09. Cowok-cowok sok keren

626 92 150
                                        

"Ini ... Ray, benar?" Pria paruh baya mengalihkan pandang dari kertas putih di tangan ke arah anaknya; tepat di sebelahnya.

Si anak mengangguk setengah mantap. "Ray boleh, kan? Ini kesempatan terakhir, Ray, Yah."

"Tapi bunda pasti akan marah besar. Tahun lalu saja, kalian sampai berantem," ujar si ayah berambut klimis. Ingatannya tak dapat lagi membayangkan bagaimana murka istrinya manakala tahu keinginan anaknya ini.

Istrinya sudah pasti akan kembali menolak---bukan tanpa alasan; tapi sudah sangat mutlak di penolakan terakhir Saras tahun lalu. Iya, OSN tahun lalu Rayhan hendak juga berpartisipasi, tapi sebelum itu Saras tak tak memberi restu.

Sebelumnya sudah dikatakan, trauma membuat Saras tak ingin lagi membiarkan Rayhan jauh-jauh darinya. Mengikuti olimpiade bukan tidak mungkin Rayhan akan lulus dari tahap ke tahap. Dan jika sampai ke tahal nasional artinya Rayhan harus bermalam di kamp pelatihan bukan? Tentu Saras saat itu sudah memikirkan amat matang sebelum restu tak ia ijabkan untuk anaknya.

Anaknya yang berharga, yang lahir dengan detak jantung sedikit lebih spesial adalah tak mudah. Bukan hanya mereka; Dendi pun tahu Rayhan lah paling tak mudah di sini, tapi Dendi mengerti kekhawatiran istrinya. Dendi pula sangat mengasihi anaknya. Bukanlah seharusnya menjadi hambatan untuk Rayhan bertumbuh tapi beberapa hal di dunia seringkali memang tidak harus sesuai dengan kemauan kita.

Dendi ingin berkata demikian; sayang, nuraninya sebagai ayah tak cukup tega menebas tekad Rayhan dari mata penuh harapnya.

"Itulah mengapa Rayhan minta Ayah yang mengisi formulir Rayhan. Ayah bisa, kan? Ayah bisa merahasiakan ini ke bunda. Rayhan janji, Rayhan nggak bakal maksa tubuh Rayhan," bujuknya penuh harap.

Dendi terdiam sedikit lama. Satu sisi ia khawatir istrinya, di sisi lain anaknya berhak menempuh jalannya.

"Kamu menyuruh ayah berbohong lagi ke bunda? Ray nggak ingat kali terakhir ayah juga sampai ikut-ikutan disemprot padahal ayah cuman ingin memberi bunda sedikit pencerahan," tutur Dendi mengalir amat tenang dan lembut bagai sungai tanpa badai.

Ayahnya tenang dan objektif, adalah alasan Rayhan nekat juga mengatakan hal tersebut kepadanya.
Ia pun mengangguk mantap. Menurutnya, kali ini selama ia bisa kong-kalikong dengan ayahnya, Rayhan rasanya bisa melangkah meski sedikit.

"Tapi ayah nggak bisa jamin kita bisa lolos tanpa sepengetahuan bunda."

"Rayhan juga belum tentu lulus seleksi tingkat provinsi, Yah, jadi ..."

"Jadi Rayhan juga masih ragu sama kemampuannya?" tuding Dendi sedikit tajam menatap Rayhan. Belum Rayhan menjawab, ia kembali berucap, "Kalau begitu, buat apa ambil resiko? Buat apa susah-susah kalau-"

"Bukan begitu, Yah," Rayhan memotong, duduknya ia ubah menghadap Dendi sepenuhnya. "Rayhan hanya ..."

"Kalau Rayhan nggak yakin bisa lulus, ayah nggak izinin." Membuang tatap ke depan---di mana siswa satu persatu berdatangan memasuki lahan parkir, Dendi berucap demikian.

Bola mata membesar, alisnya terangkat, mencerna baik-baik ucapan ayahnya. "Maksud ayah ... ayah izinin?"

Dendi menoleh, berseri-seri wajah Rayhan meski samar dapat ia tangkap. Alisnya ikut terangkat sedikit tak menyangka siratnya langsung ditaksir secepat itu.

Tak ada jawaban lagi, Rayhan kontan menghambur memeluk Dendi dengan perut sedikit buncitnya. Rayhan tersenyum puas.

"Eh, anak cowok kelakuannya kayak gini bagaimana bisa? Nanti teman-teman kamu lihat gimana?" protes Dendi layangkan melalui mulutnya, sedang tubuhnya menerima saja dipeluk erat---bahkan tanganya sempat mengelus kepala Rayhan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 21 hours ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Atiyah untuk Rayhan (Republish)Where stories live. Discover now