Satu

14.3K 742 13
                                        

Selesai memotret pemandangan pusat kota dari berbagai sudut, Xiao Zhan menurunkan kameranya dan memasukannya ke dalam tas

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Selesai memotret pemandangan pusat kota dari berbagai sudut, Xiao Zhan menurunkan kameranya dan memasukannya ke dalam tas. Sudut bibirnya terangkat. Kota yang baru pertama kali ia kunjungi itu benar-benar indah, dipenuhi gedung-gedung tinggi yang menjulang dan jalanan yang tak pernah sepi.

Ia memutuskan berjalan santai menyusuri trotoar, menikmati hiruk pikuk kota sambil sesekali mengamati orang-orang yang berlalu-lalang. Hingga tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada seorang anak perempuan kecil yang sedang terduduk di tepi jalan.

Tangisnya pecah tanpa henti. Kedua mata mungilnya memerah, sementara ia terus memanggil seseorang yang entah siapa.

Hati Xiao Zhan langsung terenyuh.
"Apa anak itu tersesat?" gumamnya pelan.

Tanpa berpikir panjang, ia melangkah hendak menghampiri. Namun, ramainya pejalan kaki membuat langkahnya beberapa kali terhalang. Tubuhnya terdorong ke kanan dan kiri oleh orang-orang yang terburu-buru.

"Permisi... maaf..."

Belum sempat ia berhasil melewati kerumunan, seseorang yang membawa ember besar tiba-tiba tersenggol.

Bruak!

Puluhan bola plastik kecil berwarna-warni berhamburan memenuhi trotoar.

"HUWAAAA AAAAA AWAS MINGGIR TUAN!!"

Peringatan itu datang terlambat.

Kaki Xiao Zhan lebih dulu menginjak beberapa bola hingga tubuhnya meluncur tak terkendali ke depan.

Di saat yang bersamaan, seorang pria berpakaian formal yang tengah sibuk menatap layar ponselnya menoleh karena mendengar keributan.

Brukk!

"Ah-!"

Tubuh mereka bertabrakan cukup keras.

Refleks, keduanya berusaha mempertahankan keseimbangan. Namun, pijakan Xiao Zhan kembali menginjak bola-bola kecil yang berserakan.

"Ugh...!"

Gedebruk!

Mereka berdua jatuh bersamaan ke atas trotoar.

"Ahwww... shhh... ah kepalaku," pekik pria itu sambil memegangi bagian belakang kepalanya yang sedikit terbentur.

Sementara Xiao Zhan meringis kesakitan. Ia mengusap pinggangnya yang terasa ngilu akibat benturan.

"Ahhh... pinggangku sakit sekali... isss..."

Dengan susah payah ia berdiri. Begitu menyadari pria yang ditabraknya juga tampak kesakitan, rasa bersalah langsung memenuhi wajahnya.

"Ahh... tuan, ma-maafkan... tadi saya tidak sengaja menabrakmu, tuan... shh..."

Pria itu bangkit perlahan. Wajah tampannya tampak berkerut menahan kesal. Tatapan tajamnya langsung mengarah kepada Xiao Zhan yang masih berdiri kikuk sambil memegangi pinggangnya.

Ia hendak melontarkan amarah, tetapi gerakannya terhenti ketika menyadari sesuatu.

Ponselnya.

Benda itu terlempar beberapa meter dari tempat mereka terjatuh. Layar yang semula mulus kini dipenuhi retakan yang menjalar hampir ke seluruh permukaan.

Rahangnya mengeras. "Yakk! Apa kau tidak punya mata, hah?!" maki pria itu.

Xiao Zhan tersentak. Bahunya sedikit mengerut karena terkejut mendengar bentakan tersebut.

"Saya tidak..."

"Cepat ambilkan ponselku!" suruh pria itu yang bernama Wang Yibo tegas memerintah.

"Hah? O-oh baik, maafkan saya, Tuan. Saya akan mengambilnya."

Tanpa membuang waktu, Xiao Zhan berlari kecil menghampiri ponsel yang tergeletak di atas trotoar. Ia memungutnya dengan hati-hati, lalu mengusap debu yang menempel menggunakan ujung lengan bajunya.

Rasa bersalah semakin memenuhi dadanya saat melihat retakan pada layar ponsel itu.

Ia kembali menghampiri Wang Yibo dengan langkah pelan. "I-ini, Tuan, ponselnya."

Kedua tangannya terulur, menyerahkan ponsel itu dengan hati-hati.

Tatapan Wang Yibo langsung jatuh pada layar ponselnya. "Ah, ponselku sudah rusak! Ini gara-gara kau!" Suaranya terdengar semakin meninggi.

Xiao Zhan spontan menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam erat, berusaha menenangkan diri.

"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan... emm, saya janji akan menggantinya tapi nanti setelah saya-"

Belum sempat Xiao Zhan meyelesaikan kalimatnya, Wang Yibo langsung memotong dengan ketus.

"Sudah, tidak usah. Kau tahu harga handphoneku ini? Sepertinya kau tak akan sanggup menggantinya!"

Ucapan Wang Yibo membuat Xiao Zhan terdiam.

Bukan karena tersinggung, melainkan karena ia sadar pria itu mungkin benar. Ia baru tiba di kota ini dan bahkan belum diterima di tempatnya melamar kerja. Uang yang dibawanya pun hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa waktu ke depan.

Namun, rasa tanggung jawab tetap mengusiknya. Ia mengangkat wajahnya perlahan. "Tapi, Tuan, saya sangat merasa bersalah karena telah merusaknya. Benar tidak apa-apa jika sa-saya tidak menggantinya?"

Wang Yibo menghela napas lelah. Kekesalan yang semula memenuhi dadanya perlahan mereda. Jika dipikir kembali, kejadian tadi memang murni kecelakaan. Xiao Zhan juga sudah berkali-kali meminta maaf dengan tulus.

Wang Yibo hanya memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Meski layarnya retak, ia memilih mengakhiri masalah itu

"Ya, tidak masalah. Ini juga bukan sepenuhnya kesengajaan mu, kan."

Jawaban itu membuat bahu Xiao Zhan yang sejak tadi menegang akhirnya mengendur.

"Terima kasih banyak, Tuan." Senyum tipis terukir di wajahnya. Ia benar-benar lega.

Untunglah pria di hadapannya masih memiliki belas kasihan. Baru di hari pertamanya di kota ini, ia sudah mendapat kekacauan sebesar ini.

T B C

T B C

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Xiao Zhan 26

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Xiao Zhan 26

Kubur Cintaku Padamu (Mpreg)Stories to obsess over. Discover now