Di dalam derasnya rintik hujan yang jatuh di lahan kosong, puluhan badan pemuda terkapar tak berdaya. Hanya beberapa orang saja yang masih sanggup tegak berdiri, lahan kosong seakan menjadi saksi dari pertempuran di sore menjelang malam ini. Dengan tenaga yang tersisa seorang pemuda mencoba mempertahankan kesadarannya sembari memulihkan diri, kemudian dilihatnya kawan dan lawan terbaring setelah baku hantam.
Peristiwa ini menjadi hadiah di hari ulang tahun yang ke tujuh belasnya, Ahmad Rajendra Yudhistira yang sering dipanggil Endra adalah salah seorang yang terjebak di situasi ini. Ia yang harusnya hari ini mendapat lemparan tepung dan telor atau colekan krim kue bolu di wajahnya malah mendapatkan lemparan batu dan kecupan tinju anak SMA Bharata. Lebam di pipi kanan dan kaki kiri yang terkilir menjadi oleh-oleh yang dibawa Endra pulang kerumah, semua ini bermula dari ajakan Reno.
Dua hari sebelum kejadian, di kelas pada saat jam istirahat Endra terlihat sibuk dengan buku berpetak dan pulpen di mejanya.
"Ndra... Ndra..." panggil Reno sedikit teriak mendatangi meja Endra.
"Apa sih, heboh betul anak ini" jawab Endra sedikit risih karena Ia sedang menyalin tugas Matematika yang sebenarnya adalah PR.
"Eh Ndra, kau tau kah? Si Cecep bekelahi sama anak SMABA, Eja"
"Ga tau, apa urusannya sama aku?" Acuh Endra yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari buku matematikanya.
"Bukan begitu Ndra, katanya nih perkelahian mereka ini jadi deklarasi perang antara sekolah kita sama SMABA" jelas Reno sambil merampas pulpen Endra.
" Ck... heis cepatlah kalau mau cerita masih banyak tugasku nih" jawabnya kesal.
"Jadi, kemarin adiknya Cecep tuh nongkrong di warung depan SMABA"
"Aw, si Cecep punya adikkah?" Tanya Endra memotong cerita Reno.
"Ada. Si Rafi anak kelas X IPS 2. Nah jadi, si Rafi ini di samperin sama anak SMABA pas nongkrong terus dia ditanya-tanyain gitu dan Rafi jawabnya rada nyolot gitu" jelas Reno dengan mata berbinar-binar.
"Akhirnya mereka berantem dan si Rafi ngadu ke abangnya, si Cecep. Ribut dah abis itu sampai sekarang" detail Reno.
"Yaelah...sepele amat penyebabnya, udah ceritanya? Kembalikan pulpenku, aku mau nugas" jawab cuek Endra sambil merampas balik pulpennya dan melanjutkan PR yang daritadi Ia kerjakan.
" Ga asik, bisa-bisanya kau biasa aja dapet berita begini" ketus Reno yang sebal karena melihat reaksi Endra yang biasa saja.
"Sudahlah Ren, jajan sana ke kantin bentar lagi bel masuk" Endra mengusir Reno agar tidak mendengar berita tidak penting lebih banyak.
"Heis...kau nih, yasudahlah aku mau ke kantin aja"
"Nitip susu coklat Ren yang dingin, pake uangmu dulu ya"
"Nggak ada uang aku. Bye-bye lah kau" tutup Reno sambil berjalan keluar kelas meninggalkan Endra.
SMA Bharata yang akrab disingkat SMABA adalah rival dari SMAN Pandawa Sakti. Kedua sekolah ini disebut-sebut menjadi saingan abadi. Hampir di semua hal kedua sekolah ini selalu menjadi rival, baik dalam bidang akademis maupun non-akademis.
Setelah jam pelajaran matematika berakhir tibalah waktu istirahat kedua. Endra dan teman-temannya hendak melakukan sholat dzuhur di musholah. Endra bosan mendengar hal yang sama berulang kali di hari ini, anak-anak di sekolahnya ramai membahas konflik yang diceritakan Reno tadi. Selepas sholat dzuhur Endra yang sedang berdzikir tidak sengaja mendengar perbincangan dua orang tepat di shaff belakangnya yang ternyata adik kelas.
"Gila nih bakal ribut sekolah kita sama anak SMABA" ucap salah satu anak di belakang Endra yang memulai percakapan.
"Iya cuy, denger-denger sih si Cecep nanti bawa anak-anak nyerang kesana" anak di sebelah kanan belakang menyahut.
"Beh iyakah? Kapan mereka nyerang tuh?" Endra menoleh ke arah mereka berdua dengan sedikit jengkel.
"Heh, ngobrol di luar sana! Ini tuh musholah, orang-orang abis sholat lagi pada berdzikir kalian ribut ngobrol berdua" Endra memotong obrolan kedua adik kelasnya itu dan memarahi mereka.
"Maaf kak"
Kedua anak tadi pergi keluar musholah untuk melanjutkan obrolannya. Walaupun Endra hanya siswa biasa tetapi tetap saja gertakannya tadi disegani, bagaimanapun Endra tetap kakak kelas.
Endra yang daritadi berusaha bersikap tidak peduli dengan keadaan, kini diselimuti tanya. Muncul rasa penasaran dalam benaknya karena Ia memotong pembicaraan adik kelasnya tadi. Tapi Endra kembali memasang muka seolah tidak ingin tahu dengan apa yang terjadi. Baginya perkelahian anak SMA bukanlah hal yang penting.
Suara bel yang merdu di telinga siswa bergema di sepanjang lorong pada pukul dua siang itu mengakhiri kegiatan belajar. Endra dan Reno jalan melewati kumpulan anak kelas 3 yang sedang membicarakan sesuatu di depan parkiran sekolah.
"Eh kalian berdua, sini dulu sebentar" panggil Cecep yang membuat Endra dan Reno menoleh ke arah kumpulan anak kelas 3.
"Kenapa Cep?" Reno menyahut sambil menghampiri mereka.
"Dengarin dulu aku ya. Anak-anak sekolah kita lagi panas nih sama anak SMABA jadi kalian hati-hati kalau ketemu sama anak-anak dari SMABA di jalan. Sebenarnya kami butuh bantuan kalian juga sih." Perkataan Cecep membuat Reno dan Endra bertanya-tanya.
"Untuk apa preman sekolah meminta bantuan ke anak biasa seperti kami?" Endra heran dan muncul tanya di pikirannya.
YOU ARE READING
REX
RandomAhmad Rajendra Yudhistira , remaja yang mencari jati dirinya. Lika-liku kehidupan di SMA akan menuntunnya untuk menemukan jalannya.
