Aurum Dan Aurora #1

33 5 1
                                        

Di suatu kota, tempat ibu dan ayahku tinggal. Suatu malam, di ruang persalinan ada seorang ibu yaitu ibuku yang sedang mempertaruhkan nyawanya demi mengeluarkan dan melihat bayinya yang selama sembilan bulan di dalam perut. Setelah rasa sakit yang ternetralkan oleh kebahagiaan, bayi pun keluar. Senyum dan ketawa kecil bahagia Ibu dan ayah melihat kehadiran bayi itu. Ibu dan ayah memberi nama bayi itu 'Aurum Lisitsa'. Aku terlahir dengan wajah yang cantik, tetapi kata dokter aku memiliki kelainan yaitu otot kelopak mata kananku tidak berfungsi. Sehingga, hanya mata kiriku yang terbuka.

Selama kurang lebih dua tahun, kami bertiga hidup bahagia sebelum akhirnya kami mendapat musibah, ayahku meninggal saat aku berumur dua tahun. Di kamar rumah, aku lihat ibu yang menangis. Hal itu membuatku ikut menangis walau aku sebenarnya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Seminggu setelah kepergian ayah, kami pindah ke desa tempat pamanku tinggal dan puluhan ladang ternak yang dimilikinya. Di desa yang selalu dingin dan salju yang setia mengguyuri, ada anak yang bernama Aurum, yaitu aku. Di sana aku tinggal bersama ibu dan paman yang selalu berkunjung.

Pamanku adalah seorang peternak yang kaya karena memiliki banyak ladang ternak. Ibuku juga seorang peternak dan memiliki banyak ladang ternak. Beberapa ladang ternak ibu diteruskan oleh paman. Setiap hari ibu berkeliling ladang sama seperti paman. Ibu sangat ramah dengan pekerjanya. Aku dan ibu hidup bahagia di sana walau tidak bersama ayah.

Empat tahun kemudian, sudah menginjak tujuh tahun, aku tumbuh menjadi anak yang cantik hidung mancung dengan mata kanan yang selalu tertutup dan tanda lahir berwarna coklat di daguku. Tapi aku tidak menganggap diriku cantik, aku menganggap diriku ini tidak sempurna, mataku hanya satu. Aku benci wajahku.

Tibalah hari pertama aku masuk sekolah. Aku sekolah di kota kecil tidak jauh dari desa tempat tinggalku. Setelah tiga hari sekolah, Aku menyadari bahwa ada suatu yang janggal. Tidak ada orang yang mau berteman denganku. Bukan tidak mau, mereka hanya selalu menjauhiku. Aku sangat sedih dan kesal. Aku tau kenapa ini terjadi, ya, karena memang wajahku yang jelek. Sehingga orang-orang enggan mendekatiku. Walaupun orang-orang menjauhiku, aku tidak peduli . Malah bagus, jadi tidak ada yang melihatku. Walau sebenarnya sedih karena aku berpikir bahwa terlahir tidak normal.

Setiap minggu ibu mengajakku melihat indahnya cahaya di atas langit seperti awan berjatuhan atau biasa yang disebut Aurora. Kami mengunjunginya dengan mobil. Tidak pernah bosan kami mengunjunginya setiap minggu. Memang, tidak terlalu jauh dari rumah kami, hanya membutuhkan sekitar dua jam perjalanan. Aku selalu tersenyum sambil memandang dari ujung hingga ujung cahaya itu setiap kali melihatnya. Cahaya itu bersinar setiap saat. Tetapi, bisa kita lihat dengan mata telanjang hanya dalam keadaan gelap yaitu malam hari dan aurora hanya ada di bumi bagian utara atau selatan yang dekat dengan kutub (untung saja tempat tinggalku tidak jauh dari kutub). Rasanya seperti sedang berdiri di surga setiap diajak ibu ke pemandangan yang adiwarna itu. Di sana ibu selalu memujiku sambil melihat ke atas cahaya itu. 'Even gold and aurora can't beat your beauty,' ('Bahkan emas dan aurora tak bisa menandingi kecantikanmu'). Aku tetap tidak suka mendengar pujiannya karena aku menganggap bahwa ibu sedang berbohong.

Aku selalu sedih setiap pulang sekolah sambil menatap wajah di sebuah cermin di kamarku. 'Kenapa aku tidak sempurna, kenapa mata kananku tidak bisa terbuka,' gumamku dalam hati. Kesedihanku membuat aku menangis sampai ibu mendengar dan masuk dalam kamar. Sambil merangkulku, ibu memuji dan memberi pesan kepadaku.

'Mata kananmu tidak terbuka itu menandakan kamu itu sempurna. Kamu masih bisa melihat, kamu orang yang spesial, benar kan?' kata ibu sambil menatapku melalui cermin.
'Tidak bu, aku ini tidak sempurna. Wajahku ini tidak normal.'

Setelah itu aku lepas rangkulan ibu dan lari keluar membantu paman memberi makan hewan ternaknya dengan wajah cemberut.

Besoknya aku melepas cermin yang tertempel di tembok dan ku taruh di kamar ibuku. Aku tidak ingin melihat wajahku di cermin lagi. Tetapi setiap ibu melihat cermin di kamarnya, ditempelkannya lagi cermin itu di kamarku saat aku sekolah. Hal ini dilakukan secara konstan setiap hari. Setelah satu minggu, aku pun membuang cerminnya. Ibu sangat sedih melihatnya.

Aurum Dan AuroraWhere stories live. Discover now