01-Awal

41 10 6
                                        

Seorang gadis sedang berada di dalam kamarnya, kamar yang bernuansakan hitam putih yang hanya di terangi cahaya Bulan dan Bintang. Bukan, bukan tidak ada lampu atau belum membayar listrik melainkan sengaja gadis itu matikan lampunya karena memang dia lebih suka begitu, menurutnya gelap seperti itu lebih terlihat damai.

Sekarang sudah pukul 22.25, jam segitu masih terlalu sore untuk gadis itu, Yah dia Neyva gadis yang cantik menurut Papa, sahabat dan teman teman cowo disekolah nya. tapi tidak menurut Mamah, Kakak, dan temen teman cewe disekolah nya, menurut mereka wajah Neyva tidak terlalu cantik bahkan ada juga yang bilang dibawah standar, gatau lah ya mungkin mereka iri dengan kecantikan gadis itu.

Di kamar nya, Neyva hanya duduk diatas kasur dan menatap ke arah jendela, lebih tepatnya menatap ke arah bulan dan bintang bintang yang bertaburan diatas langit sana. Gadis itu curhat tentang semua yang terjadi hari ini kepada bulan dan bintang, sudah rutinitas gadis itu untuk selalu curhat kepada benda angkasa itu, dan jangan lupakan juga buku diary yang selalu dia ajak curhat bersama bulan dan bintang, semua kejadian yang menurutnya berkesan selalu gadis itu tulis dalam buku diary itu.

Tidak kerasa sudah pukul 01.53 tapi mata gadis itu belum juga merasa ngantuk. Neyva pun menyalakan lampu kamarnya dan berjalan kearah laci untuk mengambil foto masa kecil nya yang sedang tertawa bersama keluarga nya.

Dia....rindu

Ya dia rindu masa dimana gadis itu tidak pernah dibeda bedakan seperti sekarang oleh Mama dan Kakak perempuannya, rindu dimana dia selalu bermain bersama kakak nya, tertawa bersama Mamah dan Kakak nya, jalan jalan bersama mereka, pergi kerumah nenek dan kakek nya bersama. kenapa? kenapa hanya karena wajah gadis itu yang menurut mereka tidak sempurna, mereka langsung membenci nya, air mata Neyva pun turun membasahi pipinya tanpa izin, dia rindu itu.

diletakan nya kembali foto itu ditempat semula, Neyva pun berjalan kearah saklar lampu kamarnya untuk mematikan kembali lampu kamar itu, dan gadis itupun menuju ranjang tidurnya untuk membaringkan tubuhnya ke kasur queensize kesayangannya. Neyva memandangi langit langit kamarnya yang bergambar bintang bintang kecil itu, merenung, memikirkan hidupnya yang selalu sial. Memikirkan mengapa dia mempunyai wajah seperti ini, wajah yang selalu dimaki dan dibenci Mama, Kakak, dan teman teman cewe disekolah nya.

Memang benar tengah malem gini jam-jam nya sebagian orang selalu insecure atau overthiking. Tapi bagi Neyva mau tengah malem, mau pagi, mau siang tetap saja dia merasa insecure, tapi dia berusaha untuk selalu bersyukur.

Sudah pukul 02.12 Neyva pun merasa matanya memberat, gadis itu pun membenarkan letak bantal yang ingin dia pakai tidur agar terasa nyaman dan tidak terbangun, tidak lupa memeluk guling yang selalu setia menemani gadis itu tidur. Tidak butuh waktu lama gadis itupun sudah tertidur dengan pulas.

_________

Jam sudah menunjukkan pukul 06.11 hari ini awal Neyva masuk sekolah lagi setelah libur kenaikan kelas, gadis itu sekarang sudah menginjak kelas 11. Neyva harus lebih giat belajar lagi untuk mendapatkan juara satu disekolah nya agar kedua orang tuanya bangga kepada gadis itu.

Hari ini hari Senin Neyva sudah siap dengan pakaian sekolahnya tidak lupa memakai dasi dan membawa topinya. Bisa dibilang Neyva adalah gadis disiplin disekolah nya, dia tidak pernah membuat masalah, kecuali sahabatnya Arabelin, Ara itu orangnya bar bar ngomong blak balakan, pemberani pula. Kalo ada yang membully Neyva Ara lah orang pertama yang membelanya. ah Neyva sayang Ara banyak banyak.

Tok..tok..tok...

Pintu kamar gadis itupun diketuk dari luar oleh seseorang.

"Bentar." Neyva berjalan kearah pintu untuk membukakan pintunya dan ternyata yang mengetuk pintu tadi adalah Papa nya.

"Ayo kebawah Ney kita sarapan." Ajak Rino, Papa Neyva.

"Ah Papa duluan aja aku belum benerin rambut." Kata Neyva sambil memamerkan deretan gigi rapinya.

"Oke sayang Papa tunggu dibawah ya." Rino membalikan badan dan berjalan menuruni tangga untuk kembali kemeja makan.

Neyva setiap hari memang selalu kelihatan ceria, bahkan disaat dia sedang ada masalah besar pun dia tidak pernah menunjukan nya secara langsung, padahal sahabatnya selalu mengingatkan Neyva, jika ada masalah jangan dipendam sendiri apa gunanya dia sebagai sahabat kalo gadis itu tidak mau membagikan keluh kesahnya, gadis itu selalu kelihatan baik baik saja padahal aslinya tidak.

Neyva pun mengambil tas dan buku diary yang ada diatas meja belajarnya dan segera keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk sarapan bareng keluarganya, ya walaupun di meja makan dia seperti tidak dianggap. Dipertengahan tangga senyum Neyva mengembang melihat Papa, Mama, dan Kakak nya sedang tertawa bersama. Saat Neyva menginjakan kakinya ditangga terakhir Mama dan Kakak nya melihat dia pun langsung menghentikan tawanya.

Rino yang melihat Mama dan anak perempuannya yang paling besar menghentikan tawanya pun heran dan membalikkan tubuhnya setengah, karena memang posisi Rino sedang membelakangi Neyva, melihat ada Neyva berdiri dibelakangnya pun Rino langsung paham kenapa Mama dan Anaknya itu memberhentikan tawanya itu.

"Selamat pagi semua." Sapa Neyva tidak lupa dengan senyum cerianya. Walaupun tau sapaan nya ini tidak akan dibalas oleh Mama dan Kakak nya Neyva pun tidak pernah memudarkan senyumnya.

"Hallo putri Papa yang cantik selamat pagi juga sayang." Rino mengecup rambut Neyva, Neyva hanya membalasnya dengan senyuman. gadis itupun menyantap sarapan nya dengan lahap, sarapan Neyva hari ini hanya roti yang dibaluti selai coklat dan susu coklat kesukaannya.

"Neyva berangkat dulu ya semuanya." Neyva pun mendorong kursi yang diduduki nya kebelakang dan berdiri untuk menyalami tangan kedua orang tua dan Kakak nya itu, tapi waktu ingin mencium tangan Karin, Mama nya, wanita itu langsung berdiri dan segera pergi menuju kamarnya dan diikuti oleh Naya, Kakak nya.

Neyva hanya menatap kepergian Mama dan Kakak nya dengan tatapkan kecewa. "hmm Ney ayo Papa antar kamu ke sekolah" Rino tentu tidak tega melihat putri kecilnya selalu diabaikan oleh istri dan anak pertamanya itu, Rino sudah sering menegur istrinya untuk tidak bersikap seperti itu kepada putri kecilnya tapi istrinya itu keras kepala dia tidak suka diatur atur.

Neyva tersadar dari lamunannya dan menatap Papa nya yang sedang menatapnya juga "Eh gausah pah aku sendiri aja hehe." Tawa untuk menutupi luka, ya itulah Neyva hatinya sedang tidak baik baik saja tapi tetap saja terlihat ceria.

"Yasudah Papa antar sampe depan aja yu." Rino pun menarik tangan Neyva dan membawakan tas putri kecilnya itu sampai depan rumah.


Huh oke gaes ini cerita pertama akuuuu:(

Bantu aku yuk buat cerita ini, kalian tinggal baca aja kok biar aku juga semangat buat nge up nya😭

Jangan lupa komen sama vote nya yaa kalian yang bacaa, gratis kok boleh spam komen juga kalo mau wkwk.

Kamis 11 Febuari 2021.

DifferentWhere stories live. Discover now