PROLOG

1.4K 112 9
                                        

Darah berceceran, warna merah pekat menggenang sejauh mata siapapun memandang. Di setiap tempat dan di setiap sisi hutan, mayat-mayat berserakan. Bertumpukan, beralaskan tanah yang memerah.

Bau anyir darah menusuk hingga mematikan indera penciuman. Setelah semalaman peperangan terjadi tanpa henti, yang terasa sekarang hanyalah sebuah kesunyian.

Tak ada lagi suara tebasan pedang, tak ada agi suara tusukan tombak. Raungan teriakan kesakitan dari berbagai orang tak lagi terdengar di seisi hutan. Bahkan Para prajurit berbaju zirah sudah kembali pulang menuju kerajaan, berharap ada pesta penyambutan untuk memeriahkan kemenangan besar-besaran yang mereka lakukan

Tidak ada yang tersisa.

Perlawanan para pemberontak tidak bisa dianggap main-main oleh para prajurit.

Berjuang dan mati lebih baik, daripada harus berada di sel jeruji berbau busuk seumur hidup. Itulah yang selalu mereka katakan disaat para prajurit meminta mereka untuk mengangkat tangan dan menyerah.

Tetapi, tanpa para prajurit itu ketahui, kejadian kejam ini, peperangan yang berhasil mereka menangkan, semua disaksikan oleh seorang bocah polos tidak berdosa.

Di dalam sebuah Goa pohon besar yang berlubang, bocah kecil itu memeluk tubuhnya yang gemetaran. Telapak tangan kanannya terkepal, menggenggam sebuah pisau kecil dengan kuat.

Pandangannya mengosong, mengawang mengingat kilas balik sebelum pamannya terbunuh dihadapannya;

"Simpanlah pisau ini!" itulah yang pamannya katakan saat itu. Tangan kanannya ditarik dan diserahi sebuah pisau agar ia genggam dengan erat hingga telapak tangannya terasa sakit.

"Seokjin, tetaplah bersembunyi di sini dan jangan pernah keluar sampai pertempuran ini berakhir. Apapun yang kau lihat, apapun yang kau dengar, apapun yang terjadi di luar sana, kau harus berada di dalam sini! Apa kau mengerti?"

Pamannya kembali memberi pengertian. Namun Seokjin kecil hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan penuh ketakutan.

"Paman Ensung, jangan tinggalkan Jinnie, Jinnie takut..." cicitnya, membuat sang paman menatapnya dengan iba.

"Seokjin, dengarkan paman. Paman harus pergi, paman harus mencari ibumu..." Pamannya mencengkeram lembut bahu kecilnya. Pria paruh baya itu tersenyum menenangkan agar Seokjin menghilangkan tangisnya. "Kau akan baik-baik saja, percayalah. Bertahan dan teruslah hidup... Kau masih bisa berjuang, paman yakin kau bisa."

Seokjin merasakan tepukan penuh sayang pada kepalanya, Pamannya tersenyum sekilas, lalu menarik tangannya dari pundak Seokjin dan berlari keluar tanpa berniat menoleh kembali.

Seokjin menatap nanar pada sosok sang paman yang mulai menghunuskan pedangnya berulang kali untuk menghindari serangan dari para prajurit yang menyerangnya. Pamannya berteriak memanggil-manggil ibu Seokjin sambil terus bertarung. Seokjin dapat sedikit lega ketika melihat sang ibu menghampiri pamannya dengan susah payah, namun secepat itu harapannya terkumpul, secepat itu juga impian Seokjin lenyap seketika.

Ia membekap mulutnya ketika melihat ibu dan pamannya di tusuk pedang oleh kedua prajurit berbeda tepat pada dada. Ibunya tumbang lebih dulu, sesaat matanya menatap Seokjin dengan penuh rasa lega ketika melihat anaknya mempunyai sedikit harapan untuk bertahan hidup dan selamat.

Kaki Seokjin kecil seketika menjadi lemas, ia tertuduk di antara tanah yang menjadi alas. Pamannya mengikuti ibunya tumbang dengan darah yang ngucur. Seokjin merasakan dadanya bergemuruh, pemandangan mengerikan ini dapat ia lihat dengan jelas.

"Ibu... Pa-man..." bisikan itu terdengar lirih disela isak tangisnya. Suaranya tercekat. Ia merasakan kepalanya berdenyut dengan nyeri, hingga kegelapan menenggelamkan kesadarannya dengan sempurna.

Singularity - TaeJin/KookJin [Historical FF]Where stories live. Discover now