Happy Sunday....
Happy reading....
"Sekarang lo jadi cewek gue!" tegas Adit menarik tangan cewek yang masih melahap kentang goreng.
"Lo bilang apa tadi?" tanya Bintang sembari membuang bungkusan.
"Lo ikut gue sekarang" bohong Adit mengalih pada kata yang tepat.
"Kemana?"
"Ke rumah gue. Ayo" kata Adit dengan tegas dengan genggaman yang sangat kuat di tangan Bintang.
"Gue enggak mau" Bintang berusaha melepaskan genggaman laki-laki yang sedang menatapnya sekarang. "Lepasin Dit, gue enggak mau berurusan sama keluarga lo" Bintang masih berusaha.
"Bantu gue Bi, gue enggak ada siapa-siapa selain lo. Cuman lo jalan keluar gue sekarang. Gue enggak mau dijodohin sama Gea, cewek protektif itu." Adit memohon.
"Lepasin gue. Adit!"
"Bi, gue akan lepasin lo kalau lo mau ikut gue ke rumah."
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Bintang menyetujui permintaan Adit untuk menemaninya.
Tangannya pun terasa ringan setelah di lepas dari genggam oleh Adit.
Darahnya mulai mengalir ke sela-sela organ.
"Bagus. Ayo beb" sudut bibir pria itu terangkat. Mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Bintang.
"Beb?" Bintang mengangkat alis kebingungan.
"Emang enggak boleh? Lo kan jomblo."
"Gue single"
"Sama aja Bi"
"Beda Dit"
Keduanya terus berdebat sampai di depan garasi kantor Adit.
Adit mempersilahkan gadis itu untuk memasuki mobilnya bak permaisuri.
Memang iya, gadis itu cantik dan menarik.
"Makasih ya,Bi. Lo u---"
"Jangan banyak omong. Buruan atau gue berubah pikiran" potong Bintang agar Adit tidak banyak bicara karena dirinya tidak mau berdebat.
Adit mengangguk pelan lalu menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.
°°°
Suasana rumah sangat ramai dengan kedatangan keluarga Gea yang siap menjodohkan Adit dengan gadis bernama Gea Anastasia.
Terdengar klakson mobil dari garasi, semuanya beranjak keluar rumah menyambut kedatangan Adit.
Tapi, dengan sejenak wajahnya bingung dengan seorang gadis yang dirangkul pria itu. Mereka saling bertatapan dengan muka tanda tanya.
"Ada apa ini? Kenapa anakmu menduakan anak saya?" tanya Dian, ibu Gea dengan wajah kesal.
"Tan, siapa cewek itu? Kok mereka lengket banget?" Gea bersuara.
"Tanya aja sama anaknya" jawab Roni, ayah dari Adit santai.
"Adit!" suara Gea membuat Adit mendongak ke arah gadis itu. "Itu siapa?" tanya Gea terus terang.
"Calon istri gue. Ya, kan beb?" jawab Adit dengan bangga dan menanyakan kepastiannya kepada Bintang.
"Hah?! Calon is---" ucapan Bintang terpotong dengan tangan Adit yang menutupinya.
"Ikut aja" bisik Adit.
"Beneran itu calon istri lo? Kok selama ini enggak ajak ke rumah?" tanya Afla adik Adit mencari tahu.
"Emm... Soalnya di.. dia malu" jawab Adit berbohong.
"Sudah sudah, bukannya diajak masuk malah berdebat" Aya, ibu Adit menengahkan perdebatan antara mereka.
Mereka pun masuk dan mengambil duduknya masing-masing. Adit dan Bintang masih bergandengan tangan membuat keluarga Gea dan keluarganya risih melihatnya, kecuali Roni ia mendukung anaknya tidak menikah dengan Gea.
Roni mengacungkan jempol kepada Adit tanpa dilihat oleh istrinya.
Keadaan tiba-tiba hening dengan tatapan berpusat pada pasangan Adit dan Bintang.
Tanpa aba-aba, Gea pergi dengan perasaan yang kecewa terhadap keluarga Adit. Keluarganya pun mengikuti Gea pergi dari tempat itu.
Tatapan tajam Aya bertahan di tempat Adit. Ingin dirinya meremuk wajah Adit habis-habisan, tapi putranya sudah tua. Tak pantas memukulnya seperti Afla yang nakal bak anak Dajjal.
"Dit, gue enggak enak sama nyokap dan bokap lo. Kayaknya mereka enggak suka sama gue." bisik Bintang cemas.
"Tenang aja, kan ada gue" Adit menyemangati gadis itu dengan memgeluskan tangannya.
"Najis lo, jangan elus elus tangan gue" sentak Bintang.
"Kan, sekarang lo jadi calon istri gue. Jadi, nyonya Adit Tenggara."
"Idihhhh mimpi kali lo"
"Gue enggak mimpi Bi, gue akan nikahin lo."
"Terserah"
Adit hanya tersenyum sambil menatap lekat wajah Bintang yang diukir dengan hidung yang mancung, warna kulit yang putih dan bentukkan wajah yang khas. Sungguh indah dipandang kayak pemandangan.
Tapi, ini indah dan cantik.
"Adit! Sini kamu" Aya menarik tangan Adit dengan tatapan tajam tanpa memperdulikan gadis disampingnya.
"Ngapain, ma?" tanya pria itu berkerut kening.
"Sini ikut mama, sebentar" suara mulai naik.
"Jangan ditarik ginilah, ma. Macam anak kecil aja." ledek Adit menurunkan suasana.
Bintang hanya diam menyaksikan pembicaraan ibu dan anaknya.
"Gue tinggalin dulu enggak apa-apa, kan beb?" tanya Adit sok romantis.
Bintang lagi-lagi hanya diam mengangguk kepala pelan.
"Beb bub bib bibaibbebabbab, apaan tu? Pake pamitan segala. Ayo Adit!" Emosi Aya mulai meluap.
"Mama enggak tau Beb? sayang ma sayang." jelas Adit dengan penuh kebancian.
"Banyak omong kamu" singkat Aya. "Ayo Dit, ikut mama" Aya menarik tangan Adit dengan kuat sekarang.
"I..y..ya, ma" jawab Adit dengan menahan genggam ibunya.
Bintang hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua orang di depannya sekarang. Bukannya tambah tegang malah lawak.
Akhirnya Adit mengikuti perintah ibunya dan meninggalkan Bintang di ruang tamu.
Dasar keluarga Pak Shomat. Bintang membatin.
✓
Nanti baru dilanjutin part-nya
Jangan lupa tinggalkan jejak
YOU ARE READING
Great thing
General Fiction[FOLLOW SEBELUM DIBACA] Apa aku harus menjadi langit biar deket sama Bintang? Awalnya hubungan antara Bintang dan Adit berjalan seperti biasa. Hubungan yang diawali dengan calon istri bohongannya Adit Tenggara. Bintang Pelita seorang wanita single y...
