[Now playing: Forever rain by RM]
***
Aku terbangun dari tidurku saat suara rintik hujan memenuhi pendengaranku. Aku menarik napas dan menahannya sejenak sebelum akhirnya menghembuskannya bersama dengan air mata di pipi. Mengapa hujan turun di tengah malam?
Tubuhku bergerak menjauhi ranjang menuju balkon kamar ini. Hujan membuat malam lebih dingin dari sebelumnya. Aku menarik kursi di kamar dan membawanya keluar bersamaku. Hujan datang dengan sangat tenang. Tidak ada angin kencang. Tidak ada petir menyeramkan. Hanya tetesan air yang semakin lama semakin banyak. Malam ini aku menikmatinya dengan air mata. Tanpa coklat panas. Tanpa melodi yang mesra. Tanpa kamu.
"Kenapa orang menyukai hujan?" tanyaku saat itu. Saat hujanku masih ditemani coklat panas. Masih ada melodi mesra yang menyertai derai hujan. Masih ada kamu.
"Kenapa kamu nggak suka hujan?" daripada menjawab, entah mengapa kamu memang selalu senang menimpali pertanyaanku dengan pertanyaan.
"Kebiasaan!" sungutku membuatmu terkekeh. Tidak ada yang kita bicarakan selama beberapa waktu. Kita sama-sama terfokus pada coklat panas yang menghangatkan dan suara hujan yang bersautan.
"Hujan..." bisikmu memecah keheningan. Aku hanya menoleh sebentar sebelum akhirnya kembali menatap derai hujan. Jika diingat, hari itu sangat dingin bukan? "Kata orang ada kenangan yang datang bersama hujan," lanjutmu.
"Katamu?"
"Ada kenangan yang datang bersama hujan."
"Sama dong! Nggak kreatif!" protesku. Kamu hanya tersenyum.
"Percaya nggak, aku pernah hujan-hujanan sambil nangis?" aku terkekeh geli sambil membayangkan sosokmu berada di tengah hujan yang sedang ku tatap.
"Sinetron!"
"Bener...." Senyum simpul terbit di sudut bibirmu. Senyum indah yang entah kapan akan musnah dari ingatanku. "Pas lagi keadaan seneng kayak gini, rasanya sinetron banget. Dan lebay. Tapi kalo lagi sedih banget, rasanya pengen ulangin lagi. By the way, nggak cuma sekali aku ngelakuin itu." Aku tersenyum paham. Kamu memang selalu menjadi sosok yang melow.
"Waktu itu yang aku pikirin cuma aku pengen nangis tapi nggak tau gimana caranya nangis. Aku pengen cerita tapi nggak tau harus cerita ke siapa. Jadi aku ambil kunci motor, keliling kota, berenti di taman dan hujan deras. Semesta memperkenalkanku dengan cara sinetron bekerja." Kamu terkekeh. Aku tidak.
"Kenapa nggak pernah mau percaya sama aku?"
"Bukan nggak percaya. Waktu dan pikiranmu terlalu berharga untuk memikirkan hal-hal nggak berhargaku."
Sampai detik ini, aku tetap tidak mengerti mengapa kamu selalu beranggapan bahwa dirimu dan masalahmu tidak berharga.
Dibawah siraman hujan yang sangat deras ini, aku ingin bertanya, bagaimana kabarmu?
Kabarku tidak baik-baik saja. Mungkin kau benar. Aku harus mencoba menangis di bawah hujan. Aku tidak bisa memutuskan lebih menyedihkan mana aku yang menangis sendirian seperti ini atau aku yang mengaburkan air mata dengan air hujan. Atau apakah kata yang lebih tepat adalah 'lebih menenangkan yang mana'?
Apa yang salah dengan hubunganku dan hujan? Kenangannya indah namun mengapa aku mengingatnya dengan luka?
***
Semalam aku tertidur di balkon kamar di atas kursi, tempatku menatap hujan. Entah bagaimana ceritanya hingga aku tertidur dalam posisi yang tidak nyaman untuk tidur. Badanku sakit secara keseluruhan. Mengikuti batinku yang sudah runtuh. Petir adalah sesuatu yang akhirnya membangunkan ku. Entah sejak kapan hujan yang tenang berubah menjadi badai. Yang aku lakukan setelah terbangun hanyalah menatap sejenak air hujan yang terbawa angin lalu masuk dan membaringkan tubuhku secara acak di ranjang. Kemudian, tak butuh waktu lama hingga aku kembali terlelap.
YOU ARE READING
Aku, Kamu, dan Hujan
Short Story[1/1] Apa yang salah dengan hubunganku dan hujan? Kenangannya indah, namun mengapa aku mengingatnya dengan luka? [Depok, 8 Januari 2021]
