Panggayuh Pilu

32 7 2
                                        

Terbakarnya kawasan hutan di daerah Nypa menimbulkan kepulan asap yang semakin pekat

Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.

Terbakarnya kawasan hutan di daerah Nypa menimbulkan kepulan asap yang semakin pekat. Akibatnya jarak pandang hanya sejauh dua puluh sampai tiga puluh meter dalam jangkauan. Sampai saat ini, petugas beserta relawan terus berupaya memadamkan api melalui darat maupun udara. Warga kini memilih untuk memberhentikan aktivitasnya dan lebih memilih untuk berdiam diri di rumah, hingga asap menipis. Kerugian yang ditafsir mencapai ang-

Berita yang tengah kutonton itu terhenti. Bukan, bukan karena penyiar berita itu yang menghentikan ucapannya, bukan juga karena hujan yang mengguyur malam ini beserta petir yang melengkapi, tapi karena ibu. Ya, ibu. Televisi yang tengah menampilkan berita malam itu dimatikan oleh ibu.

"Tidur Alfi, sudah malam, masuk ke kamarmu," ucap ibu dengan raut tegas yang menghiasinya, bersamaan dengan secangkir kopi di tangan kanannya. Tentu yang akan ia nikmati malam ini sembari menonton berita dengan ditemani guyur hujan.

Tak perlu waktu lama aku mengabulkan ucapannya. Dengan berat hati kuayunkan kedua kakiku melewati dirinya, agar mencapai tangga menuju kamarku di lantai dua. Bukan sekali dua kali rutinitas ini terjadi. Sudah berulang kali. Hampir setiap hari ibu akan datang membawa cangkir kopinya, lalu ia akan mengingatkanku mengenai jam malam dan mengomentari tayangan yang kutonton. Tanggapanku selalu sama, aku akan menghentakkan kaki saat bangun dari bangku dan tak lupa menampilkan wajah merengut. Yang tentu tak pernah digubris olehnya.

Memasuki kamar aku langsung menghempaskan diri di atas kasur. "Bagaimana bisa aku tertidur di saat aku penasaran dengan berita itu," sungutku. Sungguh, aku merasa dalam keadaan mood yang tidak baik saat ini. Aku hanya ingin menonton berita itu dan sekarang aku mengalami rasa penasaran yang sangat hebat, hingga membuatku jengkel dengan keadaan.

Argh, lagi-lagi seperti ini. Sudah kubilang kan sebelumnya, ini bukan pertama kalinya. Waktu itu aku pernah menanyakan mengenai jam malam, apakah bisa dikurangi sedikit? karena aku ingin menonton berita. Dan kalian tahu apa yang ibu jawab? Ibu menjawab seperti ini, "Jam malam itu digunakan agar tidurmu cukup dan untuk berita kamu itu masih terlalu kecil Alfi. Belum waktumu untuk mengetahui permasalahan orang dewasa." Sungguh, aku tak bisa mengerti dengan jawaban yang ibu berikan.

Ibu selalu melarangku menonton berita malam hari. Siapa yang masih kecil? usiaku sudah 14 tahun dan itu merupakan usia remaja di mana selangkah lagi aku akan memasuki dunia dewasa. Apa yang salah dengan berita malam? aku hanya akan menontonnya, hingga wanita penyiar itu menuntaskan kewajibannya. Setelah itu, aku akan masuk ke kamar dengan senang dan melupakan beritanya esok hari.

Menghela napas, aku ingin memperbaiki moodku. Ayo kita hilangkan kejengkelan ini, dengan mengalihkan pikiranku pada berita kebakaran tadi. Aku bangun dari tidurku, dan segera bergegas menuju meja belajar yang berada tepat di depan kasurku. Aku membuka buku kecil yang tergeletak di atas meja. Ya, ini kebiasaanku. Aku akan menulis kan setiap pertanyaan yang terlintas dalam pikiranku, agar aku tidak akan melupakannya, sehingga aku dapat mencari jawabannya hingga ketemu.

Kira-kira, mengapa kebakaran itu bisa terjadi, ya? ini aneh, di musim hujan seperti ini bagaimana bisa terjadi kebakaran? lantas, bagaimana dengan pohon-pohon dan hewan-hewan yang tinggal di dalam hutan itu? akankah mereka merasakan kesakitan? banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba muncul dan tanpa kusadari bukuku sudah penuh dengan pertanyaan. Tanpa satu pun jawaban.

Aku yakin, pertanyaan ini datang karena aku menyayangi tumbuhan. Bukan, bukan hanya menyayangi tumbuhan. Aku sangat menyayangi setiap makhluk hidup di bumi ini. Ya, menurutku mereka sangat luar biasa. Coba kau bayangkan, setiap hewan dengan segala kemampuan dan kehebatan yang masing-masing mereka miliki. Memikirkan banyaknya jenis hewan saja sudah membuatku sangat takjub dan ditambah dengan banyaknya jenis tumbuhan. Sungguh, bukankah itu luar biasa? membayangkannya saja sudah membuat jantungku berdegup cepat dan aku tak bisa mengontrol raut wajahku yang penuh dengan rasa antusias.

Bukan tanpa sebab aku menyayangi setiap makhluk hidup. Ibu selalu mengajarkanku untuk berbagi kasih dengan setiap makhluk hidup. Ingat sekali aku, ibu pernah berkata begini. "Manusia itu makhluk berakal, Alfi. Dengan akal yang ia miliki, ia harus tahu bahwa hewan dan tumbuhan ada untuk memberikan kehidupan pada manusia. Manusia, hewan, dan tumbuhan merupakan kesatuan mata rantai yang tak bisa dipisahkan, jika hancur salah satunya, maka akan hancur juga semuanya."

Setelah selesai dengan kata-katanya, ibu langsung menyuruhku untuk mencatatnya. Saat itu, aku yang baru memasuki sekolah dasar bingung, mengapa aku harus mencatatnya. Jawaban yang ibu berikan justru semakin membuatku bertanya-tanya. "Agar kamu bisa menjadi manusia seutuhnya, Alfi." Itu jawabannya.

Namun, pada akhirnya aku tetap mencatatnya, meski dengan bantuan ibu tentunya. Sekarang, kata-kata itu berada nyata tepat di tembok depan meja belajarku. Menempel dengan sangat sempurna.

Astaga, sudah pukul sebelas lewat, sebentar lagi ibu akan datang untuk mengecek keadaanku. Kalau kalian bingung bagaimana aku bisa mengetahui jadwal ibu mengecek, aku akan memberitahukannya pada kalian. Sstt, tapi ingat, ini rahasia. Jam malamku adalah jam sembilan dan aku akan menghabiskan waktu hingga jam sebelas malam dengan berbagai kegiatan, seperti menulis, menggambar, dan yang paling sering adalah membaca. Banyak buku mengenai tumbuhan hidup di rak bukuku, itu semua berkat ibu yang merupakan seorang Botanis. Jadi jangan terkejut jika suatu saat kalian datang ke rumahku, dan melihat begitu banyak tumbuhan di rumah.

Baiklah, aku tak mau membuang waktu. Aku segera beranjak kembali menuju kasur dan pergi menjemput mimpi indah, sebelum ditarik oleh kenyataan bahwa ibu sedang menaiki tangga depan kamarku.

 Aku segera beranjak kembali menuju kasur dan pergi menjemput mimpi indah, sebelum ditarik oleh kenyataan bahwa ibu sedang menaiki tangga depan kamarku

Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.


First Publish: February 2021
First Update: October 2021
Second Update: January 2024

Note:
Cerita ini Saya tulis saat awal SMA. Sebagai bentuk kemurkaan terhadap Pemerintah, mulai sekarang cerita ini tidak akan pernah diarsipkan kembali.

Jejak LangkahBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin