Sekedar Prolog

71 9 5
                                        

Mobil hitam mengkilap itu memasuki area sekolah. Diatasnya terdapat Gapura yang menawan bertuliskan welcome to SMA Injaya. Gadis itu tersenyum kala mengetahui bahwa sebentar lagi dia akan pindah dari sekolahnya yang dulu ke sekolah yang difasilitasi bangunan kelas 6 tingkat,taman yang cukup luas, lapang untuk semua pemainan bola, sempurna inilah sekolah yang dia impikan sejak dulu. Namun selain fasilitas yang lebih dari cukup, ada alasan yang paling tepat kenapa dia ingin pindah ke sekolah ini
Mobil hitam mengkilap itu pun merapat ditempat parkir sekolah jauh dari gerbang sekolah. Gadis itu keluar dari mobil dan tersenyum memandang suasana sekitar. Diikuti oleh seorang perempuan yang bisa disimpulkan bahwa dia adalah ibu gadis itu, lalu berjalan menghampirinya

"Nak, mamah tanya sekali lagi, beneran mau pindah kesini?" tanya ibu itu meyakinkan anaknya

Gadis itu mengangguk mantap tanda bahwa ia yakin dengan pilihannya.

Ibunya hanya menghela napasnya
"Emang sekolah kamu yang dulu gak lebih bagus dari yang ini ya?"

"Bagus sih, tapi gak enak sama temen-temennya. Kan kalo disini ada kak Shela. Jadi, ada temen lah"

"Oke lah kalo kamu pengennya disini. Tapi mamah ingetin, belajarnya harus serius. Kalo enggak mamah pindahin lagi ke sekolah yang dulu"

Gadis itu mengacungkan ibu jarinya " siap!"

Ibu gadis itu tersenyum dan mengajaknya ke kantor kepala sekolah. Sesampainya disana ibunya berbincang tentang perpindahannya

"Namanya siapa,dek?" Tanya lelaki paruh baya itu yang sekarang sedang duduk didepannya dan tersenyum ramah

"Lea Anastasya Octavia, pak. Dari SMA Tunas bangsa" Jawab Lea dengan senyum manisnya

"Anak saya ini baru dua bulan sekolah disana. Tapi katanya pengen pindah kesini" Jelas ibunya Lea

"Adiknya Shela kan?"Lea mengangguk pelan

"Agak mirip, tapi kalo dari raportnya hampir sama, nilainya gede-gede. Kayaknya bakal sama kayak kakaknya ini"

Lea terkekeh mendengarnya

"Oke, dikonfirmasikan saja ke bagian registrasi. Nanti jika semua persyaratannya sudah, saya tandatangani"

Ibu Lea mengangguk "Iya, terimakasih, pak"

"Sama-sama" ujarnya ramah

Lea tersenyum padanya, pak kepala sekolah pun membalasnya.

"Lea, mau ikut mamah ke ruang registrasi atau mau ke kantin atau mau jalan-jalan liat sekolah" Tawaran ibunya itu membuat Lea sedikit berpikir

"Lea mau ketemu kak Shela aja,mah. Sekalian liat-liat sekolah"

"Emang tau jalan?"

" Tinggal telepon aja. Kan sekarang udah jam istirahat"

" Ehm...Ok, kalo gitu mamah ke ruang registrasi, ya. Kalo udah nanti mamah telepon"

Lea mengacungkan ibu jarinya. Ibu Lea pun meninggalkan Lea sendiri didepan kantor kepala sekolah dan saat ini sedang mencoba menelpon kakaknya

Lea: Halo,kak Shel!

Shela: Iya, kenapa nelpon?

Lea: Kak, kelas kakak dimana?

Shela: Hah? Lea jadi pindah? Gue kira cuman bercanda.Terus kenapa harus sekolah ini?

Lea: Terserah Lea lah

Shela: Bosen gue satu sekolahan mulu sama lo

Lea: Terus gimana? Udah terlanjur juga

Shela: Au ah

Lea: Kelas kakak dimana?

Shela: Dilantai 3 dari kantor. Cari aja deket ruang musik. Eh, btw lo ngambil jurusan apa?

Lea: IPS!

Shela: Oh, untung gak sama. Ya udah cepet kesini sekalian ke kantin bareng

Lea: Oke, dah!

Shela langsung mematikan telponnya. Lea sudah terbiasa dengan sikap Shela yang cuek, tidak suka disamakan dengan Lea. Tapi Shela sangat peduli kepada Lea bahkan dia rela mengajarkan Lea matematika setiap malam sampai akhirnya Lea selalu ikut ambil dalam lomba matematika bahkan selalu menjadi juara kelas

Lea menyusuri koridor, menaiki anak-anak tangga yang berjejer. Sekolah ini sangat luas dan elit. Tidak heran jika sekolah ini dijuluki sekolah terfavorit dikota ini

Semakin dalam menyusuri sekolah tapi Lea tidak kunjung menemukannya. Namun dia berhasil menemukan ruang musik yang ditunjukkan oleh Shela. Hingga dirinya tak sadar telah menabrak seseorang. Lea tersungkur kelantai hingga handphone yang dia genggam pun terpental. Saat Lea mencoba berdiri, Lea melihat sepasang sepatu dihadapannya. Lea memandangnya, seorang lelaki tinggi, berseragam rapih sedang mengulurkan tangannya .

Lea meraih tangan itu lalu merapikan kembali pakaiannya "Nih!" Ujarnya lembut membuat Lea kembali memandang wajah lelaki itu. Satu kesimpulan yang Lea ambil dari parasnya, tampan. Lelaki itu benar-benar tampan. Lea mengambil handphone yang lelaki itu genggam. Lalu tersenyum tipis saat Lea mengambil handphonenya itu.
Pandangan Lea beralih pada buku yang ia bawa digenggaman tangan kirinya bertuliskan Mark Fehd XIA MIPA. Otak Lea langsung menyerap apa yang ia baca tadi.
Beberapa detik kemudian Mark membalikan badannya meninggalkan Lea yang masih speachless dengan apa yang terjadi. Menyadari Mark telah beranjak, Lea langsung menelpon ibunya. Telpon pun berdering

Mamah: Halo Le, ada apa?

Lea: Mamah, Lea mau pindah jurusan

Mamah: Hah, Maksud kamu?

Lea: Lea mau MIPA buka IPS, pokonya MIPA.

Ujar Lea tanpa pikir panjang membuat ibunya terkejut. Namun Lea berhasil meyakinkan ibunya walau dengan beribu alasan yang ia lontarkan.

Ini awal kisah sari sebuah perjuangan seorang Lea Anastasya Octavia. Akankah dia menemukan titik terang sebuah perjuangan.

 Akankah dia menemukan titik terang sebuah perjuangan

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Walking In Time Stories to obsess over. Discover now