Mudik yang Terasa Berat
La: Za... aku ingin bercerita
Za: Berceritalah sayang, apa yang tengah membebani pikiranmu?
La: Aku tidak tahu. Tapi, ketika aku hendak berwudhu tadi, tiba-tiba aku teringat pulang.
Za: Kamu kangen sama mama?
La: Bukan, justru aku malah takut untuk pulang, aku tidak ingin pulang sayang, aku merasa takut.
Za menggenggam tangan La, dan membuat La menatap matanya yang tenang.
Za: Ceritakan apa yang membuatmu merasa takut, aku akan mendengarkan.
La: Kau ingat, aku ke mari dengan alasan mencari pekerjaan sembari belajar, tapi hingga kini aku masih belum mendapatkan pekerjaan, Sayang. Dulu, mereka seolah tidak mau menerima pekerjaanku, bahkan kakakku cenderung mengejek pekerjaanku. Aku harus bersikap bagaimana?
Za: Sayang, mencari uang memang penting, tapi kamu juga sudah berusaha untuk melamar pekerjaan bukan?
La mengangguk.
Za: Berapa kali kamu menyetor lamaran?
La: Banyak, tapi tidak ada respon.
Za: Terpanggil atau tidak terpanggil itu bukan salah kamu, Sayang. Kamu sudah berusaha. Kamu hanya perlu bersabar, saat kamu bisa menenangkan dirimu bahwa kamu tidak apa-apa dengan tidak memiliki pekerjaan, maka kamu juga akan mampu menenangkan mama.
La: Benarkah?
Za: Iya
La: Bagaimana jika mereka malah merendahkanku karena tidak kompeten sehingga ditolak bekerja?
Za: Masa, sih, mama dan papa akan seperti itu?
La: Iya, mereka seperti itu, bagi mereka menjulid i anak sendiri adalah bentuk supaya mereka bisa bangkit dan membuktikan kalau hinaannya salah.
Za: Kan bagus maksudnya, untuk membuatmu termotivasi.
La: Tapi aku merasa bahwa aku tidak diterima dengan kekuranganku, Sayang. Mereka seolah hanya menerima mereka yang berhasil. Dan mengucilkan yang gagal. Padahal kan aku sedang berproses.
Za: Sini sini, apa yang harus aku lakukan supaya membuat kesayanganku ini tenang dan ceria kembali.
La: Aku ingin tidak pulang atau aku pulang dengan cerita bahwa aku memiliki pekerjaan dan menghasilkan uang.
Za: Aku kangen mamamu juga, loh. Hmm... ya sudah yuk kita cari-cari lagi lowongan-lowongan yang relevan sama kemampuan kamu.
La: Sayang,
Za: Iya, Sayang.
La: Kenapa hidup terasa begitu sulit?
Za menggenggam kedua tangan La dan mengecupnya. Kemudian membawa La menyamping ke dalam pelukannya. Za mengelus pelan bahu La, menenangkan.
Za: Sayang, hidup itu enggak berat kok. Pikiran kamu aja yang membuatnya kayak gitu, mimpi-mimpi kamu, stigma kamu, standart standart kamu, coba kita berpikir lebih sederhana dan lebih bersyukur, jangan terlalu memaksakan diri, lakukan aja apa-apa yang seharusnya kamu lakukan.
La: Hidup tanpa mimpi itu bakal seperti apa?
Za: Bukan tanpa mimpi, sayang. Jika kamu punya mimpi dan itu membuatmu merasa hidup terlalu berat, coba ubah mimpimu, atau cari apa tujuan dan yang kamu ingin jika mimpimu benar-benar terkabul.
A: Kenapa harus serumit itu, Sayang? Aku lelah.
Za hanya tersenyum, kemudian mengecup kening La. Dia membuat La tertidur dipelukannya. Dalam keheningan itu, Ih(za) menatap La dengan intens.
Za: La, Sayang. Tidak perlu membebani hidup dengan standart-standart yang dibuat orang lain untuk kamu. Tidak perlu membuat mimpi yang diatur oleh orang lain untuk kamu. Buat saja mimpi dan daftar keinginan-keinginan yang benar-benar kamu mau. Jika hidup masih terasa terlalu berat, tumpahkan saja semua di pundakku, La.
Tabik,
Jika teman-teman punya keluhan atau sesuatu yang terasa membebani pikiran, boleh DM nanti saya bikinkan untuk dialog selanjutnya.
YOU ARE READING
LA & ZA
RomanceTulisan ini memuat percakapan-percakapan antara Zu(la) dan Ih(za) mengenai apa pun. Tentang hidup, pendidikan, sosial, kegundahan hati, cara mencintai diri sendiri. Yang pasti percakapan-percakapan ini dipantik dari kegundahan hati La maupun Za. Se...
