Kematian Ibu Naina

13 2 0
                                        

Ibu,....!!!

Teriak isak Naina tak mampu membendung tangis melihat ibunya yang telah terbaring kaku tak bernyawa.

Diujung sana terdengar percakapan antara ayah Naina dengan dokter ;
Dokter : Maafkan kami pak, kami telah berusaha semaksimal mungkin.

Ayah : Dok andai saja kamu datang lebih cepat mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini, bagaimana mungkin rumah sakit sebesar ini memiliki pelayanan yang buruk. Kami sudah datang sejak tadi tapi mengapa baru sekarang ada penanganan dari dokter??? Kenapa???

Dokter : Maaf pak pasien dirumah sakit ini banyak sekali saya harus memeriksa satu persatu, sebelumnya kan sudah ditangani oleh perawat.

Ayah : Mana bisa begitu? Kamu adalah dokter

Tak mau membuat suasana semakin runyam dokterpun meninggalkan Naina dan ayahnya, diruangan itu 2 orang perawat mengurus jenazah ibu Naina. Seorang perawat muda memeluk Naina sambil berbisik, "Dek harus ikhlas ya, ibu sudah tenang bersama Allah. Dia udah bahagia disyurganya Allah." Naina memeluk erat perawat wanita tersebut, sambil tak kuasa menahan tangis yang begitu menyesakkan.

Suasana haru menyelimuti rumah Naina, kerabat dan tetangga berdatangan membantu untuk mengurus jenazah ibu Naina. Terlihat Naina dan ayahnya yang terus berada disamping ibu. Seorang nenek dengan gaun putih nampak berusaha tegar di ambang pintu menyambut tamu yang berdatangan untuk takziyah, itu adalah nenek Naina orang tua dari ayah Naina.

Naina hanya memiliki 1 nenek yang saat ini slalu menguatkannya, ibu Naina adalah seorang yatim piatu sejak beliau berusia 5 tahun, sedangkan kakek dari ayah Naina telah meninggal sejak ayah Naina duduk di bangku SMP. Mbah mun begitu biasa masyarakat memanggil neneknya Naina.

Setelah proses pemakaman selesai, sejak itulah suasana sunyi menyelimuti rumah. Sanak saudara dan para tetangga berpamitan untuk pulang.

Hai mom,... Tulis Naina di kaca jendela kamarnya yg berembun. Pagi yang cukup asing bagi Naina, tak ada celoteh ibu yang kesulitan membangunkan Naina, pagi ini Naina sudah siap menjadi seorang gadis belia yang mandiri. Ia bangun pagi-pagi dan bersiap untuk sekolah, membuka pintu kamar dan mencium bau gosong yang memenuhi seisi rumah.

Kebakaran,......!!!
Ayah ayah kebakaran..!!!

Ayah yg sedang memakai sepatu segera bergegas kedapur, membasahi keset dan menerungkupkanya keatas kompor yg mengeluarkan Api.

Ayah : oh Tuhan aku benar-benar lupa mematikan kompor, tadi ayah hendak merebus air untuk menyeduh kopi tapi malah ayah tinggal mandi.

Naina : ayah lain kali hati-hati

Ayah : sudahlah ayo Naina kita sarapan ayah sudah buat nasi goreng

Naina duduk dan mengambil sepiring nasi goreng, dan suapan pertama membuat Naina tak mampu menahan tawa geli. Melihat ekspresi Naina tanpa basa basi ayah Naina pun menyuap sesendok nasi goreng, mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak.

" ah sungguh ini pertama kalinya ayah membuat nasi goreng, rasanya sama hancur dengan perasaan ayah saat ini. "
Ucap ayah Naina lirih sambil mengingat nasi goreng masakan ibu

" sudahlah ayah besok hari minggu kita belajar masak bareng ya yah, " Naina berusaha menghibur ayahnya dan terus menyantap nasi goreng untuk menghargai ayahnya.

Memang ini adalah hari yang begitu berat, tak ada ibu yang biasanya berteriak" Naina bangun, udah siang nanti kamu terlambat,..!! "

Tak ada pula segelas susu, untuk Naina, kopi untuk ayah dan teh untuk ibu. Tak adalagi tempat Naina bertanya" ibu kaos kakiku dimana,.?? "

Semuanya terasa begitu sulit tanpa ibu, seolah semua yang terjadi masih terasa seperti mimpi bagi Naina dan juga ayah.

NAINA (completed) Tahanan ng mga kuwento. Tumuklas ngayon