Part 1

41.4K 3K 76
                                        

"SERANG!"

"HAA!"

Jenderal perang yang tak lagi terlihat muda berseru memerintahkan pasukannya untuk menyerang pasukan lawan. Para prajurit berteriak semangat dan bergerak maju bersama Sang Jenderal.

TRING!

SRET!

JLEB!

Adegan menangkis serangan, menebas dan menusuk menjadi hal yang biasa bagi mereka. Tidak ada belas kasih meskipun kepala menggelinding di depan mereka, yang ada dipikiran mereka hanya membunuh. Hanya hal itu yang dapat merekalakukan jika ingin hidup, jika ingin kembali pulang.

Jenderal yang tubuhnya mulai terlumuri oleh darah melihat anak gadis yang berumur lima belastahun ikut menebas prajurit musuh dengan cepat tanpa ampun. Jika dihitung, sebagian besar prajurit musuh yang tumbang terbunuh oleh sosok kecil.

Jenderal melihatnya tanpa ekspresi, seolah-olah hal tersebut sudah pasti harus dilakukan oleh anak itu.

"Hah..., hah" Gadis itu berhenti mengayunkan pedangnya saat menyadari tak ada lagi lawan yang harus ditebas.

Gadis itu melihat sekelilingnya, antara mayat prajurit musuh dan prajurit dari negerinya tergeletak dimana-mana.

Ia mengelap darah yang ada diwajahnya menggunakan punggung tangan. Kemudian ia membalikan badan, Jenderal Perang masih berdiri dengan kokoh meskipun tubuhnya terdapat beberapa sayatan.

Meskipun terdapat mayat prajurit, gadis itu dapat melihat masih cukup banyak para prajurit dari negerinya yang hidup.

Posisinya berada cukup jauh di depan mereka. Tatapan mata antara ia dan Jenderal bertemu. Keduanya sama-sama tidak menunjukkan ekspresi. Jenderal Perang terlebih dahulu melangkah pergi kembali ke barak, diikuti oleh sisa prajurit yang masih bertahan.

***

"Mari Minum!" Api unggun dikelilingi para prajurit sebagai penghangat badan dari malam yang dingin. Mereka bersorak dan saling menyulangkan gelas mereka yang penuh dengan minuman.

"Jangan minum terlalu banyak, besok pagi kita akan kembali ke istana" Jenderal memberikan mereka peringatan.

"Baik!" Semua prajurit semakin senang ketika atasannya memberikan izin minum-minum, meskipun hanya sedikit.

"..., dan kau!" Jenderal menunjuk gadis yang sedari tadi beristriahat di bawah pohon besar yang tidak jauh dari grumbulan prajurit sembari memeluk pedangnya.

Seketika semua prajurit terdiam. Mata mereka semua tertuju pada gadis itu yang mulai beranjak memasuki tenda, mengikuti Jenderal.

"Kasian sekali" Bisik salah satu prajurit.

"Benar, padahal anak sendiri" Sahut prajurit lainnya.

"Hah, terlebih lagi masih lima belas tahun dan seorang anak gadis. Hebat dalam memimpin pasukan tapi tidak dalam urusan anak" Mereka semua mengangguk setuju.

"Meskipun masih lima belas tahun dan seorang gadis, tapi apakah kalian tadi lihat? Kemampuannya benar-benar bukan main. Siapa yang di hadapannya kepala pastiakan putus!"

"Julukan 'Si Gadis Mati' bukan hanya untuk main-main" Meskipun semua setuju, mereka bergidik ngeri. Bagaimana seorang anak lima belastahun bisa menebas ratusan kepala manusia.

"Diamlah, jika terdengar kepala kalian akan pindah tempat" Seketika mereka terdiam dan memilih melanjutkan acara minum-minum.

Jenderal duduk di meja kerja sederhananya dalam tenda, tepat di depannya berdiri gadis kecil. Gadis kecil itu adalah darah dagingnya.

The Death Girl [TAMAT]Des histoires addictives. Découvrez maintenant