Part 1 Bersama Senja
Seorang anak laki-laki berlari kecil menyusuri jalan setapak yang becek. Kemeja putih dan celana merah setengah paha yang dikenakannya terlihat comeng dengan noda lumpur. Tas selempang hitam yang dikenakan menyilang terlihat bergoyang-goyang mengikuti gerakan tubuh pemilik. Tas begitu gendut, isinya betul-betul memenuhi ruangan.
Kerikil-kerikil sebagai pemadat jalan cukup membantu anak lelaki berambut ikal tersebut, sehingga lumpur tidak terlalu mengotori kaki-kakinya yang tak beralas.
Langit pun sudah mulai terlihat mendung, hujan malam kemungkinan akan turun lagi. Hawa dingin yang dihembuskan semilir angin menjadi tak begitu terasa karena panas yang dihasilkan badan yang terus berlari. Keringat membasahi seragam merah putih yang dia kenakan.
"Kiran, kaukah itu? sini mampir dulu Simbah punya tempe benguk,” teriak seseorang di depan sambil melambaikan tangan.
Anak lelaki berambut ikal yang dipanggil Kiran terlihat semakin bergegas menuju simber suara. Dia memelankan larinya begitu mendekati Simbah yang memanggilnya. Kemudian, Kiran meraih tangan kanan Simbah, dan meletakkan di dahi sebagai tanda takzim begitu berada di hadapan Simbah.
Simbah, seorang nenek berusia enam puluhan lebih mengenakan jarik dengan benting hitam melilit di pinggang. Kaos berwarna putih bergambar logo partai politik menjadi setelan yang praktis di atas kain jarik.
"Simbah nunggu kamu dari tadi, kok baru pulang. Dari mana saja kamu, Le?" Simbah berjalan menuju rumahnya sambil bertanya. Kiran membalas dengan senyuman sambil menggaruk-garuk kepala. Disusulnya Simbah yang sudah melangkah duluan. Rupanya Simbah tidak membutuhkan jawaban Kiran. Dia telah masuk rumah.
Sebuah rumah berlantai tanah, dengan pondasi yang dibentuk lebih tinggi dari sekitarnya, terlihat bersih. Halamannya luas, di bagian depan terdapat lincak dari bambu sebagai tempat melepas lelah sebelum masuk rumah. Tembok permanen dari batu bata tanpa semen terlihat terkikis di beberapa sisi.
Simbah adalah nenek Kiran dari ibu. Sejak ditinggal bapak dan simbok, Kiran sering sekali diberi bahan makanan apa saja, tapi paling sering adalah tempe. Simbah memang penjual tempe. Ada tempe dele dan tempe benguk.
Kiran duduk di lincak bambu. Di lincak terdapat banyak tumpukan daun pisang yang sudah tersusun rapi. Batang-batang daun pisang terkumpul dan terikat rapi bersandar tembok.
"Le, kalau main jangan kesorean. Kasihan mbakmu itu, dari tadi khawatir bolak balik ke sini." Simbah tiba-tiba saja sudah keluar sambil menyodorkan keresek hitam.
"Langsung pulang ya, sebentar lagi sudah mau maghrib." Tambah Simbah tanpa memberikan waktu untuk Kiran memberi jawaban.
"Nggih, Mbah ... terima kasih," jawab Kiran.
Setelah menerima tempe dalm kresek dan berpamitan, Kiran kembali melanjutkan kembali meneeuskan perjalanan pulangnya. Senja semakin turun. Hembusan angin terasa dingin. Rintik hujan rupanya mau kembali menyapa bumi malam ini, seperti malam sebelumnya.
Anak perempuan berusia belasan terlihat sedang mencari baskom saat Kiran sampai rumah. Badannya yang kecil lincah membawa beberapa wadah di kedua tangannya. Dia menyiapkan wadah-wadah itu untuk menampung air yang biasanya masuk rumah karena atap rumah yang bocor di beberapa tempat.
"Yu Minah, ... ini ada tempe benguk dan berambang ..., " ucap Kiran kikuk. Sementara yang dipanggil Yu Minah tetap sibuk dengan aktivitasnya. Pura-pura tidak mendengar.
"Kiran taruh di meja ya. " lanjut anak berambut ikal sembari mengeluarkan seikat berambang dari tas selempangnya. Diliriknya sang kakak, namun tidak ada gelagat merespon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Esok
Fiksi UmumJodoh, hidup, mati adalah sebuah takdir. Semua telah digariskan. Menjadi sia-siakah upaya manusia? Cari jawabannya dalam kisah ini. Kisah yang ditulis karena terinspirasi dari kisah nyata. Lika-liku perjalanan seorang anak yatim piatu miskin yang...
