🍄 ~''.• 1 •.''~ 🍄

17 6 1
                                        

- Happy Reading! -

Pagi yang sangat cerah, banyak anak siswa maupun siswi menuju sekolah nya masing - masing. Berbeda dengan Arsa, lelaki yang memiliki sifat dingin tetapi menjengkelkan jika sedang bersama bundanya contoh saja seperti pagi ini bunda nya sedang mencari cara untuk membangunkannya karna ia tidak bangun juga dari tidurnya kalau kata bundanya, Arsa tuh seperti ' latihan meninggal ' kalau sedang tertidur.

"ARSAAA ASTAGAAA BANGUN SEKARANG APA FASILITAS SEMUA YANG KAMU PAKAI BUNDA CABUT!!!" kesal Rani, bunda Arsa.

Tetapi masih tidak ada pergerakan juga, toh dia tidak peduli jika dicabut karna dia memiliki usaha Cafe kecil - kecilan hasil jerih payahnya tanpa bantuan orangtuanya.

Rani menghela nafasnya, "Oke kalau gitu kamu akan bunda jodohkan dengan anak teman bunda jika tidak bangun juga" pasrahnya.

Arsa yang mendengar itu langsung buru - buru masuk kamar mandi, Rani yang melihat nya hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.

Tak lama Arsa selesai dan turun kebawah untuk sarapan, tetapi pada saat ia tidak sengaja melihat kearah jam ia tersentak karena ternyata sekarang sudah pukul 08.30 AM, Ia langsung loncat dari kursinya dan pamit kepada orang tuanya serta pergi ke sekolah tanpa sarapan.

Pada saat ia sudah sampai ternyata gerbang sudah ditutup, Jelas sudahlah!!!. Ia pun berusaha mencari cara untuk memanjat, awal nya berhasil tetapi pada saat ia beranjak ia kurang beruntung karna ketahuan adik kelasnya yang sangat amat mirip dengan toa masjid, ia sangat jengah untuk mendengarkan ocehan adik kelasnya.

"HEH KULKAS BERJALAN, GUE BILANGIN KE PAK BAMBANG YA LU TERLAMBAT!" teriak Disya adik kelas Arsa, jangan heran kenapa ia tidak memakai embel - embel 'kak' karena ia dan Arsa sudah seperti saudara sendiri, dan juga Arsa yang menyuruh nya untuk tidak menggunakan embel - embel 'Kak' kalau kata Arsa ' gue bukan Kakek - Kakek jadi jangan panggil gue Kak ' aneh memang tapi ya itulah Arsa dia akan aneh jika dengan orang terdekatnya saja.

Arsa menghadap ke Disya dan menatapnya dengan tajam.

"Lu pikir gue takut? Tidak sayang tidak HAHA" tantang Disya sambil mengejeknya, tak lama Disya pergi dari hadapan Arsa. Arsa pun juga pergi ke kelasnya yang sedang jamkos itu, sungguh beruntung sekali dia tapi-

"Assalamualaikum Wr. Wb panggilan untuk ananda Arsa Daniswara dan adinda Moza Amaralia untuk segera ke kantor saya sekarang juga!" terdengar suara pemberitahuan yang sepertinya pemilik suara itu adalah guru yang disenggani siswa dan siswi disekolah karena mereka takut padanya siapa lagi jika bukan, Pak Bambang.

Arsa menghela nafas nya untuk pasrah, ia sangat yakin pasti ini semua ulah Disya. Liat saja nanti dia akan memberi pelajaran kepada bocah ingusan itu.

Disisi lain

Semua pandangan anak kelas mengarah kepada perempuan yang sedang menulis itu.

"Moza lu dipanggil tuh sama pak Bambang" kata Reyna, sahabat Moza.

"gue?" tanya Moza.

"bukan!"

"Oh yaudah"

"YA LU LAH ANJIR, SIAPA LAGI YANG NAMANYA MOZA AMARALIA DISEKOLAH INI?!" teriak Reyna sehingga ia ditatap bu Endah dengan tatapan yang seperti ingin memakannya, Reyna berdegik ngeri.

"Oh" kesal dengan jawaban Moza ia pun mendorong Moza sampai ke meja bu Endah.

"maaf bu saya boleh izin mengantar kulkas ini ke ruang Pak Bambang?" tanya Reyna dengan sopan sambil menunjuk Moza, Moza yang ditunjuk pun menatapnya tajam.

"Apansi lu, permisi bu" tak lama Moza pun meninggalkan kelasnya.

Sekarang ia sedang berjalan menuju ruangan pak Bambang, "kenapa gua dipanggil ya?" Batinnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 10, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

MOZAWhere stories live. Discover now