1 | Ini Tentang Raca

111 14 19
                                        

Katanya manusia diciptakan dengan sifat kertergantungan satu sama lain. Tidak ada yang dapat hidup sendirian tanpa ada manusia lain di edarnya. Sebab sejatinya manusia bukan Tuhan yang dapat berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun. Namun‚ siapa yang sangka bahwa gadis keras kepala ini seakan menentang hukum alam. Dia dengan segala penyifatannya itu menolak keras sesuatu yang bernamakan ‘sosialisasi’. Sebut saja ia congkak‚ tapi bukan tanpa sebab juga ia melakukan itu demi kesembuhan dirinya sendiri.

Sampai akhirnya Tuhan membawa seorang pemuda untuk masuk dalam radiusnya. Pada awalnya hanya menemani‚ hingga tanpa diketahui lebih dari apa yang diduga.

Manusia itu bernama Kadir Gahesa.

Pemuda yang perlahan-lahan mulai mengisi setiap kosong dalam hidup Qarraca Shakela Rinjani. Menyakiti dan membahagiakannya secara bersamaan.

° ° °

Gadis itu menutup pintu rumahnya setelah berpamitan kepada Bik Sumi‚ asisten rumahnya yang sudah menemaninya sedari kelas 3 SMP. Entah kenapa wanita paruh baya itu masih mau bertahan di sini‚ tapi Raca cukup bersyukur karena setiap ia pulang ke rumah‚ ia tidak pernah sendirian lagi.

Raca ini sebenarnya cantik‚ hanya saja ekspresinya selalu jutek dan datar membuat beberapa laki-laki yang ingin mendekatinya berpikir berulang kali. Suatu kesenangan tersendiri bagi Raca sebab ia juga tidak minat untuk menjalin hubungan kasih dengan siapapun itu. Kecuali ....

“Buruan!”

Dengan pemuda satu ini‚ Dirga. Pemuda yang sudah menemaninya sejak tujuh tahun ke belakang. Pemuda yang tidak pernah bisa ia tolak segala kebaikannya.

Raca mendengus lalu berlari kecil menuju gerbang rumahnya ketika mendengar teriakan Dirga dari luar gerbang. Gadis itu membuka gerbang‚ menemukan sosok pemuda dengan motor ninja hitam kebanggaannya.

“Lama amat‚” gerutu Dirga saat Raca berjalan menghampirinya. Pemuda itu menyodorkan helm berwarna putih kepada Raca.

Yang digerutui meringis kecil sambil tangannya bergerak memasang helm. Ia naik ke motor di belakang tubuh Dirga‚ lalu berpegangan pada tas yang disandang pemuda itu.

Dirga melajukan motornya meninggalkan rumah satu-satunya tempat Raca pulang. Gadis itu berpikir jika saja rumah itu diambil oleh saudara ayahnya‚ mungkin tidak ada lagi tempat yang mau menampung Raca dengan suka rela. Tidak ada rumah lain lagi yang mau menerimanya lapang dada‚ bahkan Dirga.

Sebab pemuda ini bukan miliknya ....

Kalau saja Raca bisa egois‚ mungkin segala tuntutan yang bersarang di hatinya akan ia luapkan kepada pemuda ini‚ juga kepada semesta. Mungkin bila Raca bisa egois‚ ia akan berterus terang perihal perasannya kepada Dirga. Lalu setelah itu tidak ada lagi beban yang teronggok di rongga dadanya.

Jantung Raca berdegup kencang saat motor Dirga sudah memasuki perkarangan sekolah menuju parkiran. Ia memerhatikan seisi sekolah yang masih lengang‚ membuat hembusan napas lega keluar dari mulutnya.

“Dah nyampe‚ jangan ngelamun mulu‚” tegur Dirga setelah motor terparkir sempurna di samping motor-motor yang lain.

Raca hanya diam sembari turun dari motor‚ lalu melepas helm-nya dan memberikannya kepada Dirga. Gadis itu hendak mendahului Dirga‚ tetapi langkahnya lekas dicegat pemuda itu.

“Lo nitip apa?” Pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh Dirga setiap mereka sampai di sekolah‚ dan itu membuat Raca senang karena diperhatikan.

“Tadi gue udah makan.”

“Makan angin.”

Raca menahan senyumnya. “Nitip roti.”

“Roti mulu lo.”

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 05, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

P l u t oWhere stories live. Discover now