satu

73 8 2
                                        

17:03

"Hah... Tugas sial." Aku mengumpat seraya menutup buku catatan di sisi kiri laptopku dengan kasar. Ini menyebalkan, betul-betul menyebalkan. Walaupun Aku sudah menyelesaikannya, tanpa diduga dosen Doutjen memberiku tugas lain. Dan demi Tuhan! Aku ini mahasiwi baru!

"Hauh~ sial. Kalau begini terus, kapan aku punya waktu untukku sendiri?" Aku melenguh sembari menyandarkan punggungku pada sandaran kursi kayu yang keras, dan memejamkan mataku dengan kepala agak menengadah ke arah jendela.

Saat terus mengeluhkan tugas yang selalu datang tiap hari, mendadak saja aku menyesal. Aku menyesal masuk kuliah. Jadi mahasiswi itu menyebalkan. Biar aku beritahu, kau pasti tidak akan kuat dan bisa muntah membayangkan tugas demi tugas yang datang tepat saat kau masuk kelas.

Bagaimana? Pasti tertekan, bukan? Jelas.

Tetapi, seberat apapun kehidupan mahasiwi, aku tetap harus menjalaninya. Aku harus bertahan. Kenapa? Aku punya mimpi yang harus dikejar.

Ah, omong-omong, aku Xela Elske. Sebut saja aku Xela. Aku tidak tahu siapa yang berikan nama itu untukku. Dan aku juga tidak tahu apa artinya. Intinya, namaku Xela.

Potongan rambutku sebahu, aku mempunyai tahi lalat di atas bibi kiri dan juga di hidung. Tahi lalatnya tidak timbul, hanya seperti sebuah hiasan dan itupun kecil.

Vibe-ku adalah kasual, feminim bukan tidak bisa atau tidak cocok. Tapi aku lebih nyaman dengan kasual.

Ting!

Mendengar bunyi dentingan yang sangat kukenal, mataku dengan perlahan terbuka. Dan begitu membaca notifikasi yang muncul di layar monitor laptopku, lagi-lagi aku mengeluh. "Shit."

Sembari menarik diri—tak lagi bersandar dari sandaran kursi, aku meniup dahi, seolah-olah meniup poni yang padahal, rambut lurus cokelatku yang dipotong sebahu ini sama sekali tidak berponi.

Saat ini aku butuh ketenangan, barang kali sebentar saja. Tapi, terkadang aku justru tidak bisa tenang kalau aku menunda tugas. Meskipun aku mengumpat dengan tugas-tugas itu, aku tidak mau tugas itu terlalu menumpuk. Aku akan selesaikan sebelum hari deadline tiba.

"Hah! Oke! Ayo selesaikan ini!" Aku bertekad, mengangguk mantap sembari meletakkan jari-jemariku di atas keyboard.

"Oke~" Aku berkata pada diriku sendiri tanpa mengalihkan mata cokelat terangku yang tajam. Sesekali, karena cuaca diluar terasa jauh lebih dingin, dan penghangat ruangan tidak begitu terasa, hidungku yang tidak mancung tapi tidak juga pesek ini sering bersin hingga memerah.

"Hachu! Earghh.. Shit." Aku menggeram dengan tangan berhenti di atas keyboard.

"Sial. Aku jadi nggak bisa fokus. Ah, tidak. Pikiranku jadi kalut." Aku menggerutu pada diriku sendiri, lalu menghela napas panjang sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi yang keras.

Dengan kepala yang menengadah ke arah jendela yang tertutup rapat, pandanganku mengawang.

"Aku pikir, aku butuh sesuatu." Aku bergumam. "Mungkin.. cokelat panas ide yang bagus?"

Dan mengangguk menjawab pertanyaanku sendiri. "Yea. Ayo kita tenangkan pikiran."

Aku mulai bangkit dari kursi. Setelah menutup laptop dan tak lupa menyimpan file terlebih dahulu, aku berbalik, melangkahkan kakiku yang jenjang ini menuju pintu kayu yang dipoles cokelat dan keluar dari kamar.

Dengan langkah yang malas, aku menuruni anak tangga satu persatu menuju dapur yang sepi karena ibu sedang bekerja. Sesekali aku menguap sembari mengusap tengkuk dengan tangan kiriku. Sementara tanganku yang lain ini mulai menekan stop kontak guna menghidupkan ceret listrik, yang sudah terisi air di atas meja dapur setinggi pinggangku, tepat di hadapanku.

Xela Elske Where stories live. Discover now