Author pov.
Belum juga mentari memasuki kamar, ataukah dia takut akan datang? Karena kencangnya teriakan seorang pria paruh baya.
"ANJING!" bentak pria itu yang membangunkan anak perempuannya.
Yang sayangannya masih mencintai dunia mimpinya. Gadis belia ini, kemudian bangun dan duduk tegap di atas kasurnya.
"Sial!" umpatnya dalam hati ketika melihat seorang pria paruh baya di depan pintu kamarnya dengan wajah memerah menahan amarah.
"Bahkan pagi-pagi begini masih berteriak," batin gadis itu yang seakan tak berminat untuk turun dari ranjang kamarnya.
Gadis ini malah menguap, "Tunggu nyawa Tata nyambung pah," ucap gadis ini yang dipanggil Tata dengan keanehannya. Padahal gadis ini bernama Alitha. Yaa, itu panggilannya.
Namun berbeda dengan sang ayah. Ya! Pria paruh baya itu adalah ayahnya Alitha sebut saja –Iskandar. Pria tua ini malah melempar dengan kuat baju kerjanya ke lantai kramik putih itu.
Mengepalkan tangannya hingga tangannya memutih. Alitha, gadis ini bahkan tak terlihat takut sedikitpun. Entah karena belum sadar atau memang ia sadar. Bahkan mata gadis ini melirik setelan jas dan kemeja milik sang ayah di iringin senyum sombongnya.
Iskandar mendelik tanda tak suka, melemparkan notebook milik anak gadisnya hingga hancur. Dan dengan masih marah pria itu memaki putrinya dengan kata-kata, "Anjing! Cepat setrika baju itu! Awas saja sampai tidak."
-Note: notebook itu di beli dari uang olimpiade matematikanya.
-walau kaya, sang ayah termasuk pelit dan keras terhadap anaknya (khususnya Alitha).
Dahi gadis itu berkerut pertanda dirinya bingung atau mungkin jengkel?. Dalam hatinya saat ini sedang mengumpat pria tua tadi yang notebene-nya adalah ayahnya.
"Apa sih! Ada apa lagi dengan tua bangka itu! Berteriak di pagi buta hanya untuk menyetrika bajunya!" namun yah itu, hanyalah ucapannya dalam hati tapi pada kenyataannya ia membisu tak berniat mengeluarkan umpatan sialannya itu untuk sang ayah.
Gadis ini tetap berdiam diri, dirinya menghela napas guna menenangkan hatinya sendiri. Namun mulut sang ayah tak nanggung- nanggung, bentakan yang keluar dari mulutnya terdengar hingga ke lantai bawah.
Padahal dibawah adalah tempat konsultan buat para pasien dari sang bunda. Terdengar langkah langkah kaki yang menerjang keatas. Padahal Alitha akan di tampar oleh ayahnya sendiri namun, gadis ini sama sekali tak takut. Bahkan menatap sang ayah dengan wajah tanpa ekspresi.
Laila- sang bunda datang dengan wajah yang berkeringat. Menatap sang suami yang juga sedang menatapnya. Laila datang dan melerai keduanya, "Jangan membuat keributan di pagi hari yah, dia anak perempuan kamu, kamu jangan kasar seperti itu padanya." ujar Laila yang dengan segera memungut kemeja sang suami di lantai kamar anaknya. Dan Iskandar pergi meninggalkan mereka berdua.
"Biar bunda saja yang nyetrika, kamu mendingan mandi gih biar segeran," ujar sang bunda pada Alitha dengan usapan lembut di atas kepalanya.
Dan Alitha malah sebaliknya yaitu tidur kembali kedalam selimut tebalnya sembari berkata, "Ntar aja bun, kalo dia dah pergi baru Tata mandi, males Tata," ujarnya lembut pada sang bunda yang beranjak pergi dari kamarnya dengan iringan pintu yang tertutup.
Alitha masih menatap pintu yang baru saja tertutup, "Sialan, gue gak mau liat muka bangsat tuh tua bangka," batinnya mengomeli Iskandar.
Hari ini adalah hari sabtu, yang tentu saja hari masuk buat Alitha ke sekolah. Btw, Alitha tuh punya nama lengkap adalah Ananda Alitha Dirgantara.
Sabtu yang membosankan, itulah yang dipikirkan Alitha. Gadis ini berangkat sekitar jam setengah tujuh, padahal khusus hari sabtu sekolahnya masuk jam delapan.
Sebelumnya gadis ini turun dari lantai dua, yakni kamarnya menuju dapur bawah. Entah kenapa gadis cantik ini sering sekali menampilkan wajah cemberutnya. Turun dengan memakai hoddie abu-abu kesayangannya. Memakan permen adalah kebiasaannya.
Langkah kakinya terhenti ketika melihat mobil sang ayah yang masih terparkir digarasi mobil. Gadis ini hendak naik lagi menuju kamarnya, namun di tahan dengan suara berat
Iskandar. Yang lebih tepatnya, perintah, "Turun kamu, sarapan dan berangkat bareng ayah."
Gadis ini malas berdebat, jadi dengan segudang kekesalannya ia tetap turun dengan kaki yang di seret-seret. Males, defenisi pikirannya saat ini.
Sesampainya di meja makan, yang sudah ada sang ayah dan sang bunda serta adiknya, gadis itu mendekat dan hanya mengambil tiga potong roti isi buatan sang bunda dan dimasukan ke dalam kotak bekal abu-abu miliknya.
Kemudian melangkah pergi menuju dapur mengisi botol airnya. Dan segera melangkah menjauh dari meja makan menuju pintu depan untuk memakai sepatu sekolah miliknya.
Terdengar jelas kalau sang ayah marah-marah yang tak lain padanya. Alitha hanya menghela napas, karena menurutnya ini hal yang biasa.
Dirinya tak peduli dengan ocehan dan omelan sang ayah, dirinya keluar gerbang rumahnya dan memakai sepeda kesayangannya tuk berangkat sekolah.
Dirinya yang masih kelas sepuluh itu turun dari sepeda yang sudah ia parkir. Memakai penutup kepala hoddie miliknya dan melangkah masuk kedalam sekolahnya yang masih sepi. Mungkin sudah ada beberapa orang yang datang karena urusan ataupun piket.
Ia juga gak peduli akan hal itu, toh bukan urusannya selalu itu yang ia pegang dalam otak miliknya. Alitha bukan anak rajin yang selalu datang pagi untuk ke perpus buat belajar karena niatnya hanya datang ke kelas yang sunyi buat istirahat sebentar bukan untuk mengerjakan tugas.
Namun Alitha anak yang pintar, jadi buat apa dia mengerjakannya di rumah jika ia mampu mengerjakannya langsung di sekolah.
Alitha terus menatap buku tugasnya, menatap tanpa minat nilai-nilai yang hampir semuanya sempurna. Terus menaruh kembali kedalam tasnya yang sedetik kemudian dijadikan bantal untuk dirinya tidur.
~sejam berlalu~
Dengan mata yang masih tertutup gadis ini mengerutkan dahinya menajamkan indra pendengarannya dan ia pun mengumpat, "Shit!" ya, saat ini sangatlah ramai karena para murid sudah pada berdatangan.
Gadis ini kemudian mengecek handphone nya yang sudah menunjukan pukul 07:48 yang berarti sudah sekitar sejaman ia tertidur.
Yang kmudian membuka handphone dan memaikan game tuk mengusir ke bosanan di dalam tubuhnya. Dirinya terus asik dengan game yang ada hingga tak sadar sudah ada orang yang duduk disampingnya.
Bukannya tak sadar, bahkan tanpa menoleh sedikitpun gadis ini sudah tau siapa dia, ya sahabat gadis ini sebut saja Arif.
Pria tampan dengan lesung dikedua pipinya. Kulit yang putih bersih seperti susu tanpa noda, di lengkapi rambut pirang dan mata yang berwarna biru safir. Dan jangan lupakan badan yang atletis dan tinggi yang semampai.
"Selamat pagiiii~ apa kabarmu hari ini my princess? Good or~~ bad?" ujarnya yang lagi-lagi sok inggris, terus dilanjutkan dengan kekehan kecil nya dan senggolan pelan yang mendorong Alitha.
"Gimana? Gimana? Bagus gak bahasa inggris gue~~" ujar Arif yang tingkat kepedean 100% tersebut.
Alitha yang mendengar hal itu hanya menatap jijik layar handpone nya tanpa berniat melihat sang sahabat ini. Dirinya malah bilang, "Didalam tas, resleting pertama, ada tuh." ujarnya yang sudah tau kebiasaan Arif. Ya! Cowok ini bakalan gangguin dia terus sampai ia mau ngasih tugas miliknya.
"Aaaaaa~~~~ Tata sweet deh, maaaaak-" ucapannaya berhenti disaat Alitha menatapnya tajam karena hendak memeluknya.
Dan orang yang bersangkutan hanya nyengir kuda menampilkan sederet gigi putihnya tanda tak tahu malu.
Bahkan sejak kapan dan bagaimana mereka bisa menjadi sedekat ini Alitha tak tahu gimana bisa terjadi. Seperti terjadi begitu saja.
Tbc.
Gimana?
Dapet feel nya gak?
Maaf ya gw jadi bingung kalo gak sesuai hati kalian sekali oagi maaaf ya
YOU ARE READING
Alitha(ta)
Teen FictionMenceritakan kisah seorang remaja kaya raya di sebuah kota besar. Gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang ayahnya. Disekolah ia hanya punya 2 orang sahabat yakni, Firman dan Arif yang ternyata adalah (gay). Kemudian pertemuan pertamanya deng...
