PROLOG

16 1 1
                                        

Dua puluh lima tahun yang lalu…

Jakarta, Taman Pahlawan 17 Agustus 20XX.

Seluruh penjuru negeri tengah larut dalam perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap lapisan masyarakat, dari tua hingga muda, tumpah ruah memeriahkan ulang tahun bangsa. Namun, di tengah hiruk pikuk kebahagiaan itu, sebuah fenomena alam ganjil terjadi. Langit yang semula cerah tiba-tiba gelap, tertutup awan hitam yang pekat. Kota Jakarta yang tadinya penuh tawa mendadak senyap, bagaikan kuburan.

Setiap mata tertuju ke langit, menatap gelisah gumpalan awan yang menggulung bagai ribuan ombak, diiringi percikan-percikan kilat yang saling menyambar. Sebagian orang diliputi ketakutan, berteriak histeris. "Kiamat! Kiamat!"

Di tengah kepanikan itu, seberkas sinar terang tiba-tiba muncul dari pusat gumpalan awan. Cahaya itu memancar begitu kuat hingga membuat setiap mata tak sanggup menatapnya. Ketika mereka perlahan membuka mata, langit kembali bersih seperti semula, hanya menyisakan tanda tanya di hati setiap orang.

Satu minggu kemudian, hal aneh mulai terjadi di Jakarta. Sebuah retakan dimensi muncul di tengah jalan raya, membuat arus lalu lintas macet total. Semakin banyak orang datang ingin melihat fenomena ganjil ini, termasuk para wartawan yang meliputnya secara langsung, menyebabkan seluruh negeri heboh.

Namun, saat orang-orang berkumpul, dari dalam retakan itu muncul makhluk aneh berkaki enam, menyerupai serangga raksasa. Makhluk-makhluk itu langsung menyerbu kerumunan, memangsa siapa saja. Kekacauan tak terhindarkan, banyak korban berjatuhan, mobil-mobil bertabrakan, dan bangunan hancur akibat perlawanan dari pasukan keamanan. Pertempuran melawan makhluk aneh itu berlangsung selama dua hari dan menghancurkan sebagian kota. Beberapa hari setelahnya, retakan lain bermunculan di berbagai belahan bumi, dan dunia berada di ambang kehancuran.

Satu minggu setelah kemunculan retakan dimensi pertama di Jakarta, kepanikan pecah di seluruh dunia. Apa yang semula dianggap fenomena lokal mendadak menjadi malapetaka global. Retakan-retakan serupa, bagaikan luka menganga pada realitas, bermunculan di berbagai belahan bumi—di kota-kota besar seperti New York, Tokyo, dan London, hingga ke pelosok pedesaan di Afrika dan Amerika Latin.

Dari setiap retakan, keluar gerombolan makhluk-makhluk aneh. Mereka bukan hanya serangga raksasa berkaki enam seperti yang pertama kali muncul. Di pegunungan Himalaya, kawanan Yeti bermata merah menyerang dengan cakar es yang kebal peluru. Di sungai Amazon, monster air bersisik hijau dengan rahang penuh taring membalikkan kapal-kapal dan memangsa siapa saja yang berada di dekat air. Di padang gurun Mesir, makhluk-makhluk pasir berbentuk kalajengking raksasa merayap dari bawah tanah, menyemburkan asam yang melelehkan baja.

Dunia yang tadinya penuh tawa kini dipenuhi jeritan ketakutan. Jalanan yang semula ramai oleh kendaraan berubah menjadi tumpukan mobil yang ringsek, hangus terbakar. Bangunan-bangunan pencakar langit yang dulu menjadi simbol kemajuan runtuh menjadi puing-puing, menimbun ribuan nyawa. Pasukan militer, yang dilatih untuk perang antarbangsa, tak berdaya menghadapi musuh tak terduga ini. Senapan serbu dan tank yang canggih sekalipun terbukti tak efektif. Monster-monster itu kebal peluru, dan serangan mereka begitu brutal hingga tak menyisakan harapan.

Di Indonesia, situasi tak jauh berbeda. Puluhan retakan muncul dari Sabang sampai Merauke. Dari retakan di sekitar Gunung Merapi, muncul makhluk-makhluk api yang membakar hutan dan desa. Di perairan Bali, naga laut raksasa menghancurkan kapal-kapal nelayan dan kapal pesiar. Perlawanan dari Tentara Nasional Indonesia begitu heroik, tetapi kekuatan mereka tidak sebanding. Para prajurit berjuang hingga titik darah penghabisan, tetapi satu per satu, mereka tumbang. Keputusasaan meluas. Stasiun televisi, yang awalnya menyiarkan berita, kini hanya menampilkan laporan evakuasi dan pesan perpisahan dari penyiar yang ketakutan.

Pemerintah di seluruh dunia mengadakan pertemuan darurat, tetapi tak ada satu pun yang memiliki solusi. Ilmuwan dan ahli fisika sibuk menganalisis retakan, tetapi hanya menemukan bahwa fenomena itu berada di luar pemahaman mereka. Dunia seolah-olah telah ditinggalkan oleh dewa-dewi, jatuh ke dalam jurang kekacauan yang tak terhentikan. Hanya keajaiban atau campur tangan kekuatan lain yang bisa menyelamatkan umat manusia dari kepunahan total.

Di tengah kekacauan inilah, desas-desus mulai menyebar. Kisah-kisah tentang orang-orang yang tiba-tiba mendapatkan kekuatan aneh dan para pertapa legendaris yang bangkit dari pengasingan mulai menjadi perbincangan. Mereka adalah harapan terakhir. Mereka adalah bibit-bibit Laskar Garuda, yang kelak akan mengubah nasib dunia.

Laskar GARUDAWhere stories live. Discover now