Hari ini menjadi sangat menyenangkan bagi Gaga. Karena ini pertama kalinya Gaga masuk SD. Hatinya riang gembira sekali, terlihat dari jalan yang penuh senyum darinya. Meski begitu ini bukanlah hari yang menyenangkan bagiku (Jojo). Bisa jadi ini hari yang sangat buruk bagiku, karena dia melihat Gaga yang masuk sekolah itu menjadi satu denganku. Aku (Jojo) emang sebagai kakak telah lebih dulu masuk. Kini aku telah kelas 5 sedangkan adikku ini baru kelas 1 SD.
Sudah terasa sejak pagi memang menjalani hari yang gak enak ini. Bagaimana tidak aku yang sebagai kakak harus rela datang terlambat ke sekolah karena menunggu adikku dandan.
“Padahal laki loh, dandanya lama amat. Udah kek cewek saja.” Ngomelku sendiri di depan rumah sambil mainin sepeda.
Memang hari pertama ini dia seperti mendapatkan perlakuan khusus. Semua yang dipake adikku harus bagus dan keren. Maka dari itu, emak yang mendadaninya sangat lama dan teliti sekali. Semua yang dipake di lap mulu, padahal sudah bersih dan masih baru loh. Menurutku agak berlebihan sih, dulu aku gak mendapat perlakuan seperti itu dari emak. Ya memang semuanya emak yang mengerjakan. Adikku tak pernah mendapat perintah atau disuruh apa-apa. Yang dilakukannya hanya main, main dan main saja.
Karena aku menunggu dari tadi sudah lama sekali. Akhirnya aku teriak supaya selesai dandannya.
“Ga, ayo cepetan. Dah telat nih!”
“Iya bentar lagi kak.” Sahutnya.
“Ah lama, kakak tinggalin nih!”
“Iya iya, ini sudah selesai kok.”
Adikku datang dengan berlari kearahku. Sembari masih dipegangi emak yang masih menyisir rambut Gaga.
“Sudahlah mak, rapi sudahan itu. Sudah telat ini masuknya.”
“Iya, kalian hati-hati ya. Belajar yang baik nanti. Jangan nakal ya.”
“Iya mak, berangkat dulu ya. Assalamualaikum.” Sambil mencium tangannya kemudian aku mengayuh sepedaku sekencang-kencangnya.
Sudah tidak ada waktu lagi, sepedaku telah melaju dengan cepat. Gaga yang kubonceng berdiri dibelakang malah senyum-senyum. Gak ngerti kali, kakaknya sedang panik karena sudah telat nih. Semakin kencang lajuku, dianya malah tambah kencang tertawanya. Ternyata oh ternyata, dia menikmati perjalanan yang cepat dan seru ini. Getaran sepeda ini yang membuatnya tertawa dan badannya terbawa oleh getaran itu. Emang agak aneh ini adikku.
Setelah nampak sekolah yang sudah sepi karena sudah masuk kelas semuanya. Aku sudah putus asa saja. Kayuhanku semakin pelan, karena lelah sedari tadi melaju dengan cepat. Di sela-sela lelahku itu, aku berpesan kepada adikku.
“Nanti jangan bandel dan nakal ya di sekolah. Patuhi bapak/ibu guru disana.”
“Siap kak.” Jawabnya masih dengan tertawa sendirinya.
Namun aku merasa gak enak, karena aku telah mengenalnya dari kecil. Setiap kali dia berkata siap/iya/baik dan lain sebagainya, pasti selalu ada saja yang dia langgar dan membuat onar. Entahlah, lihat nanti saja. Kalau macam-macam pasti ku jitak kepalanya nanti.
Tiba di gerbang sekolah, yang ternyata belum ditutup karena ini kan hari pertama peserta didik baru seperti adikku ini masuk pertama kalinya. Pak satpam pun memperbolehkan kami masuk. Sebelum aku mengantarkan adikku masuk ke kelasnya, aku memarkir sepedaku terlebih dahulu. Selesai memarkir sepeda, aku dan adikku ini di panggil terlebih dahulu oleh Pak Yadi. Beliau adalah guru yang paling galak di sekolah ini. Jantungku berdebar kencang mendapati itu. Kami pun menghadap Pak Yadi. Adikku yang masih tidak tau apa-apa ini dia hanya senyum-senyum saja. Sedangkan aku, keringat dingin mulai bermunculan di keningku ini. Beliau bertanya
“Kalian telat cukup lama. Kalian ngapain saja tadi dirumah?”
“Maaf pak, kami terlambat. Karena tadi bangun kesiangan.” Jawabku dengan berbohong. Ya kali aku harus berbicara jujur, nanti malah adikku yang kena.
“Kebiasaan! Ini adikmu kan? Murid baru kan?”
“Iya benar pak.” Jawabku gugup
“Baiklah, kamu (gaga) masuk kelas duluan. Kelasmu yang itu.”
Adikku langsung nyelonong lari saja tanpa permisi tanpa terima kasih. Sedangkan aku masih menghadap Pak Yadi, yang semakin lama semakin banyak keringat yang membasahi tubuhku. Terlebih lagi ketika beliau berkata “Sekarang tinggal urusanku denganmu.”
Sudahlah, semakin bergejolak saja detak jantungku. Akupun hanya bisa pasrah sepasrahnya.
YOU ARE READING
Jojo dan Gaga
Randomkakak beradik yang tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya sejak kecil. Tinggal di desa di asuh oleh emak (nenek). sedangkan orang tuanya bekerja jauh di kota besar. Berbagai macam cobaan datang bertubi-tubi. Makian dan perlakuan yang kurang enak...
