The Room

61 9 0
                                        

Aku Gabriell, biasa dipanggil Gebi, 18 tahun dan sedang dalam masa perkuliahan semester dua. Untuk menghabiskan liburan semester, aku memilih berkunjung ke rumah Om Revan di Desa  Rawabogo, Bandung. Om Revan menikah lima tahun lalu dengan Tante Ayu namun belum dikaruniai anak hingga sekarang.

Perjalanan dari Jakarta ke Bandung ini sangat melelahkan. Aku langsung merebahkan tubuhku dan menatap langit-langit kamar. Setiap aku berkunjung, ini tetaplah menjadi kamarku. Tidak banyak yang berubah selama dua tahun aku tidak datang kesini.

Kerongkoranganku rasanya kering. Aku segera bangun dan berjalan menuju dapur. Dua gelas air habis kuminum.

"Eh Gebi, sore ini gak mau jalan-jalan keliling desa dulu?" tanya Om Revan yang sedang duduk di kursi meja makan.

"Enggak dulu deh, Om. Capek banget soalnya," ucapku lalu mendekati Tante Ayu yang sedang memasak.

Saat sedang mengaduk masakannya, aku melirik kearah ujung ruangan ini. Disana, ruangan dengan pintu kayu tua itu. Sudah empat kali aku datang kesini, belum pernah sekalipun kulihat pintu itu dibuka. Namun, aku tidak pernah berani menanyakannya.

***

Aku terbangun tengah malam ini. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 01.35 dini hari. Ah, rasanya kerongkonganku gatal dan kering.
Aku harus minum air hangat yang banyak. Aku bangun dan menurunkan kakiku yang langsung merasakan dinginnya lantai keramik.

Setelah minum dengan puas, aku berjalan kembali ke kamar. Namun, saat berada di pintu dapur, aku tiba-tiba melihat siluet seseorang yang berjalan ke arahku.

Bulu kudukku langsung berdiri. "Siapa itu!"

Siluet itu berhenti. "Gebi?"
Tak lama lampu pun dinyalakan dan terlihatlah Om Revan yang berdiri beberapa meter di depanku.

Aku langsung bernapas lega. "Ternyata Om. Aku kira hantu."

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu ini. Kamu ngapain jam segini masih belum tidur?"

"Tadi habis minum, Om." Aku melirik kearah tangannya yang membawa sebuah kunci. "Lah Om mau ngapain jam segini belum tidur?" tanyaku balik.

"Om mau minum juga," ucapnya sambil melewatiku.

Tak ingin berlama-lama disini, aku segera masuk ke kamarku dan mengunci pintunya. Entah mengapa aku merasa sedikit aneh dengan paman. Kunci apa itu? Aneh sekali. Tidak ada orang yang akan menjadikan beberapa kayu manis sebagai mainan kunci, bukan?

Ah sudahlah. Aku tidak baik mencurigai Om-ku sendiri. Aku harus tidur kembali.

***

Hari ini cukup seru juga. Pagi tadi Om dan Tante membawaku jalan-jalan ke Kawah Putih. Namun, sore ini mereka harus pergi.

"Om sama Tante pergi dulu, ya. Langsung kunci pintunya," ucap Om Revan.

Aku mengangguk dan melambai pada mobil mereka yang semakin jauh. Tante Ayu adalah seorang guru, hari ini dia ada jadwal untuk mengajar kelas 9 yang les sore. Sedangkan Om Revan memiliki urusan di kantor camat. Ya, dia bekerja disana sebagai sekretaris.

Aku langsung mengunci pintu depan seperti yang mereka katakan. Aku menuju dapur untuk mengambil cemilan yang Tante katakan tadi. Namun, entah mengapa saat aku memasuki dapur ini, mataku tak pernah tak melirik kamar dengan pintu tua yang berada di ujung sana.

The Room Where stories live. Discover now