Bab 1 Hukuman

263 48 20
                                        


Orang yang awalnya menyebalkan
Bisa jadi berubah menjadi orang yang paling kita inginkan

****

"Adhara! Ke mana saja kamu? Kenapa baru datang?" tanyanya dengan suara yang begitu tegas dan mengintimidasi. Membuat Adhara berhenti dan membeku di tempatnya. "Masuk! Berdiri di depan!" perintahnya.

Kini gadis itu sudah berdiri kikuk di depan teman-temannya. Ada yang tidak peduli dengan kehadirannya, ada juga yang berbisik-bisik yang mungkin sedang membicarakan dirinya. Bu Mike mulai berjalan mendekati Adhara, sesekali ia membenarkan letak kacamatanya.

"Kenapa baru datang? Sudah bosan dengan pelajaran saya?" tanyanya saat sudah berada di hadapan Adhara.

"Anu, Bu. Tadi saya ada perkumpulan ekskul dan saya lupa kalau ada ulangan," jawabnya dengan suara pelan dan sedikit gugup.

"Lebih penting mana pelajaran dan ekstrakurikuler? Mau nilai kamu saya kosongkan? Kamu terlalu sering bolos di pelajaran saya!" tegasnya membuat Adhara sedikit panik. Ia tidak mau sampai nilainya kosong apalagi tidak naik kelas.

"Jangan, Bu. Saya janji tidak akan terlambat masuk pelajaran, Ibu."

"Sekali lagi kamu korbankan pelajaran saya demi ekskul kamu itu, nilai kamu saya kosongkan!" Bu Mike memperingatkan lalu dia melanjutkan, "ini juga pelajaran untuk yang lain! Prioritaskan belajar dibandingkan hal lain!"

Semua siswa di dalam kelas itu hanya diam dan memilih fokus pada ulangan mereka. Sementara Adhara masih bingung apa yang harus ia lakukan. Bu Mike tidak menyuruhnya duduk sama sekali, kakinya mulai terasa kebas karena dia habis berlari tadi.

"Kembali ke tempat kamu, dan ini ambil kertas ulangannya. Kerjakan sekarang!" perintahnya sembari memberikan dua lembar kertas yang berisi soal-soal matematika. Adhara mengambil kertas itu dan mulai berjalan ke kursinya.

Adhara menghela napas berusaha menerima kejadian barusan, karena memang ini juga kesalahannya yang tidak ingat waktu sampai ia mengorbankan pelajarannya demi ekskulnya. Namun, tidak bisa dipungkiri Adhara memang mencintai ekskulnya.

"Yang sabar, ya, Ra." Seseorang tiba-tiba bersuara membuat Adhara menoleh. Gadis itu adalah Keysa—teman sebangku sekaligus sahabatnya. Adhara hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Kemudian, ia mulai fokus pada ulangan, meskipun sudah jelas ia kesulitan karena Adhara sama sekali tidak menyukai matematika yang membuat kepalanya pusing deretan angka, dan bilangan berpangkat yang sama sekali tidak ia mengerti.

Seolah mengerti kesulitan temannya, Keysa menyodorkan kertas ulangan miliknya. "Buruan lihat aja jawaban gue, Ra. Nanti Bu Mike keburu lihat," bisiknya pada Adhara. Senyum mulai tercetak manis di bibirnya, Adhara memang memiliki Keysa sebagai penolongnya di saat-saat seperti ini. Tanpa berpikir panjang lagi Adhara mengisi ulangan miliknya sesuai jawaban Keysa.

"Oke! Waktunya sudah habis. Aditya, kumpulkan kertas ulangannya dan berikan pada saya sekarang," pinta Bu Mike pada Aditya—ketua kelas di kelas Adhara. Hal itu membuat Adhara tersentak, dia belum selesai menyalin semua jawaban Keysa. Gerakan tangannya berusaha ia percepat diiringi gerakan matanya yang melihat jawaban Keysa.

"Cepet, Ra. Itu si Adit udah mau jalan ke barisan kita." Keysa mulai panik saat melihat Aditya mulai berjalan ke arah barisan kursi mereka.

"Iya, bentaran dong, Key. Ini tangan gue juga lagi gue gaspool," bisik Adhara pada Keysa.

"Sini kertas ulangannya." Suara berat dan dingin itu sudah mulai menyentuh telinga mereka.

Don't Watch Me Cry ✔  [Terbit]Stories to obsess over. Discover now