kau, Alexis Abraham. Orang yang selalu memercayaiku di saat orang lain tidak melakukannya. Aku siap mendengarkan saat kau sudah siap bercerita, okay." Setelah itu Mark menepuk bahu Axis pelan sebelum meninggalkannya seorang diri.

"Maafkan aku, Mark." Ucap Axis pada udara kosong di depannya.

****

"Bunuh dia saat ini Axis!" Ujar seorang pria paruh baya pada Axis.

Mark tidak tahu jika orang itu akan membawa temannya. Damon Magellas——pemimpin Bride Crown sekaligus musuh Black Phantom. Seharusnya Mark selalu menemani Axis agar temannya itu tidak terpengaruh oleh hasutan Damon Magellas.

"Tidak! Jangan lakukan itu, X. " Mark menggeleng agar Axis sadar bahwa itu salah. Dia berharap Axis akan kembali padanya dan Black Phantom.

"Kita telah berjuang bersama untuk masuk Black Phantom, X. Apa sekarang kau akan meninggalkan mimpimu?"

"Jika kau ingin bergabung dengan Bride Crown, kau harus bisa membunuh sahabatmu sendiri Alexis. Buktikan jika dirimu tidak terikat lagi dengan Black Phantom. Itulah persyaratan dariku!" Hasut pria tua itu agar Axis segera melakukan perintahnya.

Mark tidak tahu apa yang akan dipilih oleh Axis. Dia harap sahabatnya itu tidak akan terpengaruh oleh Damon Magellas.

Dorr....

Tubuh Mark mundur ke belakang karena kehilangan keseimbangannya. Merasakan rasa sakit yang menjalar di dadanya membuat kaki Mark tidak bisa menopang tubuhnya lebih lama lagi. Kemudian Mark berdiri dengan tumpuan kedua lututnya. Dia melihat dada kirinya, tempat di mana darah itu mengucur dengan deras.

Dan akhirnya Mark tumbang. Di sela-sela kesakitannya, dia masih mampu melihat kepergian Axis bersama Damon Magellas yang semakin jauh. Mark gagal. Dia telah gagal melindungi sahabatnya.

•••🌷•••

Alexis AbrahamOnde histórias criam vida. Descubra agora