Part 2

133 11 2
                                        


"Aku
Menyukaimu

Aku berusaha untuk menahannya"

DAY6 - I like you

.

.


Aku sudah terlanjur kesal. Dengan wajah yang berusaha kukendalikan sebisa mungkin, aku langsung melayangkan kata-kata sarkastik kepada pria di depanku, tatapanku tajam dan dingin.

"Maaf, aku tidak tahu siapa Anda. Tapi bisakah tidak membuat keributan saat orang-orang yang menghargai waktu dan pekerjaannya sedang bersiap berangkat kerja?! Ini hari pertamaku, dan karena suasana yang Anda ciptakan, aku terpaksa terlambat. Lain kali, kalau mau bersenang-senang, pergilah ke lapangan—jangan sampai menghalangi orang lain yang ingin bekerja."

Pria itu menatapku datar, lalu berjalan santai sambil berujar,
"Aku rasa kau baik-baik saja. Buktinya, masih sanggup menyindirku."

Gila! Rasanya ingin kutonjok wajahnya kalau saja tinggi badannya tidak menjulang begitu. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu setelah membuat semua kekacauan yang menjebakku dalam situasi ini?

"Psycho!"

Umpatku ketika melihatnya berlalu di tengah kerumunan.

Aku benar-benar tak peduli lagi. Tapi jelas sekali, semua mata—terutama wanita-wanita itu—tertuju padaku setelah mendengar ucapanku pada pria berpakai serba hitam yang mereka elu-elukan itu. Dengan menahan sakit di lutut dan telapak tanganku, serta rasa kesal yang menyesakkan dada, aku berjalan cepat meninggalkan kerumunan, meninggalkan pria itu di belakang.

Telingaku masih bisa menangkap bisikan para wanita yang jelas-jelas membicarakanku.

"Gila! Siapa wanita itu? Berani sekali bicara begitu pada Brian kita."
"Dia pikir siapa dirinya? Berani-beraninya memarahi Brian yang sudah menolongnya. Tidak tahu berterima kasih! Harusnya bersyukur ditolong orang seperti Brian."

Aku menahan diri sekuat tenaga. Cukup sudah. Aku tidak mau memperpanjang masalah.
Orang seperti Brian? Hah! Bahkan kalaupun dia seorang CEO, itu tidak akan mengubah kata-kataku barusan.

Akhirnya aku sampai di departemen dalam kondisi yang benar-benar berantakan. Kulirik jam tanganku—08.30.
Hari pertama, dan aku sudah terlambat.

Terimalah, Kay. Kalau dimarahi habis-habisan, jangan cari alasan, meski semua ini bukan salahmu. Sehari saja tunduk dan minta maaf, meski sebenarnya kau adalah korban.

Dengan langkah berat, aku mengetuk pintu ruangan Kepala Departemen Design Art & Creative. Saat dipersilakan masuk, aku langsung disambut wajah manajer dan kepala departemen yang jelas-jelas tidak enak melihatku.

"Nona Kaylee Nightingale, benar?"

"Iya, Pak. Saya Kaylee Nightingale."

Aku mencoba menjawab dengan tenang dan tetap berdiri tegap, walau penampilanku sudah seperti orang baru selesai bertarung.

"Anda tahu ini jam berapa? Bagaimana bisa di hari pertama kerja, Anda tidak mematuhi jam masuk?"

Suara Ibu Allen—manajerku—tegas, bercampur kecewa.

"Maaf, Bu. Saya tidak akan mengulanginya lagi."

Aku benar-benar pasrah. Air mata sudah menekan ujung mataku, tapi aku berusaha menahannya sekuat tenaga. Aku tidak mau dicap bermental lemah. Padahal, aku hanya menangis karena dua hal: ketika diperlakukan tidak adil, atau ketika dikhianati.

Because of youWhere stories live. Discover now