Tak semua hal ketenangan tentang kesendirian dan jauh dari keramaian
........
2 tahun menjalani masa sekolah yang bisa di bilang bukan gue banget. Awal masuk di sekolah ini pun gue merasa asing dan gue pikir bertahan paling lama 1 setengah tahun. Tapi ternyata ah.. sudahlah. Mama papa bersikeras menyekolahkanku di tempat ini. Alasan yang pasti agar anak nya paham agama.
Untuk alasan itu gue fine-fine aja, tapi gue harus dapet keuntungan makanya gue bikin sebuah perjanjian bahwa mereka gak akan ngatur masa depan gue ke depannya, sepenuhnya urusan gue mau jadi apa, dan minta mereka support dan biayain gue nantinya.
Karena menurut gue sebanding dengan keinginan mereka, gue harus sekolah di Madrasah Aliyah ini dituntut buat ikhlas lillahi ta'ala tapi memang ikhlas tak semudah mengucap di lisan jadi orang tua gue hanya meminta untuk menuntut ilmu di Madrasah ini sampe selesai.
Satu hal lagi..
Terlihat mencolok bahkan sempurna dalam penilaian orang lain.
No... no... it's not me.
Prioritas utama gue adalah kenyamanan bukan kesempurnaan.
Jilbab yang di gantung di sisi bahu, rok celana muslimah, sepatu converse monochrome hitam putih dan benda yang tidak bisa tertinggal yaitu Jam tangan dan headset. Mungkin orang lain menandai gue seperti 'she's a freak' . Karena kebanyakan remaja seusia gue lebih fokus dengan penampilan. Tak heran jika prioritas mereka adalah dandan dengan gaya fashionable atau tampil anggun dan wajah glow up. Gue selalu membayangkan apa yang mereka bawa jauh berbeda dengan apa yang gue bawa. Ya seperti teman-teman gue wanita pada umumnya. Sebuah bross untuk menambah keanggunan tampilan berjilbab, rok yang memperlihatkan kefeminimannya, sepatu pantofel siswi, serta parfum dan bedak yang harus ada dalam tasnya.
Sebenarnya bukan tak mampu, tapi kembali kepada prioritas utama.
"Kenyamanan"
Gue merasa nggak nyaman menjadi sebuah sorotan banyak orang yang pada jamannya kecantikan wajah dan fisik di agung-agungkan. Gue nggak suka hidup banyak aturan yang nggak berdasar. Selama gaya hidup dan penampilan gue di manapun termasuk sekolah tidak menyalahi aturan atau masih dalam aturan, menurut gue gak ada yang salah dengan semua itu, namun gue harus menyeimbangkan gaya penampilan dengan sekolah umum yang berbasic agama ini.
****
Ameera Anjani Husein, salah satu siswi dari kelas XI IPA 2 di salah satu Madrasah Aliyah Negeri Jakarta.
Tidak berprestasi tapi di banggakan, tidak pintar tapi disayang.
Duduk bersandar di taman belakang sekolah memang kebiasaan yang Ameera lakukan pada jam istirahat kedua.
Lagu 'At My Worst-Pink Sweat$' berputar melalui headset yang di pasang di kedua telinganya, di temani satu gelas pop ice rasa taro (talas).
'Ini terasa menyejukkan' Gumamnya
Namun nikmat itu tak berlangsung lama. Ameera merupakan gadis yang suka akan ketenangan namun tak semua hal ketenangan tentang kesendirian. Ameera punya banyak teman, namun ada waktunya hukum introvert itu berlaku.
Ssruppt..
Seseorang meminum pop ice yang sedari tadi di sampingnya.
"Minuman gue!!" Sontak Meera langsung melotot ke arah orang itu, namun enggan protes setelah tau siapa yang merebut minumnya. Hanya memutar bola mata yang dia lakukan.
"Enak sih tapi heran juga, gak bosen minum rasa taro mulu?" dengan tingkah tanpa dosa nya, kemudian duduk sambil merangkul pundak Meera.
.
.
.
Kira- kira siapa dia? Di awal cerita, perkenalannya singkat dan abstrak kan. Makanya jangan lupa vote ya biar aku semangat dan next ada kelanjutan lebih detail. Dan jangan lupa juga kasih saran dan masukan karena masih di tahap belajar.
*Tetap jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan yang utama ya*
KAMU SEDANG MEMBACA
3T (Titik Terbaik menurut Takdir)
Fiksi RemajaAmeera Anjani Husein, gadis yang dibesarkan dikeluarga yang sangat berkecukupan. Baginya tidak ada hal yang terpenting kecuali keluarga dan persahabatan. Namun pemikiran ini bisa di bantahkan seiring berjalannya waktu dan lika-liku perjalanan yang i...
