FIRST DAY

71 9 6
                                        

"Kita putus" anak laki-laki itu tak segan-segan mengucapkan kata putus dengan perawakan matanya yang tajam.

"Terserah" sahut gadis didepannya yang tak disangka-sangka akan bereaksi seperti itu. Keduanya saling memalingkan badan, membelakangi, lalu pergi dijalan mereka masing-masing.

Perpisahan singkat yang hanya disaksikan oleh Tuhan dan air dibawah jembatan itu tak disangka akan berlanjut satu tahun kemudian disekolah yang sama dan dikelas yang sama pula. Gadis dengan rambut yang terikat oleh pita merah putih itu tak sanggup mengatupkan mulutnya untuk beberapa saat. Dia merasakan tulang-tulang mulai meninggalkan tubuhnya, tatapan tertuju pada sesosok laki-laki yang tengah duduk santai dengan headset yang menempel dikedua telinga. Reaksi shock gadis itu tak berangsur lama tatkala beberapa kakak kelas memasuki ruangan.

"Semua duduk, nggak ada yang berdiri" seru salah satu kakak didepan kelas.

"Duduk!" tegasnya sekali lagi berhasil membuat gadis linglung tadi terkejut dan segera duduk. Matanya masih mengitari seluruh ruangan berharap disana ada bangku kosong lainnya.

"Hay, Lay. Lama nggak ketemu" lelaki yang sempat menjadi titik perhatiannya tadi mengedipkan sebelah matanya.

"Kenapa harus lo sih, Tan..." gadis itu mengacak rambutnya merasa frustasi.

"Udah, nggak usah ada yang berisik. Sekarang Kakak bagi nametag kalian dan kalian harus siap-siap, jam 9 kita kumpul dilapangan. Paham?" para Kakak kelas ber-jas OSIS itu segera menyebutkan nama masing-masing anak yang tertera di-nametag.

"Alrisa Fiona..."

"Bisma Arlen Putra..."

......

......

"Layla Adhia " merasa namanya telah dipanggil, gadis itu beranjak ke depan kelas. Disusul lelaki sebangkunya sebagai nomor absen terakhir.

"Tytan Harda Mahesa"

#

Semua sudah berkumpul dilapangan dari mulai kelas IPA, IPS, hingga Bahasa. Mereka dikelompokan sesuai dengan grade kelas. Sembari menunggu para anggota OSIS, Layla lebih suka menggunakan waktunya untuk berdiam diri sambil menahan kantuknya ketika murid lain sibuk mencari teman baru.

"Aduh...gimana, nih? Mana Kakak kelasnya pada galak semua..." gerutu seseorang yang ikut duduk di sebelah Layla. Karena merasa terusik, Layla memperhatikan gadis di sebelahnya itu. Dia terus mengomel dengan wajah yang tegang dan tubuh sedikit bergetar.

"Kenapa?" tanya Layla buka suara.

"Gue bener-bener lupa kalua selama masa orientasi harus pakai iket pita merah putih" jelasnya dengan nada khawatir. Layla memperhatikan rambut gadis itu yang hanya di ikat dengan karet biasa. Tiba-tiba Layla memegang bahu gadis itu sembari mengerucutkan bibirnya.

"Tenang" celetuknya.

"Nggak bisa...bentar lagi udah mau mulai" gadis itu semakin panik. Tepat seperti yang dikatakan, para Kakak kelas satu per-satu memasuki lapangan dengan aura yang sangat mistis. Gadis itu menghela nafas, pasrah. Layla merasa kasihan melihatnya lagipula, dia adalah teman sekelasnya.

LOVE BRIDGE [END]Where stories live. Discover now