Prolog

11 1 0
                                        

Melodi senja mengukir hati
Terhempas durjana hati yang menepi
Melodi berganti pagi
Merintih hingga memeluk sang pelangi
Ya, sang melodi dari origami
Menyesap sepi dalam balutan mentari
Menari, melodi!
Bebaskan perih hati

Hening menjadi kelabu, rahasia yang tercipta dari sebuah penyesalan memakan sepotong harapan hingga tak bersisa.

Neraka atau Surga?? Tidaklah mudah bagi keduanya tergapai. Tiada yang menginginkan neraka menjadi peraduan jiwa, melainkan surga yang menanti namun enggan membantah bahwa kau terlalu berbuat salah.

Firman Tuhan adalah penerang dalam setiap langkah, kekuatan bagi tubuh yang berjalan terseok-seok, dan nutrisi untuk jiwa yang dihakimi cobaan. Apalagi yang kau tanyakan?? Bukankah kau punya segalanya.

Itulah kenyataan bahwa apa yang kau miliki, hanya engkau jadikan kekurangan. Setiap cahaya yang ada pada dirimu sendiri bukan lagi menjadi penerang melainkan sebuah barang yang kau simpan.

Hari itu masih kembali terulang, harusnya siang tak sanggup membakarnya. Namun, kenyataan tetaplah kenyataan, tak lagi tersisa. Semua hilang dan lenyap diterjang emosi. Rasa pekat untuk mengasihi terganti amarah.

Ekspektasi mengajarkan jadilah yang terbaik, maka kau akan mendapatkan yang terbaik juga. Itu hanya sebuah untaian pikiran yang meracuni diri sendiri hingga tak berbekas. Alibi mulai timbul untuk melindungi diri, sang lisan tak acuh pada keadaan, serta emosi adalah tameng bahwa kau bukanlah yang terlemah.

"Jika saja, setitik hatimu dan harapanmu mengandung namaku, tidaklah aku harus pergi untuk melupakan diriku sendiri. Bukan aku yang salah atau kau yang menyalahkan diri, tetapi aku enggan lagi menjadi karpet yang selalu kau duduki namun sama sekali tak pernah kau rawat." ~ Origami

Itu yang terjadi, dirinya harus mengubah takdir agar tak pernah sia-sia dilahirkan. Kesalahannya bukan menjadi yang utama, tapi penyesalan selalu menjadi yang terberat. Hingga akhirnya beban tubuhmu saja, engkau tak kuasa menanggungnya. Hilang bersama harapan maupun ekspektasi yang kau sematkan pada dirinya. Ekspektasi yang membuat hidupmu indah dengan pemikiran bodoh itu.

Lalu pada akhirnya, apakah ada sebuah kebahagiaan?? Namun seharusnya berakhir dengan kesedihan. Hanya mengasihani mereka yang terpuruk tak cukup juga untuk membuat dirinya kuat. Dia butuh penopang, bukan kayu dari bambu bahkan jati. Sebuah penopang dari dalam maupun dari luar, yang memberikan daya untuk tetap melaju kala dihempas dengan begitu kuat.

Ya, penopang itu hadir ketika malamnya tak lagi sama. Ada setitik kebahagiaan yang berhasil iya gapai, bukan! Tetapi kebahagiaan itu menghampirinya. Mengantarkan untuk membuka pintu sebuah kebebasan. Mengantarkannya untuk menemukan kunci agar hidupnya lebih berarti. Bukan untuk dirinya sendiri, tak apa. Hanya untuk penopangnya kala senja.

You don't mean to be a problem

You don't mean to cause me pain

You don't mean to do much

But they're one and the same

I don't know where this came from









Like, coment, subscribe ya😅

ORIGAMIWhere stories live. Discover now