Semarang, 25 Oktober 1998
.
.
.
Hari itu, di penghujung bulan sepuluh tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan menjadi hari paling mengharukan untuk pasangan muda yang kini merengkuh tubuh mungil bayi rupawan yang terbalut kain biru.
Bukan hanya mereka, wanita yang terbaring di atas ranjang dengan tubuh penuh peluh juga turut mengembangkan senyumnya. Meski tarikan bibirnya tak selebar yang lain, namun matanya menyiratkan seberapa besar rasa bahagianya.
Air matanya luruh bersamaan, hatinya bercampur aduk antara rasa lega & senang luar biasa, juga perasaan sesak di hatinya.
Dua orang dengan bayi merah di gendongannya itu menoleh, tersenyum lembut. "Terima kasih, terima kasih sekali. Saya gatau lagi harus bilang apa sama kamu. Terima kasih sudah bersedia di titipi Tuhan kebahagiaan kami. Kami bakal jaga dia, menjamin semuanya yang terbaik buat dia. Ini bukan janji, karena kami pun cuma manusia biasa yang gabisa selalu sempurna tanpa buat kesalahan. Tapi apapun yang terjadi, hidup kami sendiri jaminan untuk semua kesakitan & kesedihannya." Wanita cantik diawal tiga puluhan itu berucap tulus dengan derai air mata bahagia yang tak sanggup ia bendung. Menggenggam tangan berinfus yang lebih muda, menyampaikan terima kasih yang teramat sangat atas pemberian berharga yang baru saja ia terima.
"Terima kasih juga, mba sudah menerimanya dengan baik. Aku ga nuntut apa apa, aku ga nuntut dia harus di beri kehidupan yang serba baik. Aku cuma minta, tolong jangan sakiti dia seperti aku yang sudah menyakitinya bahkan ketika ia pertama kali memulai hidupnya di dunia." Ia memalingkan wajah, kalimat terakhirnya terasa begitu pahit di tenggorokan. Matanya kembali memanas bersiap meluruhkan apa yang kini ia rasakan.
Ia tahu, ketika pintu bercat putih itu tertutup menghilangkan tiga sosok yang melewatinya, maka itu terakhir kali ia dapat melihat permatanya. Karena setelah itu, sepertinya Tuhan murka hingga memberinya hukuman atas dosanya. Menderanya dalam luka & penyesalan terbesar, menenggelamkannya dalam tangis tiada henti.
Namun jauh di dalam hatinya, ada setitik remah keyakinan bahwa ia tak harus menyesali ini. Keputusan ini yang terbaik untuk ia dan sang permata yang telah di bawa pergi.
Bibir yang tersenyum perih itu senantiasa menggumamkan doa padanya yang entah dimana kini. Juga kalimat kecil yang tak luput ia lewati di akhir Aminnya,
Bahwa ia merindukan sang putra.
.
┈───────
Pokonya kalo aneh, cringe, geli minta maap.
YOU ARE READING
WIYATA
RandomKata ibu, hidup itu ironi. Kita butuh pengkhianat agar tau rasanya setia. Kamu bisa menyebutnya Stray Kids lokal. note: NSFW & BXB AREA Mengandung harsh word, gay konten & beberapa rated yang mungkin dirasa kurang nyaman bagi sebagian orang.
